Posted by: effanzulfiqar | February 6, 2012

Tabrakan Maut dan Nasib Pejalan Kaki

Tanggal 22 Januari 2012, Minggu pagi yang cerah pukul 11.00 tiba-tiba berubah menjadi  tragedi yang berkepanjangan sembilan orang pejalan kaki meninggal dunia dan tiga orang luka-luka tertabrak mobil ketika sedang berjalan kaki di trotoar di Jalan Ridwan Rais – Gambir, persis di depan kantor Kementerian Perdagangan. Tragedi penabrakan tersebut jelas bukan sekadar musibah. Pelaku tabrakan maut tersebut bernama Apriani Susanti (AS). Bersamanya dalam mobil Xenia B 2479 XI, masih ada tiga temanya. Ternyata AS masih dalam kodisi  mabuk ketika menyetir mobil dengan kecepatan tinggi.

Faktor kelalaian dari AS, jelas menjadi faktor terjadinya tabrakan maut. Dimana sebelumnya AS bersama kawan-kawannya sejak jam 2 sampai 10 berpesta minuman keras. Artinya minuman keras yang diteguk beserta ekstasi menjadi perantara maut bagi sembilan orang korban pejalan kaki yang tak berdosa pada hari Minggu pagi kelabu tersebut. Pejalan kaki memang paling rentan terhadap kemungkinan terserempet dan tertabrak sekalipun berada di trotoar. Karena memang hak-hak pejalan kaki di negeri ini belum menjadi sesuatu yang dianggap terlalu penting.

Hebatnya,  AS sama sekali tidak memiliki SIM, yang katanya sejak tahun 2003 sudah tidak punya lagi. Mobil yang dikenderainya juga tidak memiliki STNK alias bodong. Bagaimana mungkin seorang AS yang berpendidikan tinggi dalam keadaan mabuk. Tak punya SIM dan tidak memiliki STNK masih berani membawa kenderaan? Luar biasa memang.

Jika orang-orang yang berpendidikan saja berani mengendarai kendaraan tanpa punya SIM dan STNK. Bagaimana pula dengan para sopir angkutan umum yang rata-rata pendidikannya rendah.  Tentunya akan lebih parah lagi. Jadi, tidak heran bila para sopir angkutan umum tidak merasa takut sendikitpun untuk mengemudikan kenderaan meskipun tanpa SIM dan STNK.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk mengurai kembali kronologis peristiwa maut yang terasa sangat mengiris hati setiap orang yang mendegar ceritanya. Yang pasti apa yang terjadi pada Hari Minggu  22 Januari 2012 seharusnya bisa menjadi pelajaran paling pahit bagi kita semua dan bisa membangkitkan kesadaran kita betapa tidak berharganya nyawa penjalan kaki di negeri ini dari ancaman maut perilaku buruk pengendara mobil. Sembilan nyawa melayang sia-sia dan rasa-rasanya kalau ancaman hukum bagi pelaku hanya 6 tahun sesuatu yang terasa sangat tidak adil bagi keluarga korban yang ditinggalkan.                                                                 

Kesadaran yang rendah                                                                                                                  

Kesadaran masyarakat Indonesia dalam berkendaraan masih sangat rendah. Lihat saja,  jalanan raya sering dijadikan arena kebut-kebutan. Perilaku ugal-ugalan, ngebut seperti di kejar setan  dan melakukan zig zag memotong kendaraan lain sudah jamak terjadi di jalanan umum yang dilakukan oleh para supir kenderaan umum atau pribadi. Semuanya sama saja, sama-sama tidak merasa sayang pada nyawanya atau nyawa orang lain. Sang supir sepertinya punya nyawa cadangan ketika melarikan kenderaannya dengan kecepatan tinggi. Akibatnya hampir setiap hari terjadi kecelakaan dan nyawa melayang sia-sia. Korbannya kebanyakan  para pejalan kaki yang diserempet, ditabrak atau dilindas.

Undang-undang  tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan menegaskan bahwa pejalan kaki menjadi prioritas yang harus didahulukan. Ternyata di negeri ini orang yang menyeberang di zebra cross saja lebih sering dag-dig-dug karena takut tiba-tiba diserempet pengedara yang memang suka menerebos zebra cross. Kita tidak tahu apakah mereka yang punya SIM memang tidak mengetahui bahwa pejalan kaki harus di dahulukan apalagi di zebra cross?

Padahal kita semua tahu diseluruh dunia peraturannya jelas, termasuk di negeri ini kenderaan bermotor  harus mengalah untuk pejalan kaki dimanapun, konon lagi di zebra cross. Faktanya, sopan santun berlalu lintas dan menghargai pejalan kaki sudah tidak ada lagi.  Kita sering mendengar perkataan bahwa perilaku di jalan raya merupakan cermin dari peradaban suatu bangsa?  Lalu kita ini sebenarnya sudah seperti apa peradabannya, ketika nyawa orang kita anggap sama saja dengan nyawa seekor ayam?

Nasib pejalan kaki

Negeri ini juga tidak memperdulikan pentingnya trotoar sebagai fasilitas bagi penjalan kaki. Trotoar adalah jalur pejalan kaki yang umumnya sejajar dengan jalan dan lebih tinggi dari permukaan perkerasan jalan untuk menjamin keamanan para pejalan kaki. Di Amerika Serikat jalur pejalan kaki ini disebut dengan sidewalk. Walk bermakna di jalan ada jalur khusus bagi para pejalan kaki. Trotoar ini biasanya memiliki tinggi 30 cm dari permukaan jalur kenderaan dan berada di kikiri kanan sisi jalan besar dengan lebar 2-3 cm. Hampir di seluruh kota-kota yang ada di negara maju, jalur ini wajib hukumnya dibuat pada saat pembangunan jalan dan memang diperuntukan khusus bagi para pejalan kaki.

Anehnya di negeri ini trotoar sudah berubah fungsinya. Bagaimana mungkin trotoar yang seharusnya diperuntukan bagi penjalan kaki. Kini dengan seenaknya digunakan untuk kepentingan berjualan banyak pedagang kali lima (PKL)  atau di jadikan sebagai tempat parkir kenderaan bermotor dan berbagai aktivitas lainnya yang akhirnya menghambat akses bagi publik yang semestinya bisa digunakannya sebagai jalur paling aman untuk berjalan kaki.

Disinyalir  keberanian para PKL dan sejumlah orang yang membuat parkir liar di jalur pejalan kaki dan trotoar mendapatkan izin. Artinya tidak mungkin PKL berani berjualan di bahu jalan kalau tidak ada yang membekingi atau memberi izin tentunya dengan  membayar sejumlah uang. Sepertinya  ada semacam pembiaran secara sistematis yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah (Pemda) atas maraknya penyalahgunaan ruang publik tersebut. Dan ini sudah menjadi gejala umum di semua kota di negeri ini.

PKL sendiri menganggap trotoar adalah sebuah ruang kosong yang layak dimamfaatkan untuk melakukan berbagai aktivitas. Sementara oknum-oknum Pemda juga melihat hal tersebut sebagai sesuatu yang akan memberikan keuntungan secara pribadi dengan adanya semacam pungutan  uang retribusi, yang kita tidak tahu kemana mengalirnya uang tersebut.

Karena trotoar yang seharusnya diperuntukan bagi penjalan kaki yang kini dipergunakan oleh PKL dan berbagai macam aktivitas, maka terpaksa para pejalan kaki menggunakan jalur kenderaan bermotor dengan resiko sewaktu-waktu bisa diserempet, ditabrak dan digilas yang menyebabkan luka-luka atau kematian. Kondisi yang demikian ini sudah merupakan hal yang lazim terjadi di kota-kota besar di negeri ini. Bahkan sepeda bermotor dengan seenaknya bisa tiba-tiba nyelonong memasuki trotoar dan terkadang dengan sengaja membunyikan klakson dengan keras-keras untuk mengusir para pejalan kaki.

Pemerintah, khusnya Pemda menjadi pihak yang paling bertanggung jawab untuk secepatnya mewujudkan dan mengembalikan fungsi trotoar sebagai ruang publik yang diperuntukan bagi para pejalan kaki sebagaimana yang diamanatkan oleh  UU No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas, Pasal 131 yang dengan tegas menyebutkan trotoar adalah fasilitas untuk pejalan kaki dan bukan ruang parkir kendaraan pribadi apalagi  tempat berdagang bagi PKL.

Pemda seharusnya tidah hanya berfikir membangun jalan tanpa pernah menyisahkan sedikit saja untuk trotoar bagi pejalan kaki. Pemerintah jangan hanya mementingkan jalur bagi kenderaan bermotor saja, karena para pejalan kaki juga punya hak yang sama, bukankan mereka juga ikut membayar pajak? Tragedi penabrakan yang terjadi seharusnya menjadi peringatan bagi Negara dan Pemda, bahwa pejalan kaki yang di trotoar saja tak luput dari ancaman maut. Apalagi para pejalan kaki yang berjalan di jalur kenderaan umum. Jelas resiko kematian akan lebih besar.

Tulisan ini pertama kali dimuat di harian WASPADA, Selasa 31 Januari 2012


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: