Posted by: effanzulfiqar | July 20, 2011

Otonomi Jalan Berlobang di Padangsidimpuan

Kota Padangsidimpuan diresmikan sebagai daerah otonom sembilan tahun yang lalu, yakni 17 Oktober 2001.  Sembilan tahun sudah usianya. Ada pencapaian yang menggembirakan tapi lebih banyak hal-hal yang sangat tidak menggembirakan diusianya yang kesembilan.

Menurut Djohermansyah, Ditjen Otonomi Daerah – Kementerian Dalam Negeri RI, ada empat  hal  yang  menjadi  tolak ukur dalam mengevaluasi daerah hasil pemekaran, yaitu kesejahteraan masyarakat, tata pemerintahan yang baik, pelayanan publik, dan daya saing. Pertanyaannya apakah Kota Padangsidimpuan sebagai daerah pemekaran telah memenuhi keempat indikator tersebut?

Banyak permasalahan yang muncul mendera Pemerintah Kota Salak, begitu julukan Kota Padangsidimpuan, terutama dalam 3 tahun terakhir masa kepemimpinan Walikota Drs. Zulkarnaen Nasution.  Mulai dari masalah dugaan korupsi; kinerja  SKPD yang tidak maksimal dalam menjalakan tugas dan fungsinya; pendapatan daerah yang makin menciut; pelayanan birokrasi yang belum maksimal dan buruknya infrastruktur.

Bahkan orang sering menyidir prestasi kota ini hanya sebatas “mutasi”. Memutasikan  orang dari satu SKPD ke SKPD yang lain. Dari satu eselon ke eselon yang lain. Dan anehnya orang yang dimutasi hanya itu ke situ saja orangnya. Tak ada yang pencapaian dalam kinerja aparat pemerintahan meskipun mutasi terus berlangsung.

Padahal di awal berdirinya Kota Padangsidimpuan Walikota secara jelas menyebutkan “visinya adalah untuk meningkatakan peranan Kota Padangsidimpuan sebagai pusat kemajuan, khususnya dalam bidang pendidikan dan ekonomi. Dimana  misi  utama beliau adalah meningkatkan sarana dan prasarana pendidikan” . Begitu yang disampaikan walikota dalam sambutannya di buku “Pemerintah Kota Padangsidimpuan Menghadapi Tantangana Zaman”, yang ditulis Basyral Hamidy Harahap.

Semestinya Kota Padangsidimpuan bisa menjadi kota pendidikan dan ekonomi (baca perdagangan dan bisnis), karena memang memiliki potensi dan prospek untuk itu  sebagaimana kota-kota lain yang ada di republik ini, dapat maju dan berkembang pesat dengan hanya memfokuskan diri pada pengembangan bidang pendidikan dan ekonomi.

Sayangnya, Pemerintah Daerah sepertinya tidak fokus dan serius untuk menggarap kedua bidang tersebut.  Terkesan hanya sebatas wancana saja, tapi tidak ada implementasi nyata untuk mewujudkan visi dan misi tersebut. Kalau boleh dikatakan kota pendidikan yang sering didegung-dengungkan itu hanya masih pada tataran teori bukan kenyataan.

Kita tidak tahu apa yang salah dengan perencanaan dan pembangunan Kota Padangsidimpuan. Sejatinyanya dengan usia sembilan tahun, kota yang dialiri Sungai Batang Ayumi yang dari hari kehari makin keruh airnya- sudah bisa menjadi kota yang mandiri dengan infrastruktur yang lebih baik dan pelayanan dasar yang prima.

Sedangkan keinginan untuk menjadikan kota ini sebagai pusat kemajuan dalam bidang pendidikan dan ekonomi sama sekali tidak terwujudkan. Sebagai pusat ekonomi, yakni perdagangan dan bisnis tidak juga jelas bagaimana konkritnya dalam perencanaan dan pengembangannya.

Pusat pasar yang mestinya menjadi transaksi perdagangan dan bisnis berubah menjadi tempat parkir beca mesin atau angkot. Pedagang informal berjualan di mana saja. Apakah itu dengan menggunakan trotoar jalan, emperen toko dan  badan jalan tidak terlalu penting bagi mereka (lihat sepajang Jalan Thamrin, Jalan Patrice Lumumba sampai Pajak Daging dan sekitarnya).

Tidak ada keteraturan dan kenyamanan yang menunjukan identitasnya sebagai sebuah pusat  kota. Jorok, kotor dan semerawut itu kesan yang muncul mungkin bagi para pendatang yang baru pertama kali menginjakkan kakinya  di kota ini. Untuk menyebut Kota Padangsidimpuan  sebagai pusat  perdagangan dan bisnis dengan kondisi yang demikian sungguh tidak layak rasanya.

Disisi lain yang paling menyedihkan adalah kondisi infrastruktur yang sudah tidak layak bagi sebuah daerah yang berstatus sebagai “kota”. Bagaimana mungkin infrastruktur jalan yang sangat vital di inti kota rusak berat dan mengancam nyawa pengguna jalan dibiarkan begitu saja. Jalan Iman Bonjol dan S.M. Raja sekalipun itu merupakan jalan Negara tidak semestinya dibiarkan rusak dengan kondisi berlobang-lobang. Padahal jalan tersebut merupakan jalan vital yang berada di wilayah inti kota.

Demikian juga jalan-jalan lain yang tidak termasuk jalan negara kondisinya sama saja. Tidak layak sebagai jalan untuk sebuah kota. Sangat tidak elok rasanya Pemko Padangsidimpuan merasa bangga dengan status sebagai terbaik dalam Kelola Keuangan tapi gagal dalam mengelola infrastruktur yang jelas-jelas terkait dengan kepentingan dan keselamatan nyawa banyak orang.

Sangat disayangkan memang bila Pemko Padangsidimpuan tidak perduli dengan kondisi infrastruktur yang demikian rusaknya. Lalu kemana semua pajak kenderaan bermotor yang dibayar oleh masyarakat Kota Padangsidimpuan setiap tahunnya? Aneh memang rasanya. Atau seperti inilah cara Kota Padangsidimpuan berotonomi dengan jalan berlobang-lobang?  Saya sebagai warga kota sering merasa malu kalau ditanya teman-teman sesama orang kampus yang datang dari luar daerah soal buruknya kondisi infrastruktur kota Padangsidupan.

Padahal filosofis implementasi otonomi daerah sebagaimana diatur dalam UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah untuk kebutuhan dan kepentingan publik semata, yakni peningkatan  pelayanan dan kesejahteraan masyarakat .

Kita berharap diakhir masa kepemimpinan Pak Zul selaku Walikota yang tinggal 2 tahun lagi akan bisa melahirkan gebrakan nyata untuk memperbaiki infrastruktur di wilayah Kota Padangsidimpuan.. Pak Zul dipilih hampir 50,67% masyarakat Kota Padangsidimpuan sudah semestinya beliau dapat menjawab harapan-harapan masyarakat ketika memilih beliau dan wakilnya dalam Pilkada  15 November 2007 tiga tahun yang lalu.

Harapan saya DPRD Kota Padangsidimpuan semestinya dapat lebih pro aktif dalam melaksanakan fungsinya untuk melakukan check and balances terhadap jalannya roda pemerintahan, pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat. Semoga.

(Tulisan ini pertama kali dimuat di harian WASPADA, Rabu 18 Mei 2011)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: