Posted by: effanzulfiqar | April 17, 2013

Menutup Jalan Haram

“Orang mukmin yang paling baik ke-Islamannya ialah ketika orang lain merasa aman dan nyaman dari kata-kata maupun perbuatannya” (HR. Thabrani dan Ibnu Umar)).

 Judul tulisan ini sengaja diambil dari judul berita di halaman depan WASPADA tanggal 23 Oktober 2017, Menutup Jalan Haram. Hasil muzakarah perihal hukum menutup jalan  yang digelar Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara di Aula Kantor MUI tanggal 22 Oktober 2017. Dua pembicara, Dr.H.M. Jamil, MA dan H.M. Tohir Ritonga, LC, MA, menyebut penutupan jalan untuk pesta dan hajatan yang tidak terkait dengan kepentingan publik hukumnya haram.

Faktanya, fenomena penutupan jalan umum untuk kepentingan pesta pernikahan dan hajatan sepertinya sudah menjadi sesuatu yang dianggap hal yang biasa saja di negeri ini. Di hampir semua kota, termasuk di tempat tinggal saya Kota Padangsidimpuan kebiasaan menutup jalan ketika ada pesta pernikahan atau hajtan lainnya –  sudah dianggap sebagai hal yang biasa-biasa saja. Kalaupun penutupan jalan menimbulkan banyak masalah bagi pengguna jalan.

Penutupan jalan untuk kepentingan pribadi sesungguhnya telah merampas hak-hak para pengguna jalan dengan semena-mena. Yang tidak masuk akal pestanya baru hari Sabtu atau Minggu. Hari Jumat atau Sabtu jalan sudah ditutup sebahagian. Padahal hari Jumat dan Sabtu belum hari libur sekolah atau kantor. Bisa dibayangkan betapa repotnya para pengguna jalan yang harus memutar arah karena tidak bisa lewat. Tidak jarang, jalan yang ditutup menjadi satu-satunya akses jalan yang paling cepat untuk menuju tujuan.

Menutup jalan karena adanya peristiwa kematian masih bisa ditolerir dan dibenarkan. Karena peristiwa kematian bukan hal yang diinginkan dan bisa saja terjadi secara tiba-tiba. Beda dengan pesta pernikahan yang merupakan acara bernuansa kegembiraan yang sudah direncanakan jauh hari sebelumnya. Jadi bukan peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba. Penutupan jalan semestinya bisa dihindari yang punya hajatan sehingga tidak merugikan banyak pengguna jalan.

Apapun alasannya menutup jalan umum untuk pesta pernikahan misalnya, apalagi dengan menutup habis jalan adalah tindakan yang sangat  tidak beradab dalam bahasa yang lebih ekstrim, tindakan yang sedikit agak “biadab” karena secara sengaja merampas hak-hak para pengguna jalan. Apalagi tanpa pemberitahuan dan permohonan maaf atas penutupan jalan.

Penutupan jalan sepanjang yang bisa dimati di lapangan banyak yang tidak sesuai dengan ketentuan dalam UU Nomor 12 Tahun 2009 Pasal 128 yang harus ada izin pihak Kepolisian setempat. Hebatnya, yang punya hajatan selalu mengatakan sudah punya izin bila dipertanyakan. Benar tidaknya  ada izin, yang pasti hanya Kepolisian yang tahu karena lembaga ini yang berwenang memberikan izin.

Tata cara penutupan jalan disebutkan hanya penggunaan jalan diluar peruntukannya dapat diizinkan jika ada jalan alternatif. Sedangkan untuk penutupan jalan nasional dan jalan provinsi tidak bisa ditutup untuk kepentingan yang bersifat pribadi hanya diperuntukan untuk kepentingan yang bersifat nasional.  Sebaliknya penutupan jalan kota/kabupaten dan jalan desa dapat diizinkan untuk kepentingan umum yang bersifat nasional, daerah, dan/atau kepentingan pribadi.

Penutupan jalan kota/kabupaten dan desa hanya diizinkan untuk kepentingan pribadi bila ada jalan alternatif dan pelaksanaan pengalihan lalu lintas akibat penutupan jalan tersebut harus dinyatakan dengan rambu lalu lintas sementara. Adapun pemberian izin sepenuhnya berada di tangan pihak Kepolisian setempat. Bila sudah diberikan izin penutupan jalan, maka  pihak Kepolisian harus menempatkan personilnya di jalan yang dialihkan sementara. Ironisnya, ketentuan tersebut kerap dilanggar oleh yang punya hajatan, terutama mereka yang punya kuasa dan uang.

Meskipun ada jalan alternatif disediakan, tak jarang jalan itu hanya berupa jalan/gang kecil  yang sangat sulit bagi kenderaan untuk melewatinya apalagi kalau jalan alternatif tersebut digunakan dua arah. Bisa dibayangkan betapa sulitnya pengendara mobil bila tiba-tiba harus berpapasan karena tidak bisa dilewati dua kenderaan sekaligus. Yang terjadi kemudian adalah antrian dan kemacetan panjang. Hal ini diperparah tidak adanya personil kepolisian yang ditempatkan untuk mengatur kesemerawutan yang terjadi.

Saya kadang tidak habis pikir kenapa harus menutup jalan untuk acara pernikahan yang kemudian memunculkan caci maki dan sumpah serapah dari para pengguna jalan. Bukankah resepsi pernikahan ajang meminta doa restu dari para tamu dan khalayak ramai agar pernikahannya diberkahi Allah SWT, sehingga sang pengantin bisa mewujudkan keluarga  sakinah mawadah wa rohmah.

Bukan sebaliknya, para pengguna jalan menjadi jengkel, kesal, marah dan mengumpat terhadap yang punya hajatan  karena akses jalan satu-satunya ditutup. Bila ini yang terjadi, pesta pernikahan yang diharapkan bertabur doa justru akan bertabur sumpah serapah. Tentunya acara pesta pernikahan yang intinya meminta doa restu dari tamu yang datang akan menjadi sia-sia, karena lebih banyak yang mengumpat dan memaki dari yang merasa haknya sebagai pengguna jalan dirampas begitu saja.

Menggelar hajatan tidak ada larangannya, tapi kalau sudah mengganggu kepentingan umum, jelas sangat bertentangan dengan tujuan  pernikahan itu sendiri. Apalagi bila jalan umum yang ditutup  itu jalan penting dan utama. Hukumnya sudah menjadi “haram”. Jangankan menghalangi orang yang lewat, kalau saja ada aral melintang atau ada onak duri  di jalan menjadi kewajiban kita untuk menyingkirkannya. Konon lagi menutup jalan secara sengaja untuk kepentingan pribadi.

Menutup jalan untuk pesta pernikahan berubah dari hal yang baik menjadi ria dan lebih banyak mudoratnya. Seolah-olah ukuran sukses dan kemeriahan pesta disimbolikkan dengan   penutupan jalan umum plus terjadinya kemacetan panjang. Yang punya hanyatan sepertinya merasa bangga dengan kondisi seperti itu. Naudzubillah min zalik bila ukuran meriah dan megahnya sebuah pesta mengakibatkan kesusahan bagi banyak orang.

Pertanyaannya, apakah hanjatan yang lebih banyak mendatangkan kesusahan bagi orang banyak dengan cara menutup jalan merupakan perilaku yang benar dan terpuji? Apakah hajatan yang diselenggarakan dengan menutup jalan bisa disebut sebagai sesuatu yang benar secara sosial meskipun mendapat caci maki dan sumpah serapah dari para pengguna jalan? Apakah pesta pernikahan yang menimbulkan kesusahan bagi pengguna jalan dapat menaikkan gengsi yang punya hajatan? Atau hanya sekedar ingin menunjukkan kuasa dan kekayaan yang dimiliki ?

Yang pasti, bahwa orang mukmin yang paling baik ke-Islamannya ialah ketika orang lain merasa aman dan nyaman dari kata-kata maupun perbuatannya. Bukan sebaliknya, karena perbuatan menutup jalan untuk kepentingan pribadi membuat banyak orang menjadi tidak nyaman dan kesusahan.  Mari kita ingat kembali pesan orang bijak : “Hidup ini jangan suka menutup (menghalangi) jalan orang, nanti di akherat jalanmu akan ditutup Allah Swt”.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: