Posted by: effanzulfiqar | January 8, 2012

Mahasiswa Tawuran..?? Memalukan..!!

Dalam dua bulan terakhir ini dunia mahasiswa kita sepertinya sedang ketagihan tawuran antar fakultas. Lihat saja tawuran yang baru saja terjadi antara mahasiswa di kampus Universitas Sumatera Utara (USU) tanggal 1 November 2011, yang melibatkan mahasiswa Fakultas Teknik dan Fakultas Pertanian. Permasalahannya juga hanya sepele yakni adanya kasus pemukulan terhadap mahasiswa Fakultas Pertanian yang dilakukan mahasiswa Fakultas Teknik saat akan mengikuti ujian mid semester.

Sebelumnya tanggal 3 Oktober 2011 yang lewat  tawuran antar mahasiswa terjadi di Universitas Negeri Gorontalo di Gorontalo. Tawuran kali ini melibatkan mahasiswa Fakultas Teknik dan Fakultas Pertanian. Jumlah mahasiswa yang terlibat tawuran diperkirakan lebih dari ratusan orang. Hasilnya gedung Fakultas Pertanian habis ludes dimakan api. Permasalahannya juga sepele saja, yakni saling ejek mengejek.

Pada tanggal 21 September 2011 tawuran juga pecah antara mahasiswa di kampus Universitas Lampung (Unila). Tawuran pada saat wisuda ini melibatkan para mahasiswa Fakultas Teknik dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Aksi tawuran ini dipicu rebutan jalan untuk arak-arakan acara wisuda yang berakibat saling senggol antara mahasiswa kedua fakultas

Sebelumnya tanggal 12 September 2011 pernah juga terjadi tawuran antar mahasiswa di kampus Universitas Hasanuddin (Unhas) antara Fakultas Teknik dengan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik  di Makasar, 12 September 2011.  Sedangkan tawuran antar universitas yang berbeda sebelumnya pernah  terjadi antara mahasiswa Universitas Persada Yayasan Administrasi Indonesia dan Universitas Kristen Indonesia di Jakarta. Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin versus mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Muslim Indonesia di Makassar, dan antara mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Negeri Nusa Cendana versus mahasiswa Politeknik Pertanian Negeri Kupang di Kupang.

Tawuran, baik yang melibatkan kampung, pelajar dan  mahasiswa merupakan salah satu bentuk kekerasan fisik dan fakta sosial yang terus berkembang dan terjadi di tengah-tengah komunitas yang sesungguhnya hidup dalam lingkungan sosial yang sama. Tawuran yang terjadi melibatkan banyak orang dalam bentuk dan modus yang berbeda. Sepertinya tawuran yang terjadi  dari waktu ke waktu bukannya berkurang frekuensinya tapi sepertinya  meningkat. Korban sudah banyak berjatuhan dan banyak orang dirugikan karena terjadinya aksi tawuran.

Yang sangat disanyangkan aksi tawuran tersebut bukan lagi melulu hanya dilakukan warga antar kampung atau satu kampung. Atau tawuran yang melibatkan pelajar sebagaimana yang ramai terjadi. Kini tawuran sudah melibatkan kelompok orang yang disebut dengan kaum akademisi. Kalangan terpelajar yang menyebut dirinya sebagai kelompok mahasiswa, sudah ikutan-ikutan terlibat tawuran. Sangat memalukan memang bila yang tawuran adalah mahasiswa. Tukang beca saja tidak pernah terdengar kabaranya terlibat tawuran. Kok mahasiswa bisa tawuran?

Tawuran yang terjadi antara mahasiswa di beberapa kampus belakangan ini merupakan wujud fenomena delikuensi situasional yang mendorong mereka spontan melakukan tawuran sekalipun kadang yang menjadi sumber masalah sangat sepele. Dalam perspektif sosiologi, tawuran antara mahasiswa disebabkan adanya pemahaman yang sempit dalam melihat keberadaan kelompoknya  sebagai  in group dan orang di luar kelompoknya dipandang sebagai sebuah out group yang menganut nilai-nilai yang berbeda sekalipun berada dalam satu kelompok sosial yang sama, yakni universitas.

Adanya juga pemahaman yang salah soal solidaritas antara mahasiswa dalam setiap fakultas yang menyebabkan lebih kuatnya pemaknahan solidaritas dalam arti sempit. Solidaritas dimaknai sebagai urusan kita bersama dan harus kita selesaikan secara bersama-sama. Kuatnya ego antar fakultas juga turut menjadi pendorong terjadinya tawuran karena satu sama lain merasa lebih hebat dari fakultas lain.

Faktor lain  yang menjadi pemicu tawuran antar mahasiswa karena lingkungan kampus tidak bisa lagi menyediakan ruang untuk berdialog dan berkomunikasi di antara mahasiswa yang berbeda fakultas. Artinya adanya semacam sekat-sekat sosial yang dibangun secara tidak sadar oleh kalangan civitas akademika di tingkat fakultas di antara mahasiswa yang berbeda fakultas.

Hal yang demikian ini menyebabkan sulit untuk melakukan dialog dan  komunikasi. Kohesi sosial yang seharusnya bisa diciptakan antara mahasiswa yang berbeda  fakultas, justru tidak terwujudkan yang terjadi adalah ego yang melihat fakultas lain sebagai out group yang berbeda satu sama sama lain sekalipun berada dalam universitas yang sama.

Sejatinya, semua gejala-gejala yang dapat memicu terjadinya tawuran dalam sebuah universitas apalagi yang bersifat destruktif hendaknya sejak awal dapat diantisipasi oleh semua pimpinan universitas. Sangat memalukan rasanya bila mahasiswa yang dianggap sebagai kelompok intelektual masih lebih mengandalkan otot dari pada otak dalam menyelesaikan masalah. Di samping itu bisa dikatakan bahwa tawuran yang terjadi antara mahasiswa dalam satu universitas sesungguhnya lebih menunjukan adanya sesuatu yang tidak sehat sedang terjadi di lingkungan kampus dalam proses interaksi di antara mahasiswa yang beda fakultas.

Sangat diharapkan adanya keefektifan dan keberlanjutan pembinaan dan penguatan nilai-nilai sosial yang bisa membangun rasa kebersamaan, soliditas dan solidaritas di kalangan mahasiswa dan bukan sebaliknya muncul kebersamaan. soliditas dan solidaritas yang dimaknai secara sempit yang hanya melihat kelompoknya sebagai sebuah in group yang menganut nilai-nilai yang berbeda dengan kelompok lainnya sekalipun mereka berada dalam sebuah komunitas besar yang disebut dengan universitas. Sepanjang persepsi yang melihat kelompoknya (fakultasnya) sebagai sebuah in group dan fakultas lain sebagai sebuah out group, maka akan  mudah menyulut terjadinya tawuran antara mahasiswa yang berbeda fakultas.

Universitas sebagai sebuah rumah besar seharusnya bisa lebih mendorong pembinaan mahasiswa kearah yang lebih mengkuatkan rasa kebersamaan, soliditas dan solidaritas yang mampu mewujudkan kesamaan pandang bahwa sesunggunhya kampus merupakan tempat tinggal komunitas akademik yang berisi civitas akademika yang sama-sama bertanggungjawab untuk menjaga kondusifnya lingkungan kampus sebagai pusat pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat.

Dialog dan komunikasi yang terus menerus yang melibatkan semua civitas akademika harus mampu ditumbuh kembangkan di lingkungan kampus sehingga tidak terjadi lagi gap komunikasi dan pandangan in group dan out group di antara mahasiswa yang berbeda fakultas. Pemahamanan yang lebih menekankan kepada terbangunnya semangat dan nilai-nilai kebersamaan, soliditas dan solidaritas dalam sebuah rumah besar yang disebut dengan universitas seharusnya telah tertaman dalam diri setiap civitas akademika.

Hubungan yang didasarkan kepada semangat gemeinschaft meminjam teori sosiolog Jerman Ferdinand Tonnies menjadi sesuatu yang sangat penting artinya untuk dipupuk terus sehingga terwujudkan hubungan ikatan batin yang kuat, murni dan bersifat kekal dalam rangka mewujudkan esprit de corps di antara semua warga kampus.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: