Posted by: effanzulfiqar | September 6, 2012

Calon Independen Pilkada Padangsidimpuan

Adalah Keputusan MK No 5/PUU-V/2007 yang menggugurkan Pasal 56, 59, dan 60 UU No 32 Tahun 2004 yang kemudian memberi peluang bagi calon independen maju dalam pilkada. Kalaupun harus diakui bahwa calon independen yang menang dalam pilkada jumlahnya tidak sampai di bawah tiga persen dan sebagian besar pasangan calon independen yang maju dalam pilkada perolehan suara hanya di bawah 10 persen. Artinya calon yang diusung parpol masih dominan memenangkan pilkada provinsi dan kabupaten/kota.

Calon independen pertama yang menang pilkada adalah pasangan O.K. Arya Zulkarnain – Gong Martua Siregar dengan menyingkirkan pasangan yang diusung parpol dalam pilkada tahun 2008 Kabupaten Batubara–Sumatera Utara. Kemudian pasangan Christian N Dillak, SH – Zacharias P Manafe di Kabupaten  Rote Ndao – NTT dalam pilkada tahun 2008 yang secara kebetulan pula mengalahkan pasangan calon independen Leonard Haning MM   – Drs. Marthen L. Saek

Dalam tahun yang sama pilkada Garut – Jawa Barat tahun 2008 yang bergulir dua putaran, dimana putaran pertama pemenangnya  berasal dari parpol yakni pasangan Rudi-Oim dan diurutan kedua pasangan independen Ceng Fikri – Dicky Chandra. Namun  pada putaran kedua Ceng Fikri – Dicky Chandra justru menjadi pemenangnya dengan mengalahkan pasangan yang diusung parpol tersebut. Meskipun kemudian Dicky Chandra sebagai wakil bupati terpilih mengundurkan diri sebelum masa jabatannya berakhir.

Dalam pilkada tahun 2009 Kubu Raya – Kalimantan Barat pasangan independen juga menang, yakni Muda Mahendrawan – Andreas Muhrotien yang sukses mengalahkan jagoan yang diusung parpol. Dalam catatan saya selama penyelenggaraan pilkada tahun 2010-  2011 tidak ada calon independen yang menang. Baru tahun 2012 dalam pilkada Kota Kupang  yang juga berlangsung dalam dua putaran. Mantan Sekda Kota Kupang Jonas Salean yang berpasangan dengan Hermanus Man lewat jalur independen menjadi pemenang pilkada dengan perolehan suara cukup signifikan yakni sebesar 57,08% dari seluruh jumlah total suara sah.

Sedangkan untuk pemilihan gubernur, calon independen yang berhasil menjadi pemenang baru Irwandi Yusuf yang sukses merebut kursi Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam tahun 2006. Setelah itu belum ada satupun calon indepeden yang memenangkan pilkada gubernur. Yang terakhir dalam pilkada Jakarta pasangan Faisal Basri – Beim Benyamin hanya berada di urutan keempat mengalahkan calon yang diusung parpol besar Alex Noerdin-Nono Sampono.

Sejak calon independen ikut bertarung dalam pilkada bila dihitung jumlah yang menang tidak sebanding dengan jumlah pemenang yang diusung parpol. Yang pasti calon indenpenden telah menjadi penyeimbang dan kotrol terhadap arogansi dan kekuatan parpol. Ada fakta yang sulit membuktikannya tapi publik sudah tahu bahwa uang  menjadi faktor penentu ketika calon maju lewat jalur parpol. Publik tahu benar ketika musim pilkada parpol di daerah dengan persetujuan DPW/DPP melakukan praktik rente dengan “menjual” partai  kepada calon yang mau membayar mahal tanpa perduli figur calon bermasalah atau tidak. Dan itu sebuah fakta yang tak terbantahkan.

Disisi lain calon independen setidaknya menjadi alat pemutus rantai oligarki dan politik patronase yang selama ini terjadi dalam proses pencalonan lewat parpol. Jalur independen senyatanya memang signifikan bisa mengurangi biaya cost politik para calon kepala daerah sehingga meminimalisir terjadinya peluang korupsi kepala daerah bila telah terpilih. Diperkirakan lewat jalur independen calon bisa mengurangi hampir 50% biaya cost politik dibanding menggunakan jalur parpol.

Dalam pilkada Kota Padangsidimpuan yang akan bergulir pada tanggal 18 Oktober 2012 ini. Dari enam pasangan calon yang sudah ditetapkan KPUD sebagai perserta pilkada, tercatat ada dua pasangan calon walikota dan wakil walikota dari jalur independen, disamping empat pasangan diusung oleh parpol. Kedua pasangan dari jalur independen tersebut adalah M. Habib Nasution – Ir. H. Soripada Harahap dengan nomor urut 1. Adapun pasangan kedua H. Amir Mirza Hutagalung, SE – H. Nurwin Nasution yang mendapatkan nomor urut 5.

Adanya dua pasangan calon walikota dan wakil walikota yang maju dari jalur independen  kali ini merupakan sejarah baru dalam perjalanan penyelenggaraan demokrasi di tingkat lokal – Kota Padangsidimpuan. Karena dalam pilkada tahun 2007, calon dari jalur independen belum diperbolehkan oleh undang-undang. Langsung atau tidak langsung keberadaan calon independen dalam pilkada ini akan memberikan warna tersendiri dalam konstelasi politik di kota salak.

Kuat dugaan pertarungan untuk memenangkan pilkada Kota Padangsidimpuan dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari figure dan popularitas calon,  kekuatan uang, tim sukses yang mempunyai networking yang kuat dan program kerja calon  lima tahun ke depan. Dan yang paling penting adalah dukungan basis masa real yang tidak hanya didasarkan oleh dukungan semu karena “uang”.  Kemampuan memanajemen semua faktor tersebut akan menjadi penentu kemenangan bagi pasangan yang berasal dari jalur parpol maupun jalur independen.

Keberadaan dua pasangan calon independen tersebut setidaknya  akan bisa menjadi alternatif pilihan bagi masyarakat Kota Padangsidimpuan yang memang tidak begitu respek terhadap figur-figur calon walikota dan wakil walikota yang diusung parpol. Artinya calon independen akan bisa menjadi pesaing kuat terhadap calon dari parpol di tengah-tengah kuatnya arus  ketidak percayaan masyarakat terhadap pasangan calon yang diusung  parpol yang selama ini dianggap sarat dengan banyak masalah, mulai dari keterlibatan dalam korupsi, menjadi calo anggaran,  moralitas yang bobrok dan sikap yang tidak perduli kepada konstituen.

Yang menjadi pertanyaan apakah dua calon idependen tersebut memiliki nilai jual yang jauh lebih tinggi dari empat pasangan calon yang diusung parpol. Kalau nilai jual kedua figure dan popularitas pasangan indenpenden jauh di bawah empat pasangan dari jalur porpol, jelas kedua pasangan independen tersebut akan tersingkir. Kekuatan figur,  popularitas dan elektabilitas yang tinggi tetap menjadi modal utama untuk mengalahkan calon dari parpol. Tanpa tiga hal tersebut sulit bagi calon independen menang dari calon dari parpol, disamping memang tetap perlunya mobilisasi dan dukungan dana yang memadai.

Sebagaimana diketahui bahwa kondisi real  sosial budaya masyarakat Kota Padangsidimpuan cenderung masih bersifat “pragmatis”.  Bukan pemilih  cerdas dan rasional, artinya pengulangan hasil pilkada tahun 2007 akan kembali terjadi. Penentuan pilihan terhadap pasangan calon lebih banyak ditentukan oleh sikap pragmatis, emosional dan subyektif belaka. Bukan berdasarkan pada pilihan rasional yang didasarkan pada kualitas, kapasitas, kapabilitas dan integritas pasangan calon serta program yang ditawarkan.

Soal kalah atau menang calon independen dalam pilkada Kota Padangsidimpuan bukan hal yang penting menurut hemat penulis. Karena yang paling urgen dalam konteks konsolidasi dan penguatan nilai-nilai demoraksi di tingkat lokal adalah keberadaan calon dari jalur independen di masa depan yang diharapkan bisa memperbaiki sistem rekrutmen parpol yang hanya berdasarkan kekuatan uang bukan pemberdayaan konstituen atau kekuatan figur calon.

Disamping memang calon dari jalur independen biasanya paling sedikit interest kepentingan pribadi atau kelompok dibandingkan dengan calon dari jalur porpol yang harus mengakomodasi kepentingan banyak parpol pengusung. Sehingga calon independen akan lebih fokus dalam melaksanakan tugas-tugasnya tanpa harus dibebani berbagai kepentingan pragmatis parpol pengusung yang sudah pasti akan menganggu tugas pokoknya sebagai kepala daerah bila telah terpilih nantinya.

Pertanyaan akhir adalah,  apakah memang masyarakat Kota Padangsidimpuan sudah menganggap bahwa pilihan terhadap pasangan dari jalur independen adalah yang terbaik figurnya dibandingkan dengan pasangan dari jalur parpol dari segi kualitas, kapasitas, kapabilitas, integritas dan program yang ditawarkan lima tahun ke depan? Bila iya, maka pasangan dari jalur independen berpeluang menang dalam pilkada Kota Padangsidimpuan. Bila tidak, maka peserta dari jalur independen hanya menjadi penggembira belaka. Kita tunggu saja siapa yang jadi pemenang..

(Tulisan ini pertama kali dimuat di harian WASPADA, Rabu 5 September 2012)


Responses

  1. thanks yah…..saya lagi nulis ttg pilkada kupang, mengenai calon independen. thanks datanya sangat berharga

    • Silakan asal jangan lupa menyebut sumbernya..hehehe…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: