Posted by: effanzulfiqar | June 28, 2012

Klaim Malaysia atas Tor-tor dan Gordang Sambilan : Salah Siapa?

Dalam beberapa terakhir ini kita terus sibuk berpolemik dengan Negara tetangga Malaysia yang kita anggap suka bikin masalah. Mulai dari kekerasan terhadap para pekerja yang kerap dianiaya bahkan sampai ada yang meninggal. Kita juga ribu-ribut soal warga Negara Indonesia yang ditangkapi karena dianggap sebagai pendatang haram. Faktanya SDM yang menjadi tenaga kerja tersebut yang sangat tidak kompetitif dengan lapangan kerja yang ada.

Kita juga ribut lagi soal Pulau Sipadan dan Ligitan yang dicaplok Malaysia. Mahkamah Internasional mengalahkan kita karena selama ini kedua pulau tersebut kita abaikan begitu saja. Adapun  Malaysia secara terus menerus berada di sana, dan menduduki secara nyata serta melakukan pemeliharaan ekologi. Mahkamah Internasional dalam hal ini melakukan kaidah pembuktian kepemilikan yang tidak berdasarkan materi hukum, jelas Indonesia kalah.

Kini kita ribut lagi dengan Malaysia, penyebabnya  karena Malaysia “mengklaim” tortor dan gordang sambilan sebagai milik mereka. Kita juga sudah pernah ribut soal klaim Malaysia atas batik, angklung, tari pendet, reog, dan lagu Rasa Sayang dan banyak lagi kebudayaan yang diklaim sebagai milik mereka. Apa yang dilakukan oleh Malaysia seharusnya tidak mesti membuat kita marah-marah, apalagi harus mengatakan “ganyang Malaysia” sebagaimana pernah muncul pada masa konfrontasi zaman Soekarno dulu.

Sejatinya apa yang dilakukan oleh Malaysia dengan mengklaim beberapa kebudayaan lokal kita tidak perlu membuat kita marah. Karena klaim tersebut adalah sesuatu yang sangat mustahil terjadi. Sejarah dan asal mula semua yang diklaim tersebut tidak akan bisa dihapus dengan cara apapun termasuk dengan mengklaim sebagaimana yang dilakukan Malaysia. Faktanya semua itu adalah kekayaan kebudaya lokal Indonesia yang merupakan hasil cipta, karya dan karsa agung masyarakat Indonesia yang sudah berusia ratusan tahun lebih.

Seharusnya kita marah kepada pemerintah dan diri kita sendiri yang tidak punya perhatian dan bisa menghargai kebudayaan sendiri. Selama ini kita telah secara sengaja mengabaikan semua kekayaan kebudayaan lokal yang berjumlah ribuan yang menghampar dari Sabang sampe Marauke. Kenapa kita harus marah-marah kepada Malaysia,  padahal kita yang tidak hirau selama ini.

Harus kita akui, Malaysia atau Negara-negara lain begitu perduli dengan pelestarian kebudayaan lokalnya sebagai subkebudayaan nasionalnya. Seharusnya kita bisa menerima  pernyataan Pemerintah Malaysia yang hanya melakukan registrasi terhadap tor-tor dan gordang sambilan, sebagaimana yang diatur dalam Section 67 Undang-Undang Tentang Warisan Budaya Tahun 2005. Jadi, bukan mengklaim. Tujuannya hanya untuk memenuhi ketentuan administrasi yang berlaku. Dengan adanya registrasi tersebut, konsekuensinya komunitas masyarakat Mandailing yang ada di sana punya kewajiban untuk melestarikan kebudayaan tersebut sebagaimana juga para pedatang dari Cina, India dan Arab yang masing-masing memiliki kebudayaannya sendiri-sendiri.

Registrasi yang dilakukan Pemerintah Malaysia menunjukkan mereka jauh lebih menghargai kebudayaaan kita dibanding dengan kita sendiri. Jujur harus kita akui selama ini,  pelestarian terhadap kebudayaan lokal hampir tidak dilakukan oleh pemerintah (pusat dan daerah). Pemerintah sama sekali tidak terlalu perduli untuk melindungi semua warisan kekayaan budayanya. Penelitian, inventarisasi dan dokumentasi yang sungguh-sungguh tidak pernah dilakukan secara terencana dan sistematis terutama oleh pemerintah daerah  yang telah diberi kewenangan desentralisasi.

Padahal tindakan antisipatif sejak awal sudah mesti dilakukan ketika pertama kalinya munculnya klaim atas beberapa kebudayaan lokal kita oleh Negara lain. Kita tahu bahwa budaya adalah identitas sebuah bangsa yang semestinya terus  dilestarikan. Bukan sebaliknya, dibiarkan begitu saja dan ketika muncul klaim dari Negara lain kita baru sibuk dan marah-marah. Jelas bukan solusi  positif kalau kita hanya bersikap emosianal dan reaktif tapi tidak melakukan tindakan apapun yang sifatnya melestarikannya kekayaan budaya bangsa/komunitas lokal yang sudah berusia ratusan tahun.

Bila kita tidak mampu melestarikan  kebudayaan kita. Maka bangsa lain akan dengan senang hati mengklaim dan menjadikannya sebagai identitas bangsanya. Apresiasi terhadap kebudayaan lokal harusnya terus digelorakan dalam berbagai event semacam, pertunjukan, pameran/expo dan promosi yang bertaraf nasional, regional dan internasional. Selama ini kebijakan pameran/expo dan promosi kebudayaan masih terbatas pada kebudayaan daerah tertentu. Padahal  kita tahu ada ribuan jenis kebudayaan lokal di negeri ini yang seharusnya diberi kesempatan yang sama.

Demikian juga perhatian terhadap para pelaku seni dan budaya lokal sangat minim dari pemerintah sampai hari ini. Pelestarian kebudayaan lokal sebagai subkebudayaan nasional tidak cukup hanya sebatas slogan, iklan, wacana, workshop dan seminar.  Sudah itu selesai tanpa ada tindakan nyata dari pemerintah. Kaum muda kita sebagai generasi penerus sudah seharusnya makin disadarkan dan diberi motivasi untuk ikut menjadi penjaga, pewaris dan pelestari. Jangan sampai rasa memiliki kalangan kaum muda terhadap kebudayaannya tergantikan dengan kebudayaan asing yang belakang ini terus menyerbu negeri ini.

Kaum muda kita sekarang sedang dilanda budaya K-Pop. Lihatlah saja, mereka  rela berdesak-desakan berhari-hari  hanya untuk mendapatkan tiket nonton konser Super Junior (Suju) dari Korea. Dari anak SD sampai dewasa kini demam K-Pop. Lady Gaga sempat menimbulkan polemik yang berkepanjangan terkait dengan batalnya konser di Jakarta. Semua itu harusnya menyadarkan kita betapa para kaum muda  kini tidak memiliki identitas budaya sendiri dan cenderung berkiblat dengan budaya asing. Di samping memang, mentalitas kaum muda yang lebih suka meniru dan mengekor kepada budaya asing daripada budaya sendiri.

Saatnya kini pemerintah daerah melakukan inventarisasi semua kebudayaan lokal yang dimilikinya, baik itu dalam bentuk lagu, tarian, alat-alat musik, sastra lisan dan tulisan, ukiran, tenunan, arsitektur/bangunan, kuliner dan situs-situs sejarah.  Inventarisasi tersebut diharapkan akan memperjelas warisan kebudayaan lokal yang dimiliki setiap daerah. Inventarisasi harus diikuti juga dengan dokumentasi  dan penerbitan dalam bentuk buku dan database yang disimpan di pusat kebudayaan daerah atau nasional sebagai pembanding bila suatu saat ada Negara lain yang mengklaimnya.


Responses

  1. Menurt saya bukan malaysia yg mengklaim budaya tor2 dan gordang sambilan tetapi masyarakat indonesia sendiri yg tinggal di malaysia memainkannya dari pihak pemerintah malaysia sendri tdk pernah meng klaim bhwa itu kebudayaan mereka… Tetapi media di indonesia lahh yg terlalu berlebihan agar raiting mereka melonjak dan kebanyakan media di indonesia itu hanya alat pokitik segelintir orang saja. Apa buktinya bahwa pemerintah malaysia mengklaim kebudayaan tor2 dan gordang sambilan??? By Mahasiswa umts fakultas umts prodi IAN semester satu nama panusunan siregar

    • Yoi……betul…kalaupun gak pernah mengklaim tapi cenderung ingin memiliki, buktinya banyak silakan serching diinternet apa saja yang sudah diklaim oleh Malaysia…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: