Posted by: effanzulfiqar | March 27, 2012

Antara Gayus, Bahasyim dan Dhana

Belum hilang dari ingatan kita soal sepak terjanya Gayus H. Tambunan terkait dengan kasus suap pajak yang menyeret banyak orang dalam kasusnya hingga masuk penjara. Di samping Gayus masih ada lagi nama Bahasyim Assifie yang juga sukses mengumpulkan kekayaan dari pajak yang dibayarkan rakyat. Kini muncul lagi nama Dhana Widyatmika (DH) yang sepak terjangnya hampir sama dengan Gayus. Keduanya tercatat sama-sama mantan pegawai Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, yang mempunyai harta miliar rupiah. Gayus golongannya IIIA, sedangkan DW golongan IIIC dan semasa mahasiswa sama-sama punya prestasi akademik yang baik alias cerdas.

Apa yang terjadi dengan Gayus, Bahasyim dan kini DH telah membuka mata kita lebar-lebar  bahwa masih tetap ada oknum pegawai pajak yang suka mengeruk kekayaan lewat jalan tak halal yang bersumber dari pajak rakyat. Hebatnya Gayus dan DH hanya pegawai golongan III bisa sukses mengeruk kekayaan dengan jumlah yang sangat fantastik–milyaran rupiah.  Timbul pertanyaan, bagaimana pula mereka yang golongan IV, apakah ada jaminan mereka juga memperoleh kekayaan dengan cara yang halal ? Menjadi tugas Menteri keuangan untuk mengaudit kekayaan mereka apakah benar diperoleh dengan cara halal.

Kasus ini juga menjadi satu bukti bahwa reformasi birokrasi yang pertama kali dicanangkan pemerintah di lingkungan Kementerian Keuangan tahun 2007 telah gagal. Remunerasi yang diberikan kepada pegawai pajak sejak masa Sri Mulyani menjabat Menteri Keuangan,  belum menjadi jaminan integritas pegawai untuk tidak melakukan penyimpangan. Tanpa pengawasan internal dan eksternal yang kuat dan sistematis peluang melakukan tindak penyalahgunaan jabatan untuk memperkaya diri tetap terbuka.

Perlu memang dilakukan penelurusan lebih lanjut menyangkut rekening semua pegawai pajak lewat Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPH) ke KPK. Biasanya untuk menyamarkan kepemilikan rekening kerap uang dimasukan ke rekening istri/suami, anak bahkan mertua. Menyedihkan memang sekalipun dua pendahulu DH, yakni Gayus dan Bahasyim Assifie telah  dihukum, sama sekali tidak membuat kecut orang seperti DW atau DW-DW yang lain yang belum terungkap. Karena tidak mungkin hanya Gayus, Bahasyim dan DW saja yang melakukan hal seperti itu.

Hal lain yang patut dipertanyakan bahwa apa yang pernah dilakukan oleh Gayus, Bahasyim dan kini DW sampai punya rekening milayaran kuat dugaan mereka bukan bekerja sendiri. Dengan  tidak bermaksud “sudjon” bisa kita katakan adalah sangat tidak masuk akal bila DW bisa bekerja sendirian melakukan tindakan tersebut bertahun-tahun tidak ketahuan sebagaimana Gayus dan Bahasyim. Ada indikasi keterlibatan pihak lain semacam “mafia”, mengingat mereka bukan pengambil kebijakan.

Berdasarkan informasi terdapat lebih dari 10.000 kasus sengketa pajak antara Direktorat Jenderal Pajak dan wajib pajak. Jumlah kasus sengketa pajak yang demikian banyaknya akan memberi peluang bagi terjadinya “kongkalikong” permaiana antara petugas pajak dengan wajib pajak. Proses sengketa pajak yang berlarut-larut tanpa kepastian hukum tersebut terbukti dapat digunakan untuk berkompromi yang ujung-ujungnya suap. Modus seperti ini yang dilakukan oleh Gayus,  Bahasyim Assifie dan mungkin juga DW sehingga punya rekening milyaran rupiah.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: