Posted by: effanzulfiqar | April 17, 2013

Stop Penutupan Jalan Untuk Hajatan

“Orang mukmin yang paling baik ke-Islamannya ialah ketika orang lain merasa aman dan nyaman dari kata-kata maupun perbuatannya” (HR. Thabrani dan Ibnu Umar).

Fenomena penutupan jalan umum untuk kepentingan pesta pernikahan dan hajatan lain sepertinya sudah menjadi sesuatu yang dianggap hal yang biasa saja di negeri ini. Di hampir semua kota, termasuk di tempat tinggal saya Kota Padangsidimpuan kebiasaan menutup jalan ketika ada pesta pernikahan sudah dianggap sebagai bentuk kebanggan berselimut kesombongan, kalaupun menimbulkan masalah bagi banyak orang. Penutupan jalan untuk kepentingan pribadi sesungguhnya telah merampas hak-hak pengguna jalan dengan semena-mena.

Yang tidak masuk akal pestanya baru hari Sabtu atau Minggu. Hari Jumat atau Sabtu jalan sudah ditutup habis. Yang paling luar biasa ditempat saya kalau pestanya “margondang”, yang acara sampai dua hari. Jalan umum sudah ditutup mulai hari Jumat, bahkan ada yang hari Kamis sore sudah diblokir habis jalan. Padahal hari Kamis, Jumat dan Sabtu belum hari libur sekolah atau kantor. Bisa dibayangkan betapa repotnya para pengguna jalan yang harus memutar atau berbelok arah. Tidak jarang, jalan yang ditutup satu-satunya akses jalan yang paling cepat untuk mencapai sekolah atau kantor.

Mungkin menutup jalan karena adanya peristiwa kematian masih bisa ditolerir. Karena peristiwa kematian bukan hal yang diinginkan dan bisa saja terjadi secara tiba-tiba. Beda dengan pesta pernikahan yang merupakan sebuah acara bernuansa kegembiraan yang sudah direcanakan jauh hari sebelumnya. Jadi bukan peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba. Artinya, penutupan jalan semestinya bisa dihindari yang punya hajatan pesta sehingga tidak merugikan banyak pengguna jalan.

Apapun alasannya menutup jalan umum untuk pesta pernikahan apalagi dengan menutup habis jalan adalah tindakan yang sangat tidak beradab dan beretika, atau bahasa yang lebih ekstrim, tindakan yang sedikit agak “biadab”. Apalagi tanpa pemberitahuan dan permohonan maaf atas penutupan jalan. Anehnya, penutupan jalan sekalipun banyak yang tidak sesuai dengan ketentuan dalam UU Nomor 12 Tahun 2009 Pasal 128 selalu diizinkan oleh pihak Kepolisian setempat. Hebatnya, yang punya hajatan selalu mengatakan sudah punya izin. Benar ada atau tidak ada izin, yang pasti hanya Kepolisian yang tahu.

Dalam UU Nomor 12 Tahun 2009 Pasal 128 menyangkut tata cara penutupan jalan disebutkan : Penggunaan jalan diluar peruntukannya dapat diizinkan jika ada jalan alternatif. Penutupan jalan nasional dan jalan provinsi dapat diizinkan hanya untuk kepentingan umum yang bersifat nasional. Penutupan jalan kota/kabupaten dan jalan desa dapat diizinkan untuk kepentingan umum yang bersifat nasional, daerah, dan/atau kepentingan pribadi. Pelaksanaan pengalihan lalu lintas akibat penutupan jalan tersebut harus dinyatakan dengan rambu lalu lintas sementara. Pemberian izin sepenuhnya berada di tangan pihak Kepolisian setempat. Bila sudah diberikan izin penutupan jalan, maka pihak Kepolisian harus menempatkan personilnya di jalan yang dialihkan sementara.

Ironisnya, ketentuan tersebut kerap dilanggar oleh yang punya hajatan, terutama mereka yang punya kuasa, uang dan pengaruh. Penutupan jalan untuk kepentingan pribadi seperti resepsi pernikahan hanya diizinkan untuk jalan kota/kabupaten dan jalan desa. Bukan jalan nasional dan provinsi. Tapi faktanya penutupan jalan nasional dan provinsi untuk kepentingan pribadi bukan hal yang baru lagi tapi sudah hal yang dianggap biasa saja. Kita tidak tahu kenapa diberikan izin oleh pihak Kepolisian atau memang yang punya hajatan punya kekuasaan melebihi kekuasaan Kepolisian?. Entahlah!

Meskipun ada jalan alternatif disediakan, tak jarang jalan itu hanya berupa lorong kecil atau gang sempit yang sangat sulit bagi kenderaan untuk melewatinya apalagi kalau jalan alternatif tersebut dua arah. Bisa dibayangkan betapa sulitnya pengendara mobil bila tiba-tiba harus berpaspasan karena tidak bisa dilewati dua kenderaan sekaligus. Yang terjadi kemudian adalah antrian dan kemacetan panjang. Hal ini diperparah oleh tidak adanya personil kepolisian yang ditempatkan untuk mengatur kesemerawutan yang terjadi.

Saya kadang tidak habis pikir kenapa harus menutup jalan untuk acara pernikahan yang kemudian memunculkan caci maki dan sumpah serapah dari para pengguna jalan. Bukankah resepsi pernikahan ajang meminta doa restu dari para tamu dan khalayak ramai agar pernikahannya diberkahi Allah SWT, sehingga sang pengantin bisa mewujudkan keluarga sakinah mawadah wa rohmah. Bukan sebaliknya para pengguna jalan menjadi jengkel, kesal, marah dan mengumpat yang punya hajatan karena akses jalan diblokir habis. Bila ini yang terjadi, pesta pernikahan yang diharapkan bertabur doa justru bertabur sumpah serapah. Tentunya acara pesta pernikahan yang intinya meminta doa restu tersebut akan menjadi sia-sia.

Menggelar hajatan tidak ada larangannya, tapi kalau sudah mengganggu kepentingan umum, jelas sangat bertentangan dengan tujuan pernikahan itu sendiri. Apalagi bila jalan umum yang ditutup itu jalan penting dan utama. Hemat saya, hukumnya sudah menjadi “haram”. Jangankan menghalangi orang yang lewat, kalau saja ada aral melintang atau ada onak duri di jalan menjadi kewajiban kita untuk menyingkirkannya. Konon lagi menutup jalan secara sengaja untuk kepentingan pribadi. Artinya, menghalangi perjalanan orang lain merupakan sebuah perbuatan yang salah besar dan tidak terpuji menurut kacamata agama.

Dari sudut pandang sosiologis, menutup jalan untuk pesta pernikahan sepertinya menjadi kebanggaan yang berbalut dengan gengsi. Seolah-olah ukuran sukses dan kemeriahan pesta indikatornya adalah ditutup atau tidaknya jalan umum dan sepanjang berapa meter kemacetan terjadi. Indikator ini sering dijadikan bahan cerita oleh yang punya hajatan sebagai ukuran kesuksesan hajatan yang dibuatnya dan ini sebuah fakta. Naudzubillah min zalik bila ukuran suksesnya sebuah pesta adalah kesusahan bagi banyak orang.

Mari kita renungkan dan fikirkan kembali apakah cara berpesta yang lebih banyak mendatangkan kesusahan bagi orang banyak dengan cara menutup jalan merupakan perilaku yang benar dan terpuji? Apakah pesta pernikahan yang diselenggarakan dengan menutup habis jalan bisa dibenarkan sebagai bentuk wujud syukur atas pernikahan sekalipun berbalut caci maki dan sumpah serapah dari para pengguna jalan? Apakah pesta pernikahan yang kemudian menyebabkan kesusahan para pengguna jalan dapat menaikkan gengsi yang punya hajatan atau hanya sekedar ingin menunjukkan kuasa, pengaruh dan kesombongan atas kekayaan yang dimiliki ?

Akhirnya, sangat benar arti hadis yang dikutip diawal tulisan ini bahwa orang mukmin yang paling baik ke-Islamannya ialah ketika orang lain merasa aman dan nyaman dari kata-kata maupun perbuatannya. Bukan sebaliknya, karena perbuatan menutup habis jalan untuk kepentingan pribadi membuat banyak orang menjadi tidak nyaman dan kesusahan. Mari kita ingat kembali pesan orang bijak yang mengatakan : “Hidup ini jangan suka menutup (menghalangi) jalan orang, nanti di akherat jalanmu akan ditutup Allah Swt”.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: