Posted by: effanzulfiqar | December 10, 2012

Demam Emas Penyebar Cemas : Merkuri Si “Pembunuh”

Deman emas kini sepertinya betul-betul sedang melanda Kabupaten Mandailing Natal, dan sangat terasa ketika memasuki wilayah Kecamatan Naga Juang dan Huta Bargot. Hutan di kawasan perbukitan yang selama ini hanya diramaikan suara margasatwa kini semakin ramai oleh riuh suara manusia yang bersumber dari para penambang emas. Pemburuan emas dilakukan para penambang tradisional di kawasan Taman Nasional Batang Gadis (TNBG), yakni di kawasan punggung Gunung Hutabargot, Gunung Sihayo dan Gunung Sambung.

Kawasan yang selama ini sepi telah berubah menjadi perkampungan kecil yang dihuni oleh ribuan orang yang tersihir deman emas. Mereka di sana menjadi sebuah komunitas yang termotivasi menjadi pemburu emas yang tidak hanya diramaikan mereka yang berasal dari desa sekitar, bahkan sebagian ada yang berasal dari Pulau Jawa. Kelompok penambang emas berjumlah sekitar 12 orang yang bisa meraup emas setiap pekannya100-300 gram. Diperkirakan pada saat sekarang sekitar 2.000 penambang berburu emas dengan menggali lubang di ketiga punggung pegunungan tersebut.

Mereka yang di sana menggali perut bumi beratus meter untuk mendapatkan butiran-butiran emas. Bahkan sudah beberapa orang yang melayang nyawanya, terkubur reruntuhan tanah yang mereka gali. Sekalipun harus bertarung nyawa itu bukan sesuatu yang menakutkan bagi para penambang emas. Berton-ton bongkahan batu berkandungan emas itu didulang para penambang, bahkan kabarnya harga satu lubang harga jualnya sampai Rp 700 juta dan ini akan melonjak nilai jualnya bila kandungan dan kadar emas semakin tinggi pula.

Meskipun sudah ada yang mati, semangat untuk menambang emas bukan makin berkurang justru makin mengebu-ngebu di antara para penambang. Bahkan dari hari ke hari jumlah penambang emas tanpa izin (PETI) bukan berkurang, malah bertambah terus. Ancaman kematian dan dampak penggunaan merkuri yang semberono tidak membuat rasa takut para penambang. Sebaliknya ancaman kematian dan merkuri sepertinya membuat mereka lebih bersemangat untuk terus memburu butiran-butiran emas.

Aktivitas PETI yang sudah berlangsung dalam lima tahun terakhir ini sepertinya akan sangat sulit untuk menghentikannya. Banyak cerita-cerita yang beredar menyebutkan PETI tersebut kabarnya “dibacking” dan melibatkan beberapa elit local dan pemodal lokal. Meskipun yang muncul kepermukaan pelakunya hanya masyarakat awam. Tapi sesungguhnya ada jaringan yang tidak nampak dipermukaan dalam kasus PETI. Penambang emas adalah orang yang dibayar sejumlah pemodal lokal dan dibacking elit lokal.

Sebagaimana informasi yang menyebutkan bahwa di lokasi tiga kawasan pertambangan emas tersebut diperkirakan deposit emas luar biasa. Untuk kawasan Sihayo diperkirankan depositnya mencapai 40,5 ton emas dan Sambung 3,8 ton emas. Deposit emas yang cukup tinggi tersebut tentunya berdasarkan perhitungan kasar saja jelas sangat menggiurkan untuk dikeruk terus menerus oleh para penambang. Ini juga merupakan faktor pendorong semakin tingginya animo masyarakat untuk terus dilanda deman berburu emas dan mengali emas di perut bumi Gordang Sembilan.

Merkuri si pembunuh

Pertambangan emas dengan model menggali lobang-lobang beberapa meter di bawah tanah, sudah pasti akan meninggalkan bekas lobang-lobang terbuka yang tidak ditutup kembali. Bekas lobang-lobang galian di atas bukit tersebut akan sangat berbahaya ketika hujan turun. Erosi dan longsor akan mudah terjadi. Kondisi yang demikian ini juga berdampak terhadap sungai yang berada di sekitar kawasan penambangan emas, yakni Aek Gajah. Aek Gajah menjadi sangat keruh pada saat musim hujan dan menampung semua sisa-sisa limbah yang berasal dari merkuri (Hg). Harus diingat bahwa pertambangan emas PETI menggunakan air yang sangat banyak dalam proses pemisahan biji-biji emas dari bebatuan dan bahan galian tempat emas terkandung.

Dari semua aktivitas PETI kawasan punggung Gunung Hutabargot, Gunung Sihayo dan Gunung Sambung yang paling berbahaya adalah limbah yang berasal dari merkuri yang dipergunakan untuk mengikat emas dari bebatuan dan bahan galian lainnya. Para penambang emas dalam penggunaan merkuri di tiga lokasi pertambangan dilakukan secara sembarangan. Hal ini dapat dilihat dari proses pembuangan begitu saja limbah merkuri yang berasal dari sisa proses pemisahan emas ke sungai, tanah atau lingkungan sekitarnya. Sungai menjadi tempat pembuatan akhir dari merkuri yang paling dominan dilakukan para penambang.

Penggunaan merkuri dalam pertambangan emas telah berlangsung selama berabad-abad karena racun tersebut mudah diperoleh, murah, mudah digunakan dan relatif efisien. Meskipun dampak yang ditimbulkan penggunan merkuri juga dirasakan sampai berabad-abad kemudian. Spanyol dan Amerika Serikat adalah dua Negara produsen (pengeksport) merkuri terbesar di dunia yang kini sudah menghentikan produksinya untuk menghindari pencemaran lingkungan. Kini Cina, Rusia, Meksiko dan Indonesia merupakan Negara-negara produsen terbesar merkuri sejak tahun 1992.

Merkuri merupakan salah satu unsur kimia sangat beracun (toxic) dan paling berbahaya terhadap lingkungan. Dalam proses pengolahan bijih emas yang dilakukan lewat amalgamasi di mana merkuri digunakan sebagai media untuk mengikat dan memisahkan butiran-butiran emas dari bebatuan. Endapan merkuri tersebut disaring dengan menggunakan kain untuk mendapatkan sisa emas. Endapan yang tersaring kemudian diremas-remas dengan tangan.

Adapun semua air sisa-sisa penambangan yang mengandung merkuri tadi dibiarkan begitu saja mengalir ke tempat yang lebih rendah seperti kolam ikan, selokan, parit, tanah dan sungai yang selama ini dijadikan sebagai sumber kebutuhan hidup masyarakat sehari-hari untuk mandi dan mencuci. Air bekas sisa-sisa merkuri tersubut juga mengalir sampai ke saluran irigasi yang selama ini gunakan untuk mengairi sawah, kolam ikan dan kebutuhan minum ternak.

Di samping itu merkuri tidak hanya mengalir di sungai, komponen-komponen merkuri juga akan banyak tersebar di tanah lokasi penambangan, kemudian di udara, dan organisme hidup yang bersenmtuhan dengan proses penggunaan merkuri tapi bisa melalui proses fisik, kimia dan biologi yang lambat atau cepat sudah pasti akan berdampak sangat buruk bagi lingkungan manusia dan maklup hidup lainnya.

Merkuri dapat terserap ke dalam tubuh melalui saluran pencernaan dan kulit. Bahkan uap dari merkuri saja sangat berbahaya jika terhisap oleh manusia, meskipun dalam jumlah yang sangat kecil. Pada proses pemanasan/pemijaran campuran biji emas dengan air raksa akan menguapkan air raksa yang ada, sehingga kegiatan ini harus dilakukan jauh dari pemukiman penduduk, dan dalam pelaksanaannya harus memperhatikan arah angin.Mercuri sengat mudah terakumulasi di lingkungan yang akhirnya meracuni manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroorganisme.

Merkuri menjadi suatu toksin yang bersifat dapat merusak bayi-bayi dalam kandungan, terganggunya sistem saraf pusat manusia, organ-organ reproduksi, sistem kekebalan tubuh, kerusakan rambut dan gigi, hilang daya. Insiden besar yang diakibatkan pencemaran merkuri sudah pernah terjadi di Minamata, Jepang (1950). Diperkirakan 1.800 orang meninggal dunia karena memakan hasil laut perairan lokal yang tercemar merkuri belum lagi jumlah bayi yang lahir dalam cacat.

Kerusakan tubuh yang disebabkan merkuri biasanya bersifat permanen, dan sampai saat ini belum dapat disembuhkan. Yang pasti merkuri sangat beracun bagi manusia dan hewan. Dengan sekitar 0,01 mg dalam tubuh manusia dapat menyebabkan kematian. Merkuri yang sudah masuk ke dalam tubuh manusia, tidak dapat lagi keluar. Merkuri bersifat racun yang kumulatif, dalam arti sejumlah kecil merkuri yang terserap dalam tubuh dalam jangka waktu lama akan menimbulkan bahaya.

Merkuri kini sudah terkonsentrasi dengan sungai Aek Gajah yang merupakan sumber air utama masyarakat Kecamatan Naga Juang untuk keperluan cuci, mandi, dan air minum. Masyarakat kabarnya sudah tidak bisa menggunakan air yang bersumber dari Aek Gajah sejak adanya aktivitas penambangan di Kecamatan Naga Juang. Bahkan masyarakat juga sudah tidak menggunakan air minum yang berasal dari sumur karena kuat diduga telah tercemar merkuri. Kini masyarakat terpaksa membeli air gallon yang datang dari Panyabungan.

Demikian juga yang terjadi di sepanjang sungai Batang Gadis yakni sekitar Jembatan Abdul Hakim Ritonga puluhan galundung beroperasi dan menggunakan merkuri dalam proses pemisahan emas. Kita tidak tahu pasti sudan berapa ribu liter air merkuri yang tertumpah ke sungai yang lambat laut akan merusak ekositem sungai, terutama ikan-ikan. Ikan biasanya memakan mikroorganisme (bakteri) yang ada dalam sungai yang sudah terkonsentrasi dengan merkuri. Karena ikan adalah organisme yang menyerap jumlah besar methyl raksa dari permukaan air setiap waktu, akan menyebabkan methyl raksa terdapat dalam tubuh ikan dan dalam rantai makanan akan dikonsumsi oleh manusia. Dampak yang ditimbulkannya bagi manusia adalah kerusakan ginjal, gangguan perut, intestines kerusakan, kegagalan reproduksi DNA dan perubahan.

Sebagaimana diketahui bahwa : “Pencemaran lingkungan adalah suatu keadaan yang terjadi karena perubahan kondisi tata lingkungan (tanah, udara dan air) yang tidak menguntungkan (merusak dan merugikan kehidupan manusia, hewan dan tumbuhan) yang disebabkan oleh kehadiran benda-benda asing (seperti sampah, limbah industri, minyak, logam berbahaya, dsb.) sebagai akibat perbuatan manusia, sehingga mengakibatkan lingkungan tersebut tidak berfungsi seperti semula (Susilo, 2003).

Dan itu yang sedang terjadi di Kabupaten Mandailing Natal sekarang ini. Akhirnya mari selamatkan bumi Mandailing Natal sesuai visi dan misinya yakni, “terwujudnya pembangunan masyarakat Mandailing Natal yang maju, mandiri, sejahtera, dan berwawasan lingkungan “.


Responses

  1. “Pikir Dulu sebelum bertindak”

    itulah kata2 mutiara yang cocok bagi mereka

    ^_^||@_@


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: