Posted by: effanzulfiqar | March 6, 2013

Anas dan Halaman Berikutnya…

 

“Saya yakin. Yakin. Satu rupiah saja Anas korupsi di Hambalang, gantung Anas di Monas,” (Anas Urbaningrum, 9 Maret 2012).

Pasca penetapan Anas Urbaningrum secara resmi sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam kasus dugaan korupsi proyek Hambalang  Jumat (22/2/2013) dan pengunduran diri sebagai Ketua Umum DPP Partai Demokrat sekaligus sebagai kader partai berlambang Mercy ini.

Sepertinya dalam beberapa minggu ke depan ruang publik kita akan terus disajikan cerita prahara politik di Partai Demokrat dan cerita ini akan terus bersambung karena seperti kata Anas masih ada halaman-halaman berikutnya yang tentunya jauh lebih menarik. Jangan-jangan memang Anas memegang kartu as elite partainya.

Anas sebagaimana yang dikatakannya pada saat pengunduran dirinya ibarat bayi yang lahir tidak diharapkan. Menyebut apa yang terjadi dengan dirinya baru permulaan dan halaman pertama. Kata Anas masih banyak halaman berikutnya yang akan  dibuka dan baca bersama untuk kebaikan. Sudah pasti kalau terbuka halaman berikutnya tidak musatahil akan  memunculkan turbulensi politik yang maha dasyat.

Kita tidak tahu persis apa yang dimaksudkan Anas karena bahasa yang digunakan sangat simbolik. Tapi semua orang faham betul Anas sedang “mengancam” dan mengirim sinyal akan membuka semua kunci  “kotak pendora” yang melibatkat orang Partai Demokrat yang selama ini terkunci rapat dalam halaman-halaman berikutnya.

Ancaman Anas yang sangat simbolik tersebut tampaknya bukan main-main, tapi ia memang   serius sebagaimana yang disampaikannya dalam wawancara eksklusif dengan RCTI. Anas mengatakan pernah ikut dalam pertemuan antara Muhammad Nazaruddin dan Amir Syamsuddin. Ketika itu, menurut Anas, Amir meminta penjelasan dari Nazar mengenai aliran dana Hambalang.

Ketika Anas ditanya apakah IbasYudhoyono ikut menerima aliran dana Hambalang. Anas mengatakan lebih pantas Amir menjelaskannya dan bila Amir tak mau menjelaskan, barulah Anas bersedia menjawabnya.

Spekulasi keterlibatan Ibas menerima aliran dana Hambalang sebanyak 3,6 milyar sudah menyeruak ke public ketika kasus Nazaruddin pertama kali mencuat tahun 2011. Ibas sendiri langsung membantah menerima aliran dana Hambalang. Ibas menyebut tudingan tersebut tidak benar dan tidak berdasar dan yakin 1.000 persen tidak menerima. Begitu berhembus dugaan Ibas menerima uang dokumen soal keterlibatannya tersebar di DPR.

Apapun yang disampaikan Anas yang akan membuka halaman-halaman berikutnya, pertanyaannya apakah ia punya keberanian melakukannya?. Diperlukan keberanian luar biasa untuk mengungkap halaman-halaman berikutnya.  Apakah termasuk halaman berikutnya  yang dimaksud Anas untuk membongkar aliran dana skandal Bank Century senilai Rp 6,7 triliun.

Terbesit kabar Anas sudah berjanji membongkar kasus tersebut seperti yang disampaikannya kepada  Ketua DPP Partai Hanura Yuddy Chrisnandi dan Ketua DPP Golkar Priyo Budi Santoso ketika bertemu di rumah Anas. Termasuk siapa saja yang menerima aliran dana  bailout Bank Century. Menurut Yuddy kasus ini termasuk halaman berikutnya yang dimaksud Anas dalam pidatonya saat pengunduran dirinya sebagai ketua DPP Partai Demokrat.

Namun, semua ancaman yang ditebarkan Anas tidak terlalu ditanggapi oleh para elite Partai Demokrat. Sebaliknya mereka menantang Anas untuk membongkar aib Partai Demokrat kalaulah ia bisa membuktikannya. Wakil Ketua Dewan Pembina sekaligus anggota Majelis Tinggi Partai Demokrat Marzuki Alie mempersilakan Anas untuk buka-bukaan kalau memang ada hal-hal yang tidak baik dan ada sesuatu yang perlu dibongkar dalam Partai Demokrat.

Senada dengan Marzuki Alie, anggota Dewan Pembina Partai Demokrat Hayono Isman juga menantang Anas untuk membongkar borok Demokrat. Hayono mendukung penuh mantan ketua umum PB HMI itu jika memiliki bukti untuk membuka halaman 2 dan 3.

Anas seolah akan terus menebar ancaman dan menabuh genderang perang melakukan perlawanan terhadap siapa saja yang dianggapnya telah mejadi Sengkuni yang menyebabkan ia terlempar dari Partai Demokrat. Karena Anas sangat yakin penetapannya sebagai tersangka syarat dengan muatan politis bukan hukum.

Hal itu diyakininya ketika ia diminta fokus oleh SBY untuk menyelesaikan kasus hukum dan sejak itu katanya dia sudah sangat yakin akan menjadi tersangka. Orang seperti Anas yang begitu santun dan kalem menggunakan kalimat-kalimat yang sangat vulgar sudah tentu ia tidak main-main dan serius dengan apa yang dikatakannya.

Sebaliknya Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud Md (26 Februari 2013), menyebut kasus Anas adalah kasus hukum bukanlah hasil politisasi. Menurut dia, tanpa adanya politisasi. Anas akan tetap ditetapkan sebagai tersangka. Katanya : “Ingat ya, saya tidak sependapat dengan orang yang mengatakan kasus Anas itu dipolitisi. Gak ada yang politis”. Lebih tegas Mahfud mengatakan : “Apakah Anas atau bukan, kalau korupsi sikat saja. Negara kita mau ambruk: jadi jangan kalau teman korupsi kemudian ditutupi”.

Sepertinya Anas tidak mau menjadi korban untuk digantung di Monas sendirian. Sebagaimana Nazaruddin, Anas juga akan melakukan seperti yang dilakukan Nazaruddin akan bernyanyi lebih keras lagi menyebut satu persatu koleganya dulu di Partai Demokrat yang menerima aliran dana Hambalang.

Semuanya akan dibuka Anas halaman demi halaman sampai semuanya terbaca oleh publik.  Bisa jadi Anas juga akan membuka dugaan kecurangan dalam Pemilu dan Pilpres 2009 semasa ia menjadi anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebelum meloncat ke Partai Demokrat.

Perlawanan Anas juga ditunjukkannya dengan menulis banyak status di BlackBerry Messenger seperti yang ditulisnya tanggal 25 Februari isinya : “Adigang Adigung Adiguna”. Isi status tersebut menunjukkan bahwa ia ingin mengatakan sedang dalam posisi teraniaya. Anas menyidir orang-orang yang sedang mempraktekkan perilaku adigang, adigung dan adiguna terhadap dia.

Tanggal 3 Maret Anas Urbaningrum kembali melontarkan pernyataan di jejaring sosial  akun Twitternya. Ia menulis :  “Jadi pemimpin jangan gampang mengeluh”. Ada lagi kalimat :  “Jangan bermuka dua. Beda di depan beda di belakang”. Semua pernyataan tersebut menurut banyak pihak ditujukan untuk menyindir  Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat – SBY.

Kita berharap memang perlawanan yang dilakukan oleh Anas tidak kontra produktif, akhirnya menjadi boomerang karena dimamfaatkan oleh pihak ketiga yang sudah pasti memiliki agenda dan kepentingan politik yang tersembunyi. Banyak sudah tamu yang datang mengunjungi Anas tentunya dengan aneka macam motiv. Sulit menebak apa yang menjadi agenda pembicaraan mereka.

Dalam situasi yang demikian, tentunya sangat diharapkan Anas bisa lebih berfikir konstruktif dan rasional serta tetap berhati-hati dengan semua langkah yang diambilnya. Sehingga dapat memunculkan simpati publik sebagai orang yang teraniaya. Bukan sebaliknya menuai antipati karena hanya menyampaikan kabar bohong ke publik.

Sekaitan dengan keinginan kita semua mendukung pemberantasan korupsi yang sudah begitu akut di negeri ini, kita sangat setuju bila  Anas mau buka-bukaan dan menyebut siapa saja di partainya atau pihak lain yang terlibat kasus Hambalang atau kasus lain, sebagaimana yang ditantang beberapa petinggi Partai Demokrat. Anas harus mau menjadi whistle blower dan justice collaborator.

Anas jelas tidak mau tak mau jadi korban sendiri, ia sepertinya sudah bertekad menyeret elite Partai Demokrat lainnya. Artinya Anas sedang mengeluarkan jurus pamungkas: tiji tibeh, mati siji mati kabeh – mati satu mati semua. Maka ia pun akan terus bernyanyi keras. Kita berharap Anas tidak hanya asal bunyi, apalagi melemparkan rumor dan gossip-gosip politik untuk membangun citra dirinya sebagai orang yang teraniaya.

Sebagaimana Susno Duadji yang pada awalnya begitu bersemangat  untuk membongkar kasus korupsi dalam tubuh Mabes Polri. Faktanya nol besar. Semoga Anas tidak demikian halnya. Atau bisa jadi Anas sengaja mengulur-ulur waktu dengan bermanuver menebar ancaman sebagaimana yang dilakukan Susno sambil  menunggu peluang negoisasi dengan Partai Demokrat.

Yang pasti, apapun yang terjadi antara Anas dengan Partai Demokrat plus SBY sama sekali tidak ada untungnya bagi rakyat Indonesia. Opini public yang berkembang kini sudah terbelah dua pro Partai Demokrat – SBY anti Anas versus pro Anas anti SBY plus Partai Demokrat.

Bila semua yang mereka lakukan hanya mengedepankan dendam dan interest pribadi. Bukan untuk kepentingan bangsa yang lebih besar. Jelas akan melahirkan kegaduhan politik. Kita tunggu Anas membuka halaman demi halaman untuk kita baca bersama-sama.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: