Posted by: effanzulfiqar | January 8, 2012

Mewaspadai Banjir Badang di Tapsel dan Madina

Banjir Bandang di Indonesia sudah terlalu sering terjadi dengan korban yang tidak sedikit, baik korban jiwa ataupun harta. Sepertinya peristiwa banjir bandang tersebut hampir terjadi tiap tahun akibat  musim hujan yang  terus menerus. Banjir bandang biasanya terjadi secara tiba-tiba. Banjir badang muncul saat terjadi penjenuhan air terhadap tanah  dan ini berlangsung dengan sangat cepat.

Curah hujan yang terus menerus yang tidak dapat diserap oleh tanah akan berkumpul semua di tempat dengan permukaan rendah yang kemudian  mengalir dengan cepat ke daerah yang lebih rendah lagi. Akibatnya, semua yang dilalui oleh gelombang air besar tersebut akan menyapu dan menguras habis apa saja yang dilewatinya.

Kita masih ingat  betapa dasyatnya  peristiwa banjir bandang yang terjadi di Wasior, Teluk Wondama, Papua Barat pada Oktober 2010. Korban meninggal mencapai 153 orang, sedangkan 146 orang hilang, 165 orang luka berat, dan 2.393 orang luka ringan. Kerugian akibat bencana ini sekitar Rp 382 miliar. Januari 2006 banjir bandang juga terjadi di Jember yang menewaskan 59 orang. Pada November 2003 banjir bandang hebat juga terjadi di Bukit Lawang Kabupaten Langkat yang memporak poradakan semua fasilitas parawisata dan korban yang 80 orang meninggal.

Berdasarkan catatan WALHI, selama enam tahun terakhir 85 persen bencana yang terjadi merupakan bencana ekologis yang ditandai dengan tanah longsor, banjir dan banjir bandang. Jadi bukan hanya sekadar bencana alam belaka seperti yang selalu menjadi statemen pemerintah bila terjadi bencana banjir dan banjir bandang, kekeringan dan tanah longsor. Semua yang terjadi merupakan gambaran sedang berlangsungnya krisis ekologis secara luas dan massive yang  menghasilkan bencana ekologis pula akibat terjadinya aktivitas manusia yang berlebihan dalam menguras habis sumber daya alam.

Dalam skala kecil banjir bandang yang terjadi sudah tidak terhitung lagi di negeri ini dengan korban jiwa dan harta yang tidak sedikit. Untuk kawasan wilayah Sumatera Utara daerah yang paling rawan terjadi banjir bandang adalah Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) dan Kabupaten Mandailing Natal (Madina). Di Kabupaten Madina September 2009 banjir bandang melanda enam desa di Kecamatan Muara Batang Gadis dan menewaskan lebih dari 15 orang disamping yang diperkirakan lebih dari 25 orang hilang.

Banjir badang tersebut terjadi karena meluapnya Sungai Sulangaling yang merupakan anak sungai Muara Batang Gadis. Banjir bandang yang terjadi juga disebabkan oleh rusaknya ekologi hutan dihulu sungai dan terjadinya perubahan wilayah resepan air di banyak tempat menjadi lahan perkebunan sawit dan pembalakan liar yang masih terus berlanjut di hulu sungai dan kawasan hutan penyangga di sekitarnya.  Pada April 2010 terjadi juga banjir bandang di Kabupaten Tapsel yang menewaskan 3 orang di Kecamatan Tano Tombangan Angkola. Padahal sungai yang meluap yang menyebabkan terjadinya banjir bandang adalah sungai kecil yang ada di tengah-tengah desa tersebut.

Dari hasil hasil survey lapangan yang pernah penulis lakukan terhadap kejadian banjir bandang di Madina dan Tapsel ternyata material lumpur, pasir, batu dan potongan-potongan kayu balok/gelondongan sebesar rumah yang hanyut dibawah air bandang berasal dari hulu sungai. Potongan-potongan balok-balok kayu tersebut berasal dari sisa-sisa pohon-pohon yang ditebang di hulu sungai. Di hulu sungai yang selama ini menjadi wilayah hutan untuk resevan air ternyata telah ditebangi pohon-pohonya dan sebagaian besar dikonversi menjadi kebun-kebun yang ditanami dengan tanaman yang akarnya tidak memiliki kemampuan untuk menyerap atau menyimpan air hujan yang berlebih pada saat musim hujan.

Habisnya wilayah-wilayah yang selama ini menjadi resepan air pada saat terjadi hujan deras menjadi salah satu faktor utama penyebab terjadinya banjir termasuk banjir bandang yang pernah terjadi di wilayah Madina dan Tapsel. Sebagaimana diketahui bahwa kawasan hutan terluas di Sumatera Utara terdapat di kedua wilayah ini. Sayangnya Pemerintah Daerah sepertinya belum pernah sadar bahwa banjir yang terjadi sekarang ini adalah karena rusaknya ekologi hutan di hulu sungai. Bukan karena faktor cuaca tapi sesungguhnya lebih dominan karena kerusakan ekololgis di sekitar kawasan hutan yang selama ini menjadi daerah resepan air. Termasuk karena perubahan fungsi daerah resepan air menjadi daerah hunian dan pembukaan lahan-lahan  perkebunan kelapa sawit.

Banjir yang terjadi baru-baru ini di Desa Sihepeng  adalah karena rusaknya kawasan resevan air di hulu sungai Aek Badan yang membelah desa Sihepeng. Demikian juga banjir yang terjadi di Kelurahan Simangambat, Desa Tangga bosi, Lumban Pinasa dan Desa Huraba I di Kecamatan Siabu karena meluapnya sungai Aek Latong (Waspada, 3-16 November 2011). Didugas keras penyebabnya banjir adalah karena pembalakan hutan yang masih terus terjadi di Tor Siancing yang melingkupi kawasan  hutan sekitar wilayah Kecamatan Siabu dan Lembah Bukit Malintang. Banjir yang terjadi jelas berpeluang akan menyebabkan terjadinya banjir badang bila kerusakan yang terjadi dihulu sungai tidak secepatnya ditanggulangi.

Faktanya, sampai hari ini perambahan hutan dan illegal loging masing terus terjadi di kedua wilayah di Kabupaten Tapsel dan Madinat. Padahal semua kita tahu bahwa persaolan mendasar dari terjadinya bencana banjir dan banjir bandang adalah kerena kerusakan hutan di wilayah hulu. Ketika hutan musnah, tidak hanya flora dan fauna yang hilang, tapi juga telah menyebabkan terjadinya rentetan bencana banjir, banjir bandang, tanah longsor dan kekeringan yang telah menelan korban jiwa dan kerugian material. Dan ini yang bakalan terjadi di Madina dan Tapsel bila tidak secepatnya dilakukan penanganan yang serius terhadap kerusakan hutan yang terjadi.

Pemerintah dan pemerintah daerah sebenarnya turut menjadi penyebab dan pendorong terjadinya kerusakan hutan di dua daerah tersebut. Misalnya dalam peralihan fungsi hutan yang pada awalnya dijadikan sebagai daerah resepan air tiba-tiba dengan alasan yang tidak jelas memberi izin untuk mengkonversinya menjadi wilayah hunian atau menjadi lahan perkebunan sawit.

Kebijakan pemberian izin pertambangan di hutan lindung sebagaimana yang terjadi di Madina kepada PT. Sorik Marapi Mas Mining (SMM) merupakan sesuatu yang salah besar. Padahal kita semua tahu bahwa hutan lindung secara hukum harus dilindungi dan bukan sebaliknya dieksploitasi. Yang kemudian keberadaan SMM ini telah menjadi sumber konflik yang berkepanjangan sampai hari ini di Madina terutama dengan masyarakat.

Sekali lagi tetap faktor manusia paling dominan sebagai penyebab terjadinya bencana ekologis. Adanya faktor manusia sebagai penyebab terjadinya berbagai bencana diperkuat dengan  pembenaran berdasarkan laporan dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) Working Group I yang dikeluarkan pada 2 Februari 2007 di Paris, Perancis, yang menyebutkan,  munculnya berbagai bencana di berbagai belahan dunia disebabkan adanya perubahan iklim akibat dari beragam aktivitas manusia.

Kita berharap memang bila terjadi lagi banjir bandang atau banjir, Pemerintah dan Pemerintah Daerah tidak mestinya hanya sebatas berbondong-bodong datang ke wilayah banjir dan memberikan bantuan sumbangan sambil berfhoto-fhoto ria menjadi seleberitis di mass media dan mengeluarkan pernyataan penyebab banjir sebagai sebuah peristiwa alam dan menyalahkan hujan yang terus menerus turun. Atau sekedar bersibuk-sibuk membuat posko tanggap darurat Sedangkan apa yang menjadi substansinya masalah penyebab banjir yakni rusaknya ekologi hutan tidak pernah tersentuh dan terselesaikan dengan baik.

Disadari memang selama ini bahwa lemahnya pengawasan dari aparat negara dan lemahnya penegakan hukum menyebabkan berlanjutnya keruskan lingkungan yang terus menerus. Pemerintah sudah semestinya bisa melakukan tindakan nyata dengan melakukan penyelamatan lingkungan, terutama kawasan hutan yang selama ini menjadi wilayah resepan air. Tanpa tindakan nyata untuk  memperbaiki dan meningkatkan kualitas ekologi. Maka bencana banjir akan terus menghantui di dua Kabupaten tersebut.

Jika yang dilakukan hanya penanggulangan sesaat seperti  sekarang, yakni hanya menanggulangi bencana saja. Jelas,  tidak akan pernah bisa mengatasi akar masalah. Hari ini mungkin masih banjir tapi kita tidak tahu besok, seminggu lagi, bulan depan atau tahun depan akan bisa terjadi banjir bandang di kedua wilayah tersebut karena potensi untuk terjadinya banjir bandang sangat besar.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: