Posted by: effanzulfiqar | July 20, 2011

Balada Syamsul Arifin: Sang Sahabat Semua Orang

Akhirnya Gubenur Sumatera Utara non aktif Syamsul Arifin  sebagaimana yang diberitakan Waspada tanggal  12 Juni yang masih dalam kondisi kritis dipindahkan ke RS Abdi Waluyo setelah terbaring di ruang ICU RS Jatung Harapan Kita lebih dari seminggu. Pemindahan ke RS Abdi Waluyo tersebut karena tidak ada izin dari PN Jakarta Pusat dan RS Abdi Waluyo untuk sementara dianggap mampu mengatasi indikasi komplikasi penyakit dalam yang makin memperburuk kesehatannya.  Sepertinya PN Jakarata Pusat  punya pertimbangan sendiri untuk tidak memberi izin kepada Syamsul  berobat ke Singapura. Padahal dalam kondisi yang demikian jelas pertimbangan kemanusiaan semestinya lebih dikedepankan.

Sejak masuk RS Jantung Harapan Kita banyak pembesuk yang datang silih berganti melihat beliau yang masih dalam keadaan koma. Syamsul memang boleh dikatakan orang yang tak pernah menyakiti orang dan selalu membuat orang ketawak dengan “benyolan” spontan khas beliau yang kadang terasa “konyol. Tapi itulah Syamsul yang terkesan tidak pernah bersikap berpura-pura, apa adanya, polos dan ceplos-ceplos begitu saja. Sikap yang beliau tunjukan sehari-hari sebagai seoarang birokrat sejak menjabat Bupati Langkat samapi menjadi Gubernur Sumut, memang sangat bertolak belakang dengan banyak pajabat birokrasi yang terkesan sangat kaku, formal, sok wibawa dan selalu menjaga jarak.

Tulisan ini tidak akan membahas kasus korupsi yang menyeret beliau, karena  diduga telah melakukan korupsi APBD Kabupaten Langkat TA 2000-2007 semasa menjabat sebagai Bupati Langkat sebesar Rp 102,7 miliar dan telah mengembalikan uang sebesar Rp.67 miliar ke kas Negara. Tulisan ini hanya mencoba mengungkapkan beberapa hal yang menurut hemat penulis perlu menjadi teladan bagi semua aparat di Sumut terlepas dari kasus yang menimpa beliau.

Semua orang tahu bawa beliau pada saat menjalani pemerikasaan di KPK, Syamsul datang sendiri dengan penampilannya yang sederhana, memakai baju putif motif garis biru, tanpa pengawal, tanpa keluarga, tanpa ajudan dan tanpa pengacara. Benar-benar memang khas Syamsul, bahkan menurut kabarnya, penyidik KPK sempat merasa kesulitan memeriksanya lantaran ia “ngeyel” terus dan susah diatur. Apa yang diperlihatkanya pada saat diperiksa KPK dengan datang sendiri tanpa ada yang menemani, sesungguhnya ia ingin mengatakan bahwa ia bertanggungjawab dengan apa yang dituduhkan kepadanya dengan tidak harus melibatkan orang lain.

Sejak ditetapkan menjadi tersangka, ia sepertinya memang tidak pernah merasa terganggu dalam melaksanakan tugas-tugasnya sebagai Gubernur Sumut. Biasa saja. Bahkan terkesan beliau tidak hirau dengan apa yang menimpanya. Sepertinya ia ingin tunjukkan bahwa penetapannya sebagai tersangka tak ada kaitannya dengan tugasnya sebagai kepala daerah. Artinya semua ia biarkan seperti air mengalir –  tak ada masalah baginya, ia bekerja seperti biasa dan tidak terganggu dengan penetapannya sebagai tersangka.

Kita harus akui ternyata di tengah-tengah kebiasaannya yang suka “guyon”, ia sosok yang tidak mau mencampur adukan permasalahan pribadinya sebagai tersangka dan dalam kapasitasnya  sebagai seorang kepala daerah. Dia tidak “lebay”, apalagi bersafari curhat ke sana ke mari menceritakan apa yang dialaminya. Ia biasa saja tetap dengan guyonon-guyonon khasnya dalam setiap pertemuan resmi atau tidak resmi. Satu lagi yang tak ketinggalan “senyum” khasnya selalu diperlihatkan, sehingga kelihatan  giginya yang putih dan kebiasannya pake sepatu tanpa kaos kaki.

Kalaulah benar memang apa yang pernah dikatakannya soal ketidak harmonisannya dengan wakilnya. Memang terasa sangat naïf. Mungkin orang tidak akan kenal Gatot Pujo Nugroho bila tidak berpasangan dengan Syamsul Arifin pada saat pencalonan Gubernur.  Sampai dengan penahanannya, menurut pengakuannya komunikasi tetap dilakukan dengan wakilnya selama dalam tahanan tapi tidak ada respon. Bahkan menurut penuturan Syamsul sendiri bahwa dirinya ketika dalam tahanan belum menerima surat penonaktifan dirinya atau pengangkatan Gatot sebagai pelaksana tugas Gubsu. Beliau mengaku tahu dirinya sudah non aktif hanya lewat media. Terasa janggal memang dan tidak etis  bila benar seperti itu kejadiannya.

Syamsul Arifin yang manatan Ketua KNPI Sumut tersebut dalam perjalanannya sebagai kader Golkar tidak pernah berniat meninggalkan Golkar meski pernah dipecat dari Golkar karena mencalonkan diri sebagai calon Gubernur Sumut. Pada waktu itu Golkar sudah mencalokan Ketua Golkar Sumut Ali Umri. Syamsul Arifin kemudian mencalon menjadi Gubernur Sumut lewat dukungan koalisi 11 partai diantaranya PPP, PKS, PBB. Ternyata Syamsul Arifin- Gatot Pujonugroho yang dikenal dengan pasangan Syampurno sukses memenangkan Pemilukada Sumut dengan mengalahkan calon dari Partai Golkar sendiri. Yang sangat luar biasa, kemudian beliau terpilih menjadi Ketua DPD Golkar Sumut secara “aklamasi” padahal ia pernah dipecat dari Golkar karena dianggap “membelot”. Sepertinya memang Golkar harus menjilat ludahnya kembali dengan memilih Syamsul sebagai ketua.

Ketika beliau tersandung kasus korupsi APBD Langkat dan ditetapkan sebagai tersanka, Syamsul Arifin kemudian  dinon aktifkan oleh DPP Golkar sebagai Ketua Golkar Sumut sampai selesainya kasus yang menimpa beliau. Padahal di awal-awal penahanan beliau Golkar sepertinya ingin tetap mempertahankan dan membela beliau. Siapa bisa mengira Syamsul kemudian dinon aktifkan. Meskipun sudah non aktif sebagai ketua sama sekali beliau tidak marah dengan mengerahkan masaa pendukungnya untuk memprotes keputusan DPP Golkar atau melakukan upaya-upaya yang sifatnya pembelaan diri. Sepertinya Syamsul  sangat patuh dengan keputusan tersebut dan lebih banyak diam terkait dengan kasus penonaktifannya sebagai Ketua Golkar Sumut.

Itulah Syamsul Arifin sosok politikus dan birokrat yang rada-rada aneh yang selalu ingin menerobos sekat-sekat birokrasi dan formalisme sebagaimana yang selama ini menjangkiti hampir semua level birokrasi kita. Ia tidak terpaku dalam aturan-aturan protokeler sebagai gubernur yang terkadang justru menyebabkan hilangnya substansi idealnya sebagai pemimpin di tengah-tengah komunitasnya. Sepertinya Syamsul mencoba membuang juah-jauh sikap birokratis dan formalisme ketika ia berhadapan  dengan masyarakat atau bawahannya. Hampir tak ada jarak antara dia dengan bawahan dan masyarakat. Selayaknya kita bisa belajar dengan sikap-sikap beliau di tengah-tengah semakin terasingnnya rakyat dari pemimpinnya.

Hal lain yang patut dicatat dari beliau adalah sikap “koperatif” yang ditunjukkannya sejak penetapannya jadi tersangka. Tidak ada niatan beliau menjadi pura-pura sakit kemudian minta untuk berobat ke luar negeri sebagaimana banyak dipertontonkan banyak tersangka korupsi di negeri ini. Bahkan pada saat penahanan ia masih menunjukkan ketegaran dengan apa yang menimpanya dengan mengatakan bahwa apa yang dialaminya merupakan resiko seorang pemimpin. Katanya : “Ini risiko seorang pemimpin”

Syamsul Arifin juga orang yang bisa berkomunikasi dengan menggunakan bahasa rakyat biasa, bukan bahasa pejabat yang terkadang tidak dimengerti atau bahkan sengaja membuat orang yang mendengar jadi bingung. Atau suka bica berputar-putar tak jelas substansinya. Syamsul sepertinya tidak berkomunikasi dengan menggunakan bahasa pejabat tapi lebih banyak menggunakan bahasa rakyat biasa. Di mata saya kalaupun saya belum pernah ketemu dengan beliau, Ia adalah tipikal seorang pemimpin yang sangat familiar, terbuka, persuasif, akomodatif,  dan selalu menghindari terjadinya konflik terbuka dengan siapa saja. Sangat sulit mencari tipikal pemimpin seperti Syamsul Arifin dengan segala kekurangannya di negeri ini, apalagi di Sumut. Kini Syamsul Arifin terbaring dalam kondisi kritis. Semoga kesembuhan bisa menyertai beliau sang sahabat semua suku – sahabat semua orang. Amin.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: