Posted by: effanzulfiqar | December 10, 2012

Aceng HM Fikri : Buruk Muka Cermin Dibelah

“….dari kaca mata etika pejabat publik Bupati Aceng menggunakan kekuasaan dan jabatan untuk menaklukkan orang untuk kepuasan pribadi. Sebagai pejabat publik dia telah menyalahgunakan kekayaan dan kekuasaan”. (Andrinof Chaniago)

Apa yang paling terkenal dari Kabupaten Garut yang ada di Provinsi Jawa Barat, sudah pasti dodol Garut yang sudah mengindonesia dan Dicky Chandra yang mundur sebagai Wakil Bupati Garut pada September 2011. Kini nama Kabupaten Garut juga makin terkenal kalaupun membuat rakyatnya menjadi malu dengan perilaku Bupati-nya Aceng HM Fikri yang tersandung kasus nikah kilat. Aceng lalu menceraikan istrinya Fani Oktara setelah empat hari dinikahinya hanya lewat SMS. Kasus nikah kilat ini kini sudah mendunia, diberitakan sejumlah media internasional, di Inggiris, Amerika dan Asia seperti BBC dan The Guardian, Huffington Post dan, Asia News Network.

Pernikahan dilakukan 14 Juli 2012 jam 19.30 Wib malam di rumah pribadi Bapati. Acaranya berlangsung sangat singkat, tanpa dihadiri para undangan kecuali kedua orang tua Fani dan saksi dari Kantor Urusan Agama. Acara hiburan dan makan-makan layak sebuah pesta perkawinan sama sekali tidak ada. Ketua Majelis Ulama Indonesia Limbangan, K.H. Abdurrozaq, S.Ag. menikahkan kedua mempelai secara siri tanpa catatan resmi negara. Aceng mengaku sudah menggeluarkan Rp 250 juta yang bagi keperluan pernikahannya untuk mahar, seserahan dan keperluan Fani lainnya.

Begitu bergulir kasus tersebut Aceng Fikri sepertinya tidak merasa risau dan risih dengan apa yang dilakukannya. Bahkan dengan sangat percaya diri bah selebritis muncul di TV Nasional. Dalam wawancara yang berlangsung di TV, seolah baginya tak ada beban moral. Apalagi merasa bersalah dengan apa yang dilakukannya setelah menceraikan gadis berumur 18 tahun itu. Menurutnya yang dilakukannya sesuai dengan ajaran Islam. Ia malah balik menuding kasus tersebut muncul karena kepentingan politik menjelang Pemilukada Kabupaten Garut yang kini tinggal beberapa bulan lagi.

Ada tiga alasan mengapa Aceng Fikri menceraikan Fany. Pertama, Aceng menuduh Fani sudah tidak perawan. Karena menurutnya nikah itu perdata, perikatan dan akad. Jadi kalau dianalogikan, katanya tidak ada bedanya dengan jual beli. Ternyata barang yang dibeli tidak sesuai dengan speknya. Kedua Aceng menyebut Fany mempunyai penyakit epilepsy, padahal setelah diperiksa dokter, penyakit yang dituduhkan Aceng Fikri tidak terbukti secara medis. Adapun alasan ketiga Fani dituduh mempunyai tanda putih di tubuhnya yang tidak kelihatan secara kasat mata.

Tapi banyak pihak menyebut tiga alasan yang dikatakan Aceng Fikri mengada-ada dan tidak masuk akal, sebagaimana yang dikatakan oleh Fani sendiri bahwa alasan Bupati tersebut mengada-ada. Fani juga menyebutkan awal dari kemarahan Bupati kepadanya memuncak ketika Aceng Fikri melihat foto-foto pernikahan mereka tersebar dan di up load di jejaring social Facebook dan Blackberry Masangger. Sejak itu Aceng kerap meneror dengan kata-kata kasar melalui SMS yang dikirim kepada Fani.

Belakangan Bupati Aceng membatah bahwa ia tidak pernah sama sekali mengatakan alasan perceraian karena Fani sudah tidak perawan lagi sebagaimana yang dimuat beberapa media. Batahan tersebut disampaikan Aceng kepada para wartawan seusai memenuhi panggilan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan tanggal 3 Desember 2012. Sebaliknya ia menyebut bahwa alasan tersebut berdasarkan keterangan dari orang lain atau mungkin dari mulut Fani sendiri. Ia juga mengatakan bila itu alasan yang digunakan menceraikan Fani adalah hal bodoh baginya jika dia menyebut alasan perceraian itu karena Fany sudah tidak perawan lagi.

Aceng juga menyebut Fani telah menerima uang sebesar Rp 43 juta untuk biaya umroh ke tanah suci, termasuk ngontrak rumah dan melanjutkan sekolah sebagaimana yang tertulis dalam surat pernyataan yang ditandatangani Fani. Menurutnya, ia hanya menerima Rp 20 juta dari Aceng dan sudah habis digunakan mengontrak rumah dan biaya pendaftaran kuliah. Pengakuan Fani, uang itu terpaksa dimintanya untuk merenovasi rumahnya yang roboh bagian atapnya. Saat akan mengambil uang itu, Fani disuruh Bupati menemui adiknya dan menandatangani surat pernyataan. Pegakuan Fani tidak sempat membaca isi surat perjanjian dan langsung menandatangani karena karena panik rumah roboh dan butuh uang untuk perbaikan rumah.

Dan surat tersebut digunakan Aceng untuk melindungi dirinya sebagaimana yang disampaikan dalam wawancara dengan beberapa media televisi. Aceng juga menampik hubungannya dengan Fani adalah pernikahan resmi. Menurutnya apa yang terjadi hanya sebuah hubungan emosional atau perikatan dengan komitmen yang disepakati kedua belah pihak dengan sebuh pernyataan yang ditandatangani Fani sendiri. Menurut Aceng masalah ini sudah diselesaikan secara kekeluargaan sejak 16 Agustus 2012 dengan surat kesepakatan di atas meterai, dengan kompensasi nominal yang diterima Fani.

Ia juga mengatakan. “Menceraikan adalah hak laki-laki, dikawini adalah hak perempuan. Kawin dan cerai adalah hak laki-laki dan perempuan”. Ucapan yang sangat sombong memang !. Padahal menurut keluarga Fani pernikahan terjadi atas seizin keluarga gadis berkerudung tersebut. Fani bersedia menikah karena Aceng Fikri mengaku sudah bercerai dengan istri pertamanya dan tak memiliki istri lagi dan disamping memang keinginan Fani untuk melanjutkan kuliah.

Kini kasus perkawinan supersingkat Bupati Garut Aceng Fikri terus bergulir. Banyak pihak yang menyesalkan sikap Bupati tersebut yang terkesan sangat sombong, arogan dan sok kuasa. Pastinya pernikahan kilat yang dilakukan Bupati Garut Aceng HM Fikri terhadap Fani melanggar norma dan etika. Bagaimana tidak, pejabat publik yang diberi kepercayaan oleh rakyat semestinya menjadi teladan bagi masyarakat bukan melakukan tindakan yang jelas-jelas melanggar norma kepatutan dan kepantasan. Sekalipun tidak ada aturan yang melarang pernikahan dilakukan hanya empat hari dan kemudian menceraikan lewat SMS.

Menurut pengakuan Dicky, sebelum maju dalam Pemilukada tahun 2008, Aceng hampir tidak dikenal masyarakat di Kabupaten Garut. Aceng yang mengajaknya berduet dan Dicky sempat tiga kali menolaknya. Lewat proses perkenalan singkat ia menilai Aceng adalah sebagai sosok yang santun dan sederhana. Menurutnya, Aceng juga dikenal sebagai ustaz yang hafal Alquran dan hadis. Tapi begitu selesai mendaftar sebagai pasangan calon, mulai terlihatlah siapa sesungguhnya Aceng, sikap angkuh dan sombongnya mulai kelihatan. Setelah terpilih lewat dua putaran, gaya hidup Aceng selama menjadi bupati sangat berlawanan dengan kondisi Garut kata Dicky.

Partai Golkar sendiri sudah memecat Aceng HM Fikri terhitung sejak tanggal 5 Desember 2012 sebagai Wakil Ketua DPW Partai Golkar. Pemecatan ini juga berimplikasi terhadap tidak diusungnya lagi Aceng untuk maju di Pemilukada Kabupaten Garut tahun 2013 mendatang. Karena apa yang telah dilakukan jelas-jelas memalukan bagi Golkar dan sudah pasti masyarakat tidak akan mau memilih yang bersangkutan. Dalam hal ini DPP Golkar menilai kasus nikah empat hari Aceng dengan Fani merupakan bentuk perilaku pelecehan, penghinaan dan kesewenang-wenangan terhadap perempuan, sebagaimana dikatatakan juru bicara Golkar yang juga Wasekjen DPP Golkar Nurul Arifin.

Kabar terakhir, Fan sudah mendatangi Mabes Polri Senin 3 Desember 2012. untuk melaporkan Aceng. Sementara gelombang aksi unjuk rasa yang melibatkan elemen masyarakat yang terkonsentrasi di Kantorr Bupati Garut terus terjadi. Dalam aksi unjuk rasa tersebut massa meminta agar Aceng Fikri mengundurkan diri sebagai Bupati. Bahkan sebagian massa merobek-robek fhoto diri Bupati dan beberapa pengunjuk rasa perempuan mengarak sejumlah celana dalam wanita, bahkan ada yang menjemur dipagar kantor Bupati. Sementera di beberapa tempat yang ada baliho fhoto Bupati ditempeli celana dalam wanita.

DPRD Garut sudah membentuk Panitia Khusus untuk menyahuti pengaduan masyarakat dalam bentuk rekomendasi pemberhentian terhadap Aceng bila terbukti melakukan pelanggaran sebagai seorang pejabat publik. Menteri Dalam Negeri sendiri mengatakan siap menerima surat rekomendasi pemberhentian tersebut. Sepertinya memang nasib Aceng Fikri akan berakhir dengan pencopotannya sebagai Bupati tinggal menunggu waktu saja. Entahlah, yang pasti tanggal 5 Desember 2012 bertempat di Pondok Pesantren al-Fadhilah, Kampung Cukang Galeuh, Desa Dunguswiru, Kecamatan Limbangan, Garut, Aceng datang minta maaf kepada Fani dan keluargnya. Artinya kedua belah pihak sepakat islah alias berdamai dan berjanji tak akan saling menuntut. Kalau sudah begini ceritanya apa mau dikata…

Akhir kata, pepatah mengatakan : “Muka buruk cermin di belah” dan itulah sang Bupati. Ternyata ustad dengan gelar sarjana agama dan faham soal agama tidak bisa menjadi jaminan memiliki ketaatan terhadap etika serta norma kepatutan dan kepantasan sebagai seorang pejabat publik. Nafsu masih menjadi ikutan. Jabatan dan kuasa disendera untuk kepentingan nafsu sekalipun tahu betul yang dilakukan memang tidak pantas dilihat dari kacamata agama, etika dan norma sebagai seorang pejabat publik yang diberi amanah oleh rakyatnya sendiri……


Responses

  1. Akankah AF akan berakhir di LAPAS ??
    (Tunggu tanggal mainnya)
    #hehehe

    ^_^||@_@


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: