Posted by: effanzulfiqar | June 28, 2012

Siapa Menyusul Jejak Tere?

Adalah Theresia Ebenna Ezeria Pardede yang lebih akrab dikenal dengan panggilan Tere dengan segala kesadarannya berani mengambil pilihan politik mundur sebagai anggota DPR RI dan keluar dari Partai Demokrat. Tere duduk di Komisi X dan Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR RI. Mungkin apa yang dilakukan oleh Tere menurut banyak orang termasuk sesuatu yang sangat aneh dalam dunia politik kita. Mundur dari anggota DPR dan partai politik yang sama sekali bukan karena terkait kasus korupsi, perilaku buruk atau kinerja yang buruk.

Pelantun lagu Awal yang Indah itu mundur dari DPR secara suka rela pada saat koleganya tetap bersikukuh untuk mempertahankan kursi dewan, sekalipun sudah dihantam kanan kiri karena terkait dengan kasus korupsi. Bahkan ada yang sudah menjalani penahanan. Alasan yang disampaikan Tere terkait dengan pengunduran dirinya adalah untuk bisa lebih berkonsentrasi mengurus sang ayah yang sangat dicintainya Tombang Mulia Pardede yang menderita penyakit komplikasi jantung dan gula. Di samping ia ingin menyelesaikan studi S-2 komunikasi politik di Universitas Indonesia.

Kedua alasan pengunduran yang disampaikan Tere memang sangat pribadi sifatnya. Kita memang tidak tahu apakah ada alasan lain di balik pengudurannya sebagai anggota dewan. Apa yang dilakukan oleh Tere layak kita apresiasi di tengah-tengah semakin tidak jelasnya kinerja DPR. Sepertinya Tere tidak ingin terlibat lebih jauh menjadi sorotan publik terkait dengan buruknya kinerja anggota dewan dengan berbagai perilaku anggota dewan yang sama sekali tidak mencerminkan diri mereka sebagai perwakilan rakyat.

Tere sebagaimana disebut banyak koleganya di DPR adalah orang yang memiliki kinerja baik, aktif mengikuti sidang-sidang, smart dan benar-benar memiliki tanggungjawab yang cukup tinggi sebagai anggota dewan. Ia sangat konsisten memperjuangkan aspirasi masyarakat dan rajin melakukan kunjungan kerja di Daerah pemilihan Jawa Barat II yang telah mengantarkan menjadianggota DPR. Artinya sepanjang kariernya sebagai anggota dewan kinerjanya cukup baik dan yang terpenting ia mundur bukan karena tersandung kasus korupsi atau perilaku buruk yang melanggar kode etik sebagai anggota dewan.

Sepertinya, di tengah-tengah kegigihannya memperjuangkan banyak hal muncul kegelisahan jiwa karena merasa apa yang selama ini dianggapnya bisa diperjuangan di DPR ternyata tidak bisa dilakukannya seorang diri. Boleh jadi ini termasuk alasan lain yang menjadi penyebab Tere merasa lebih baik mundur dari pada tetap menjadi anggota DPR tapi tidak mampu memperjuangkan aspirasi rakyat sekalipun ia mempunyai keinginan yang kuat. Ia merasa hanya berjuang sendirian.

Dalam bahasa yang satun, Tere mengungkapkan, ia melihat ada sesuatu yang tidak pas di dunia politik, “Saya melihat ada teori dan praktik yang belum sinkron. Mungkin yang dimaksud oleh Tere tidak sinkron tersebut adalah apa yang seharusnya diperjuangan sebagai anggota dewan tidak bisa terwujudkan. Karena ia menganggap selama ini DPR menjadi satu-satunya sarana yang paling efektif memperjuangkan kepentingan konstituennya dan ternyata tidak sebagaimana yang dipelajarinya di bangku studi. Sangat bertolak belakang. Bahkan menurut pegakuannya, ia sering walk out kalau pembahasan anggaran dengan pemerintah dan katanya “Saya skeptis dengan pemerintah pasca-reformasi,”.

Faktanya, partai/fraksi sering menjadi pengahalang bagi idealism banyak anggota dewan sebagaimana yang sedang dihadapi Tere sehingga merasa lebih baik keluar ketika ia harus sendirian berjuang untuk menyuarakan kepentingan konstituenya yang dianggapnya sebuah keharusan yang menjadi tanggungjawabnya. Tere dalam konferensi di Press Room DPR menyebut bahwa semua aspirasi konstituen tidak mudah diperjuangkan di DPR. “Ada invisible walls yang menghadang semuanya,” katanya. Itu yang tidak bisa ditembus Tere, ia merasa berkhianat ketika ia tidak bisa memperjuangan apa yang menjadi aspirasi konstituennya.

Alasan lain yang bisa dibaca terkait dengan pengunduran Tere karena merasa tidak bisa totalitas lagi memperjuangkan aspirasi konstituennya karena harus disibukkan urusan keluarga dan studinya. Totalitas menjadi suatu keharusan yang dianggap Tere wajib hukumnya dilakukan setiap anggota dewan. Sering bolos atau titip absen pada staf pribadi sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian anggota dewan, ia tidak ingin melakukan hal tersebut. Katanya, “Saya tidak ingin menjadi anggota dewan yang hanya titip absen,”. Hal lain menurutnya, kepentingan negara harus didahulukan daripada kepentingan pribadi dan perempuan kelahiran Jakarta 2 September 1979 merasa sudah tidak bisa lagi menjalankan amanat tersebut.

Tere bahkan pernah menyebut keputusannya mundur dari DPR dan Partai Demokrat adalah bagian dari kecintaanya kepada Negeri ini. Ada keinginan besar yang ingin diperjuangkan Tere untuk Indonesia yang lebih baik di tengah-tengah ketidak mampuannya untuk mengubah banyak hal yang seharusnya di DPR semua produk politik yang terkait dengan perubahan sistem bisa dihasilkan. Tapi sepertinya Tere merasa bila dia sendiri yang melakukan itu DPR jelas tidak akan mampu dan punya kekuatan. Mungkin saja ia merasa ketakutan, lambat atau cepat ia akan menjadi bagian dari kesemerawutan politik yang terjadi di DPR.

Ada beberapa orang anggota DPR yang terjerat korupsi dan menjadi tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Yang pasti Tere bukan bagian dari para pemburu rente tersebut. Justru dalam kegelisaan dan kecemasannya melihat perlaku koleganya ia merasa harus keluar dan tidak menjadi bagian dari mereka yang melakukan hal-hal yang sangat kontradiktif dengan tugas dan fungsi sebagai anggota dewan yang menjadi perwakilan rakyat dan menyandang status sangat terhormat. Ini mungkin bagian yang menambah kegelisahan Tere yang selama ini tidak pernah dibayangkannya terjadi.

Tere memang sudah berfikir bahwa ia tidak akan mampu melakukan perubahan ketika ia menjadi bagian dari sistem tersebut. Sudah sepatutnya DPR sebagai lembaga perwakilan rakyat bisa membaca diri, mengkoreksi diri dan menyadari apa yang dilakukan Tere adalah sebuah protes kecil yang ingin mengatakan bahwa DPR sudah tidak mampu lagi menjadi lembaga perwakilan rakyat, melainkan menjadi lembaga yang mewakili kepentingan partai, diri sendiri dan kolega. Tere tidak ingin menjadi bagian dari carut marut yang terjadi di DPR dan partai politik.

Akhir kata, negeri ini sangat membutuhkan orang-orang muda yang baik seperti Tere yang tidak ingin mengadaikan idelismenya demi kemewahaan hidup, apalagi menjadi orang hipokrit. Pertanyaanya, siapa yang akan menyusul jejak Tere ? Atau mungkin hanya Tere seorang yang berani melakukannya, meskipun mundur dari DPR pernah dilakukan oleh alm Sophaan Sophiaan karena merasa tidak maksimal bisa memperjuangan kepentingan konstituennya di DPR. Yang pasti, Tere tidak ingin kembali lagi ke dunia politik, ia hanya ingin menjadi bagian dari masyarakat madani – hidup tanpa politik sebagaimana yang disebut Jhon Lenon dalam syair lagunya Imagine.

Adalah Theresia Ebenna Ezeria Pardede yang lebih akrab dikenal dengan panggilan Tere dengan segala kesadarannya berani mengambil pilihan politik mundur sebagai anggota DPR RI dan keluar dari Partai Demokrat. Tere duduk di Komisi X dan Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR RI. Mungkin apa yang dilakukan oleh Tere menurut banyak orang termasuk sesuatu yang sangat aneh dalam dunia politik kita. Mundur dari anggota DPR dan partai politik yang sama sekali bukan karena terkait kasus korupsi, perilaku buruk atau kinerja yang buruk.

Pelantun lagu Awal yang Indah itu mundur dari DPR secara suka rela pada saat koleganya tetap bersikukuh untuk mempertahankan kursi dewan, sekalipun sudah dihantam kanan kiri karena terkait dengan kasus korupsi. Bahkan ada yang sudah menjalani penahanan. Alasan yang disampaikan Tere terkait dengan pengunduran dirinya adalah untuk bisa lebih berkonsentrasi mengurus sang ayah yang sangat dicintainya Tombang Mulia Pardede yang menderita penyakit komplikasi jantung dan gula. Di samping ia ingin menyelesaikan studi S-2 komunikasi politik di Universitas Indonesia.

Kedua alasan pengunduran yang disampaikan Tere memang sangat pribadi sifatnya. Kita memang tidak tahu apakah ada alasan lain di balik pengudurannya sebagai anggota dewan. Apa yang dilakukan oleh Tere layak kita apresiasi di tengah-tengah semakin tidak jelasnya kinerja DPR. Sepertinya Tere tidak ingin terlibat lebih jauh menjadi sorotan publik terkait dengan buruknya kinerja anggota dewan dengan berbagai perilaku anggota dewan yang sama sekali tidak mencerminkan diri mereka sebagai perwakilan rakyat.

Tere sebagaimana disebut banyak koleganya di DPR adalah orang yang memiliki kinerja baik, aktif mengikuti sidang-sidang, smart dan benar-benar memiliki tanggungjawab yang cukup tinggi sebagai anggota dewan. Ia sangat konsisten memperjuangkan aspirasi masyarakat dan rajin melakukan kunjungan kerja di Daerah pemilihan Jawa Barat II yang telah mengantarkan menjadi anggota DPR. Artinya sepanjang kariernya sebagai anggota dewan kinerjanya cukup baik dan yang terpenting ia mundur bukan karena tersandung kasus korupsi atau perilaku buruk yang melanggar kode etik sebagai anggota dewan.

Sepertinya, di tengah-tengah kegigihannya memperjuangkan banyak hal muncul kegelisahan jiwa karena merasa apa yang selama ini dianggapnya bisa diperjuangan di DPR ternyata tidak bisa dilakukannya seorang diri. Boleh jadi ini termasuk alasan lain yang menjadi penyebab Tere merasa lebih baik mundur dari pada tetap menjadi anggota DPR tapi tidak mampu memperjuangkan aspirasi rakyat sekalipun ia mempunyai keinginan yang kuat. Ia merasa hanya berjuang sendirian.
Dalam bahasa yang satun, Tere mengungkapkan, ia melihat ada sesuatu yang tidak pas di dunia politik, “Saya melihat ada teori dan praktik yang belum sinkron. Mungkin yang dimaksud oleh Tere tidak sinkron tersebut adalah apa yang seharusnya diperjuangan sebagai anggota dewan tidak bisa terwujudkan. Karena ia menganggap selama ini DPR menjadi satu-satunya sarana yang paling efektif memperjuangkan kepentingan konstituennya dan ternyata tidak sebagaimana yang dipelajarinya di bangku studi. Sangat bertolak belakang. Bahkan menurut pegakuannya, ia sering walk out kalau pembahasan anggaran dengan pemerintah dan katanya “Saya skeptis dengan pemerintah pasca-reformasi,”.

Faktanya, partai/fraksi sering menjadi pengahalang bagi idealism banyak anggota dewan sebagaimana yang sedang dihadapi Tere sehingga merasa lebih baik keluar ketika ia harus sendirian berjuang untuk menyuarakan kepentingan konstituenya yang dianggapnya sebuah keharusan yang menjadi tanggungjawabnya. Tere dalam konferensi di Press Room DPR menyebut bahwa semua aspirasi konstituen tidak mudah diperjuangkan di DPR. “Ada invisible walls yang menghadang semuanya,” katanya. Itu yang tidak bisa ditembus Tere, ia merasa berkhianat ketika ia tidak bisa memperjuangan apa yang menjadi aspirasi konstituennya.

Alasan lain yang bisa dibaca terkait dengan pengunduran Tere karena merasa tidak bisa totalitas lagi memperjuangkan aspirasi konstituennya karena harus disibukkan urusan keluarga dan studinya. Totalitas menjadi suatu keharusan yang dianggap Tere wajib hukumnya dilakukan setiap anggota dewan. Sering bolos atau titip absen pada staf pribadi sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian anggota dewan, ia tidak ingin melakukan hal tersebut. Katanya, “Saya tidak ingin menjadi anggota dewan yang hanya titip absen,”. Hal lain menurutnya, kepentingan negara harus didahulukan daripada kepentingan pribadi dan perempuan kelahiran Jakarta 2 September 1979 merasa sudah tidak bisa lagi menjalankan amanat tersebut.

Tere bahkan pernah menyebut keputusannya mundur dari DPR dan Partai Demokrat adalah bagian dari kecintaanya kepada Negeri ini. Ada keinginan besar yang ingin diperjuangkan Tere untuk Indonesia yang lebih baik di tengah-tengah ketidak mampuannya untuk mengubah banyak hal yang seharusnya di DPR semua produk politik yang terkait dengan perubahan sistem bisa dihasilkan. Tapi sepertinya Tere merasa bila dia sendiri yang melakukan itu DPR jelas tidak akan mampu dan punya kekuatan. Mungkin saja ia merasa ketakutan, lambat atau cepat ia akan menjadi bagian dari kesemerawutan politik yang terjadi di DPR.

Ada beberapa orang anggota DPR yang terjerat korupsi dan menjadi tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Yang pasti Tere bukan bagian dari para pemburu rente tersebut. Justru dalam kegelisaan dan kecemasannya melihat perlaku koleganya ia merasa harus keluar dan tidak menjadi bagian dari mereka yang melakukan hal-hal yang sangat kontradiktif dengan tugas dan fungsi sebagai anggota dewan yang menjadi perwakilan rakyat dan menyandang status sangat terhormat. Ini mungkin bagian yang menambah kegelisahan Tere yang selama ini tidak pernah dibayangkannya terjadi.

Tere memang sudah berfikir bahwa ia tidak akan mampu melakukan perubahan ketika ia menjadi bagian dari sistem tersebut. Sudah sepatutnya DPR sebagai lembaga perwakilan rakyat bisa membaca diri, mengkoreksi diri dan menyadari apa yang dilakukan Tere adalah sebuah protes kecil yang ingin mengatakan bahwa DPR sudah tidak mampu lagi menjadi lembaga perwakilan rakyat, melainkan menjadi lembaga yang mewakili kepentingan partai, diri sendiri dan kolega. Tere tidak ingin menjadi bagian dari carut marut yang terjadi di DPR dan partai politik.

Akhir kata, negeri ini sangat membutuhkan orang-orang muda yang baik seperti Tere yang tidak ingin mengadaikan idelismenya demi kemewahaan hidup, apalagi menjadi orang hipokrit. Pertanyaanya, siapa yang akan menyusul jejak Tere ? Atau mungkin hanya Tere seorang yang berani melakukannya, meskipun mundur dari DPR pernah dilakukan oleh alm Sophaan Sophiaan karena merasa tidak maksimal bisa memperjuangan kepentingan konstituennya di DPR. Yang pasti, Tere tidak ingin kembali lagi ke dunia politik, ia hanya ingin menjadi bagian dari masyarakat madani – hidup tanpa politik sebagaimana yang disebut Jhon Lenon dalam syair lagunya Imagine.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: