Posted by: effanzulfiqar | March 6, 2013

Pilgubsu : Berebut Suara di Kantong Suku dan Agama

Pemilihan Gubenur Sumatera Utara (Pilgubsu) yang berlangsung tanggal 7 Maret 2013 ini sudah pasti akan melahirkan kompetisi  yang sangat ketat untuk memperebutkan suara pemilih sebanyak 10.295.013 orang yang terdaftar dalam DPT. Bila melihat peta kekuatan berdasarkan dukungan parpol boleh dikatakan semua pasangan calon gubernur mempunyai kekuatan yang merata.

Tapi sepertinya dalam Pilgubsu kali ini kekuatan dan mesin parpol bukan menjadi faktor penentu kemenangan pasangan calon lagi. Loyalitas dan militansi masa pendukung berdasarkan basis parpol tidak lagi menentukan kemenangan pasangan calon

Dilihat dari kekuatan parpol yang mengusung pasangan calon hanya pasangan nomor urut 1, Gus Irawan Pasaribu – Soekirman yang diusung gabungan parpol bukan berdasarkan pada perolehan kursi tapi akumulasi 23% suara dari 21 parpol. Karena dari 21 partai pengusul hanya Gerindra, PAN, Partai Kebangkitan Bangsa dan Gerindra yang memiliki kursi dan 18 parpol lain non kursi.

Sedangkan pengusulan pencalonan empat pasangan lainnya berdasarkan perolehan kursi. Pasangan calon gubernur nomor urut 2,  Effendi Simbolon – Jumiran Abdi diusulkan gabungan parpol   PDIP, PPRN, dan PDS yang mempunyai  21 kursi. Pasangan calon gubernur nomor urut 3, Chairuman Harahap – Fadly Nurzal diusulkan gabungan parpol  Golkar, PPP, Republikan, PPPI dan Partai Buruh dengan total jumlah kursi 20.

Adapun pasangan calon gubernur nomor urut 4 yakni Amri Tambunan – RE Nainggolan  yang hanya diusulkan Partai Demokrat yang memiliki 27 kursi. Sementara pasangan calon gubernur nomor urut 5, Plt Gubernur Sumut Gatot Pujo Nugroho – Tengku Erry Nuradi diusulkan gabungan parpol PKS, Hanura, PBR, Patriot dan PKNU dengan jumlah 17 kursi.

Bila melihat parpol yang mengusulkan lima pasangan calon gubernur  hanya  Gus Irawan Pasaribu yang didukung tiga parpol yang punya kursi, yakni Partai Gerindra, PAN, PKB. Selebihnya didukung oleh partai politik non kursi.

Sedangkan empat pasangan lainnya didukung parpol yang memiliki kursi di DPRD. Sekalipun memang perolehan hasil suara sah pada pemilu legislatif 2009 tidak satupun di antara parpol tersebut memperoleh angka lebih dari 30%.

Dilihat dari banyaknya jumlah kursi, jelas Demokrat yang unggul.   Dalam pemilu legislatif  yang lalu parpol berlambang mercy ini juga menang di hampir semua Kabupaten/Kota Sumut mengalahkan Golkar, PDIP, PPP dan PKS. Pertanyaannya apakah kekuatan Demokrat masih relevan dengan kondisi pertarungan Pilkada 2014?

Sulit memprediksinya, karena di banyak Pilkada kekuatan parpol bukan lagi faktor penentu kemenangan pasangan calon seperti yang terjadi di Pilkada Jakarta. Parpol besar tidak menjadi jaminan kemenangan pasangan calon.

Pengelolaan Geopolitik?

Sejatinya, pasangan calon dan team sukses tidak mesti sepenuhnya  mengadalkan dukungan kekuatan dan mesin parpol semata untuk mendongkrak popularitas dan elektabilitas pasangan calon.  Kekuatan dan mesin parpol pengusul tidak sepenuhnya berbanding lurus dengan kemenangan pasangan calon.

Terlalu banyak permasalahan yang muncul dalam internal parpol belakangan ini yang menyebabkan masyarakat menjadi tidak terlalu tertarik lagi dengan ferformance  parpol.

Adanya kasus-kasus korupsi yang menimpa beberapa kader parpol pengusul plus mesin politik parpol yang terpecah dalam soal dukung mendukung pasangan calon dan konflik internal parpol sudah pasti tidak efektif dalam menarik dukungan suara dari basis masa parpol sendiri.

Publik tahu betul pencalonan dalam internal Demokrat, PDIP dan Golkar tidak berjalan dengan baik sehingga tidak terbangun soliditas dan solidaritas dukungan dari basis masa internal parpol kepada pasangan yang dicalonkan.

Asumsinya, kemenangan pasangan calon dalam Pilgubsu sepertinya akan lebih banyak ditentukan oleh kondisi-kondisi di luar kekuatan dan mesin parpol. Kemampuan untuk memahami dan mengelola fakta dan kondisi geografis, sosial dan etnik dominan menjadi faktor yang menentukan bagi keberhasilan pasangan calon untuk memenangkan Pilgubsu. Pasangan calon yang mampu mengusai secara baik geografis, sosial dan kemajemukan etnik para pemilih, memiliki  peluang paling besar untuk menang.

Wilayah Tapanuli Bagian Selatan (Tabangsel) didiami etnik Batak Mandailing – Angkola – Sipirok  – meliputi Kabupaten Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, Kota Padangsidimpuan dan Kabupaten  Padang Lawas dan Padang Lawas Utara. Di sini sepertinya akan terjadi pertarungan sangat ketat antara Gus Irawan Pasaribu dan Chairuman Harahap yang keduanya memang  berasal dari daerah tersebut. Adapun peluang untuk pasangan calon lain untuk mendulang suara di wilayah Tabagsel jelas masih sangat terbuka lebar.

Untuk wilayah bagian Tengah, Utara dan sebagian wilayah Selatan yang mayoritas didiami  oleh etnik Batak Toba – Simalungun – Karo – Dairi dan Pakpak dengan wilayah meliputi Kabupaten Tapanuli Utara, Toba Samosir, Humbang Hasundutan, Pakpak Barat,  Simalungun, Kota Siantar dan Kabupaten Karo, Kabupaten Dairi,  akan terjadi perebutan suara antara oleh RE Nainggolan dan Effendi Simbolon yang sama-sama beragama Kristen.

Sebagaimana diketahui wilayah ini mayoritas didiami oleh umat Kristiani. Sekalipun memang sebagian suara umat Kristiani bisa saja memilih pasangan yang beragama Islam. Sebagaimana Chairuman dan Gus Irawan juga  memiliki jaringan yang dapat diandalkan berkat kunjungan-kinjungannya yang intensif ke daerah-daerah itu.

Sedangkan wilayah pesisir yang meliputi Kabupaten Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga diperkirakan juga akan terjadi pertarungan perebutan di antara kelima pasangan calon dan tidak ada sepertinya yang akan mayoritas mendulang suara. Sementara wilayah Pulau Nias yang meliputi Kota Gunung Sitoli, Kabupaten Nias, Nias Utara, Nias Barat dan Nias Selatan.

Wilayah ini dianggap tidak menarik bagi pasangan calon mengingat wilayah Pulau Nias dengan satu kota dan empat kabupaten jumlah pemilihnya sangat sedikit. Pertarungan perebutan suara sepertinya di wilayah ini tidak begitu ketat terjadi antara pasangan calon.                        Tetapi ada suatu pengecualian di sini. Ingat bahwa pada periode awal demokrasi pasca reformasi ada politik blok di sini. Partai Pelopor yang tidak begitu kelihatan di wilayah lain, di sini bisa mendominasi. Siapa yang bisa merebut perhatian dari kewibawaan tradisional di sini akan sukses.

Sebagaimana diketahui bahwa  peta kekuatan etnik Melayu berada di sepanjang pesisir pantai Timur yang meliputi wilayah  Kabupaten Asahan, Batubara, Labuhan Batu, Labuhan Batu Utara, Labuhan Batu Selatan, Kota Tanjung Balai, Kota Tebing Tinggi, Kabupaten Serdang Bedagai, Deli Serdang, Langkat, Kota Binjai dan Medan.  Pertarungan untuk medulang suara dari kalangan etnik Melayu akan berhadapan Fadly Nurzal, Tengku Erry Nuradi, Amri Tambunan dan Gus Irawan.

Meskipun demikian tetap  tidak tertutup peluang bagi pasangan lain untuk mendulang suara dari kalangan etnik Melayu yang dulu waktu Pilgubsu 2009 menjadi lumbung suara yang mendongkrak kemenangan Syamsul Arifin. Kota Medan dengan jumlah pemilih cukup banyak sudah pasti akan menjadi wilayah pertarungan yang sangat menentukan bagi kelima pasangan calon.

Kota Medan dengan jumlah pemilih yang sangat signifikan dan didiami oleh multi etnis dan agama akan menjadi wilayah perebutan suara di antara lima pasangan calon. Keberhasilan mendulang suara di Kota Medan akan sangat menentukan bagi kemenangan pasangan calon dalam Pilgubsu.

Adapun suara etnik Jawa mendiami hampir seluruh wilayah Sumut yang  jumlahnya mencapai 30% dari seluruh total penduduk Sumut sudah pasti akan diperebutkan calon yang berasal dari etnik Jawa. Soekirman, Djumiran Abdi dan Gatot Pujo Nugroho mereka bertiga akan berlomba-lomba untuk mendulang suara yang berasal dari etnis Jawa.

Suara dari etnis Jawa jelas sangat signifikan jumlahnya bila pasangan calon mampu menarik suara tersebut secara bulat. Secara diam-diam orang tidak banyak tahu bahwa 35% dari total komunitas Jawa ada pada Chairuman. Ia membina Forum Komunikasi Warga Jawa sejak tahun 2004 dan nyaris tanpa motif politik yang menyebabkan kesetiaan yang tak tergoyahkan. Sejumlah eksperimen telah dilakukan oleh pasangan yang memiliki figur Jawa, tetapi sia-sia belaka.

Di antara ketiganya, Soekirman dianggap  mempunyai basis massa real sampai  ke akar rumput, karena keaktifan beliau yang begitu lama di organisasi  Pujakesuma yang kini berpecah tiga kubu. Adapun Gatot Pujo Nugroho sekalipun berasal dari etnik Jawa belum memiliki basis yang kuat di akar rumput.

Gatot masih dianggap sebagai Jawa “pendatang” bukan “Pujakesuma”. Sedangkan Djumiran Abdi sekalipun berasal dari etnis Jawa Pujakesuma,  boleh dikatakan sangat lemah dalam hubungan emosionalnya dengan akar rumput.

Sekalipun demikian yang pasti ketiga-tiganya sama-sama punya peluang besar untuk menarik suara sebanyak-banyak yang berasal dari etnis Jawa yang berada di akar rumput. Kekuatan figure, popularitas dan ikatan emosional menjadi faktor penentu dalam keberhasilan perburuan mendulang suara di kalangan etnis Jawa di antara mereka bertiga.

Kemampuan untuk mendongkrak elektabilitas masing-masing pasangan calon diakhir-akhir masa kampaye menjadi kunci keberhasilan untuk meraup suara mayoritas dari kalangan etnis Jawa.

Penutup

Politik aliran yang berbasis agama dan suku masih sangat kuat main streamnya dalam Pilgubsu. Berkaca kepada kondisi geografis, sosial-budaya dan etnik masyarakat Sumut yang sangat majemuk sulit memperediksi siapa yang akan menang dalam satu putaran. Sepertinya Pilgubsu kali ini akan berlangsung dalam dua putaran karena kuatnya persaingan di antara pasangan calon.

Setiap pasangan calon sudah pasti menginginkan bisa menang dalam satu putaran. Kalau harus maju dalam putaran kedua jelas akan lebih banyak menguras uang dan energi. Di samping itu putaran kedua merupakan pertarungan hidup mati bagi pasangan calon.

Tetapi harus tetap kita ingat hitungan-hitungan seperti ini selalu rawan dengan kemelesetan terutama karena tidak menghitung faktor “operasi money politic” yang bisa membalikkan peta. Termasuk kecurangan dalam perhitungan suara, yang mungkin saja bisa terjadi. Kita lihat saja nanti. Semoga Pilgubsu 7 Maret 2013 ini bukan hajatan untuk membeli kucing dalam karung. Selamat memilih dan menjadi pemilih cerdas bagi seluruh warga Sumut.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: