Posted by: effanzulfiqar | September 5, 2012

Anomali Pilkada Jakarta

Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) DKI Jakarta 2012 putaran pertama berjalan mulus. Denny JA pendiri LSI menyebut Pemilukada Jakarta sebagai suatu yang anomali dalam istila ilmu sosial – kejadian yang tak biasa. Faktanya memang demikian, fenomena yang tak biasa yang barangkali terjadinya hanya sekali dan itu terjadi dalam pemilukada Jakarta. Banyak kejutan terjadi dalam pemilukada Jakarta sebagai sesuatu yang diluar perhitungan yang bersifat matematis.

Semua lembaga survey pada awalnya memprediksi pasangan Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli (Foke–Nara) perolehan suaranya jauh di depan memimpin. Sementara pasangan Joko Widodo dan Basuki Tjahja Purnama (Jakowi-Ahok) diperkirakan akan berada di posisi kedua, jauh di belakang pasangan Foke-Nara. Kenyataannya, justru pasangan  Jakowi-Ahok yang didukung PDI-Perjuangan dan Gerindra sebaliknya yang unggul. Kemenangan Jokowi-Ahok tersebut memang di luar perkiraan banyak pihak.

Adanya tagline “Menang Satu Putaran” turut menjadi senjata makan tuan karena terlalu percaya diri yang berlebihan  dari pasangan Foke-Nara ini. Statemen satu putaran untuk memenangkan Pemilukada Jakarta yang bertebaran di sudut-sudut Jakarta merupakan ekspresi kesombangan dan kepercayaan diri berlebihan yang menjadi ciri watak birokrat. Tagline tersebut sedikit banyak turut menjadi factor penyebab ketidak sukaan masyarakat Jakarta yang ternyata lebih rasional cara berfikirnya melihat soal kegagalan Foke mengelola Jakarta selama lima tahun kepemimpinannya.

Semua orang tidak ada yang meragukan kekuatan pasangan Foke-Nara yang serba kuat, baik  dukungan partai, financial, birokrasi sebagai incumbent dan popularitas sebagai orang Betawi. Pasangan ini didukungan oleh  partai berkuasa – Partai Demokrat plus PAN, PDS, Hanura dan PKB dan beberapa partai non-parlemen. Dari jumlah dukungan partai seharusnya cukup signifikan untuk mengeruk suara. Ternyata mesin partai mati-tidak bisa mengerakkan dukungan kepada pasangan ini. Kuat dugaan ada kaitan antara kasus yang menimpa kader partai pendukung menjadi pemicu berkurangnya dukungan konstituen dan simpatisan.

Kekuatan financial yang dimiliki Fauzi Bowo siapa yang meragukan, termasuk pihak ketiga yang akan memberi donasi untuk mendukung kemenangan Foke-Nara. Dukungan donasi ini sudah pasti ada. Semua orang tahu dalam setiap perhelaan Pemilukada di negeri ini – donasi diberikan oleh pihak ketiga yang tidak tercatat jumlahnya melampui ketentuan yang ditetapkan oleh undang-undang.  Bahkan banyak pihak yang menganggap tidak ada yang mampu menyaingi kekuatan dana yang dimiliki Foke-Nara dibandingkan dengan pasangan lain.  Ternyata uang tidak laku dalam Pemilukada Jakarta.

Sebagai incumben, kabarnya kekuatan birokrasi yang mendukung Foke sudah mencengkram sampai di tingkat RT/RW.  Politisasi birokrasisi dalam pemilukada masih dianggap sebagai salah satu faktor dominan kemenangan incumben. Foke dianggap punya dukungan kuat dari birokrasi. Tapi faktanya, berkata lain dari apa yang diperkirakan banyak pihak. Ternyata jerih payah Foke selama ini menggalang kekuatan birokrasi tidak berarti apa-apa. Anggapan bahwa Foke mempunyai pengaruh kuat dalam birokrasi sampai ke tingkat RT/RW hanya pepesan kosong.

Isu suku/sentimen primordial yang dimunculkan untuk menghambat calon yang berasal dari luar yang bukan asli Betawi, juga tidak efektif. Ternyata masyarakat Jakarta adalah masyarakat rasional yang menganggap Jakarta adalah miniature Indonesia yang bukan hanyak milik satu suku. Artinya yang bersifat remeh temeh seperti soal asal usul seseorang tidak lagi dijadikan sebagai dasar dalam menentukan pilihan.  Track record Jokowi sebagai  sosok alternatif jauh lebih positif nilainya di mata masyarakat Jakarta dibanding dengan isu soal asli Betawi atau tidak. Prestasi Jokowi  yang memang sudah terbukti dan teruji dibandingkan Foke menjadi dasar pertimbangan pemilih untuk memilihnya.

Program-program yang ditawarkan oleh Jokowi-Ahok jauh lebih menjanjikan dibandingkan dengan apa yang ditawarkan Foke-Nara. Logika masyarakat Jakarta yang mayoritas masyarakat lapisan bawah cenderung lebih percaya kepada Jokowi-Ahok yang menggunankan pendekatan humanis dan gaya bahasa yang lebih merakyat bukan gaya bahasa birokrat yang cenderung formal dan kaku. Disamping program-program yang ditawarkan Jokowi-Ahok adalah kebutuhan real mayoritas masyarakat Jakarta yang tak pernah terwujudkan selama kepemimpinan Foke.

Hal lain, pertarungan pemilukada Jakarta bukan hanya pertarungan kekuatan sosok-figur dan kerja keras tim kampaye saja. Tapi kemampuan untuk meyakinkan masyarakat dengan program-program nyata yang melahirkan perubahan. Faktanya warga Jakarta lebih menginginkan perubahan kepemimpinan dan program kerja. Sementara sosok Foke dianggap simbol “status quo”, yang tidak akan melahirkan perubahan apapun.  Janji untuk membebaskan Jakarta dari banjir waktu pemilukada 2007 tidak terbukti. Keunggulan perolehan suara Jokawi-Ahok  di enam wilayah menunjukkan keinginan kuat warga Jakarta akan sosok pemimpin baru dan program nyata.  Bukan  pemimpin lama yang hanya bisa  mengklaim paling berpengalaman tapi tidak mampu menunjukkan bukti nyata.

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) begitu kuat soliditas kadernya,  tinggal kenangan saja, karena tokoh nasional sekaliber Hidayat juga tidak mampu mengungguli Jokowi dan Foke – dukungan PKS tak militan lagi seperti dulu. Pasangan  Hidayat Nur Wahid-Didik J. Rachbini hanya menempati posisi ketiga. Ini sebenarnya adalah pertarungan lanjutan dari kekalahan PKS dalam Pemilkada 2007 yang waktu itu mengusung pasangan Adang Daradjatun-Dani Anwar. Sekalipun pasangan Adang-Dani kalah dari Foke-Prijanto, namun mereka mendapat apresiasi yang sangat postif karena mampu melawan kekuatan financial, birokrasi dan koalisi partai yang dibangun Foke-Prijanto.

Yang lebih menyedihkan adalah pasangan Alex Noerdin-Nono Sampono yang didukung Partai Golkar, PPP dan PDS hasilnya jeblok. Perolehan suaranya berada di bawah pasangan independen Feisal Basri-Biem Benjamin. Banyak pengamat menyebut kekalahan pasangan ini karena terjadi pengembosan mesin partai. Bahkan Dewan Pertimbangan Partai Golkar Akbar Tajung menyebutnya sebagai “kekalahan  menyedihkan”,  karena suaranya di bawah Faisal Basri yang hanya calon independen. Yang pasti Alex hanya punya basis massa real dan kekuatan popularitas di Palembang bukan di  Jakarta.

Seperti pemilukada yang sudah berlangsung di banyak tempat di negeri ini, persoalan DPT tetap menjadi masalah klasik yang terus muncul dalam setiap pelaksanaannya. Masih ditemukan pemilih ganda, kalaupun kemudian KPU mencoret 21.344 pemilih gandar dari DPT. Masalah pemilih yang tidak bisa menggunakan hak pilih karena tidak terdaftar juga masih terjadi. Demikian juga pemilih yang tidak mendapatkan surat undangan untuk memilih, termasuk yang tidak menggunakan hak suaranya  ada sekitar 2,6 juta orang  dari jumlah  DPT  sebanyak 6.962.348 orang.   Pemilihan putaran kedua dilaksanakan tanggal 11 Juni 2012 pasangan  Jokowi-Ahok dan Foke-Nachrowi akan maju merebut kursi orang nomor satu di DKI Jakarta .

Kita tunggu saja hasilnya – apakah akan terus berlanjut kemenangan pasangan Jokowi-Ahok atau terjadi lagi anomali  yang memenangkan Foke-Nara  dalam pertarungan tersebut?

(Tulisan ini pertama kali dimuat di harian WASPADA, Selasa 17 Juli 2012)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: