Posted by: effanzulfiqar | August 27, 2013

Catatan Kaki Untuk Timsel KPU Kab/Kota

Buruknya proses seleksi anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU), provinsi dan kabupaten/kota, sebelumnya dinilai sebagai salah satu faktor utama yang membuat kualitas para komisionernya rendah di semua tingkatan penyelenggara. Tidak berkualitasnya komisioner KPU, terutama di tingkat provinsi dan kabupaten/kota, dituding banyak pihak sebagai penyebab amburadulnya penyelenggaraan pemilu 2009, termasuk kualitas Pemilukada sepajang penyelenggaran tahun 2009-2103 yang lebih banyak mengandung masalah.

Data pemilih yang amburadul, manipulasi hasil pemilu, sengketa hasil pemilu dan pelanggaran kode etik, adalah rangkaian fakta dari kekacauan pelaksanaan Pemilu 2009 yang terjadi di banyak tempat. Demikian juga pelaksanaan Pemilukada yang menuai banyak masalah yang harus diputuskan di Mahkamah Konstitusi. Termasuk konflik yang berkepanjangan karena ketidak-netralan dan keprofesionalan penyelenggara Pemilukada. Semua ini tidak mesti terjadi bila proses seleksi penyelenggara pemilu dilakukan dengan benar sejak awalnya.

Memang ketua KPU Husni Kamil Manik pernah mengatakan akan memperketat seleksi para calon komisioner provinsi dan kabupaten/kota untuk menekan terjadinya pelanggaran kode etik yang berbuntut pemecatan. Sepanjang tahun 2013 sudah ada 95 orang komisioner KPU yang dipecat Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu. Apa yang dikatakan Husni Kamil tersebut bertolak belakang dengan penetapan nama-nama Tim Seleksi (Timsel) komisoner KPU kabupaten/kota.

Sebagian nama-nama Timsel sama sekali tidak memiliki kompetensi dan pengetahuan bidang kepemiluan. Logikanya, bagaimana mungkin Timsel bisa memilih calon komisioner yang mumpuni bila mereka sendiri tidak mempunyai kompentesi dan pengetahuan soal kepemiluan? Tidak ada yang dilanggar KPU provinsi ketika menetapkan Timsel, sebab UU No. 15/2011 hanya mensyaratkan integritas dan tidak mengharuskan anggota Timsel memiliki pengetahuan atau pengalaman dalam bidang kepemiluan.

Tetapi meskipun prasyarat ini bersifat normatif, ada kompetensi yang secara jelas dituntut. Ketentuan pasal 27 Peraturan KPU Nomor 2 tahun 2013 tentang Seleksi Anggota Komisi Pemilihan Umum Provinsi dan Komisi Pemilihan Umum Kabupaten/Kota menyebut “materi seleksi wawancara merupakan pendalaman atas materi sistem politik, manajemen pemilu dan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan politik”.

Tanpa kompetensi dan pengetahuan yang mumpuni, akhirnya wawancara yang dilakukan selain tidak akan punya standard, juga bisa lebih sarat kepentingan pribadi. Timsel akan kelabakan karena tidak menguasai sepenuhnya materi, terutama jika dikaitkan dengan latar belakang pendidikan mereka yang sebagian besar bukan berlatar belakang hukum dan sosial politik. Bahkan tidak tertutup kemungkinan dalam wawancara akan terjadi penyimpangan dari materi yang ditetapkan karena penguasaan materi Timsel yang sangat minim.

Integritas adalah sesuatu yang susah diukur, atau katakanlah tidak usah dipermasalahkan. Tapi, integritas yang tidak didukung pengetahuan kepemiluan akan mendorong Timsel lebih termotivasi meloloskan orang-orang yang punya hubungan emosional dengan mereka untuk menjadi calon anggota KPU. Padahal, pasal 11 UU No. 15/2011 tentang Penyelenggara Pemilu, menyebutkan seharusnya orang-orang yang memiliki pengetahuan dan keahlian di bidang yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemilu atau memiliki pengalaman sebagai penyelenggaraan pemilu semestinya menjadi prioritas.

Hal lain yang patut diwaspadai adalah kemungkinan diloloskanya oleh Timsel calon anggota KPU kabupaten/kota yang aktif atau pernah terlibat dan belum lima tahun mengundurkan diri sebagai anggota partai politik. Ini bisa terjadi mengingat sebagian Timsel yang lolos karena kekuatan lobbying partai politik, penguasa/elit lokal. Diduga kuat ada beberapa anggota Timsel yang punya keterkaitkan kuat dengan partai politik dan penguasa/elit lokal tertentu.

Kita berharap proses seleksi calon anggota KPU kabupaten/kota se-Sumut yang sedang berjalan dilakukan tetap mengacu pada visi dan misi KPU yakni memilih penyelenggara pemilu yang profesional, berintegritas dan independen/nonpartisan. Tegasnya Timsel harus memilih calon komisioner yang: “mempunyai integritas, pribadi yang kuat, jujur, dan adil; memiliki pengetahuan dan keahlian yang berkaitan dengan penyelenggaraan Pemilu terutama dari bidang ilmu politik/pemerintahan, hukum, atau manajemen dan bersedia bekerja penuh waktu, yaitu tidak bekerja pada profesi lainnya selama masa keanggotaan”

Termasuk yang harus dipedomani Timsel empat strategi yang ditetapkan KPU. Pertama, seleksi berbasis kompetensi yakni mengutamakan calon-calon yang memiliki kompetensi dan pengalaman di bidang kepemiluan. Kedua, tim seleksi harus proaktif menjaring calon potensial dengan melakukan jemput bola. Ketiga, berkoordinasi lintas sektoral untuk memudahkan otentifikasi persyaratan para calon. Keempat, melibatkan masyarakat dalam proses seleksi dengan membuka ruang dan mendorong masyarakat memberikan masukan dan tanggapan terhadap proses seleksi dan profil calon.

Yang lebih penting dari semua itu untuk menjadi seorang komisioner harus bisa bekerja dalam sebuah tim yang bersifat kolektif dan kolegial. Mewujudkan solidaritas dan soliditas di antara anggota KPU bukan hal yang mudah. Faktanya dalam pengambilan keputusan lewat rapat pleno sering terjadi silang pendapat yang menyebabkan tidak utuhnya keputusan. Untuk itu seharusnya proses seleksi calon anggota KPU prinsipnya bukan hanya untuk meloloskan orang perorang semata – berdasarkan kepentingan setiap anggota Timsel. Yang dibutuhkan adalah orang-orang yang bisa bekerja dalam satu team work yang solid.

Adapun anggota KPU incumbent yang mencalon kembali dan punya catatan buruk terkait dengan masalah kemandirian dan integritas. Maka, orang-orang semacam ini mestinya tidak boleh kembali masuk menjadi penyelenggara pemilu sekalipun punya pengetahuan dan pengalaman dalam penyelenggaraan pemilu. Disinilah sangat diperlukan adanya keterlibatan publik untuk memberikan masukan terkait dengan jejak rekam calon anggota KPU yang ikut mencalon kembali.

Yang tidak kalah penting Timsel harus membuka ruang partisipasi publik untuk memberikan tanggapan kepada para calon yang sudah dinyatakan lulus seleksi tertulis, tes kesehatan dan tes psikologi. Dalam hal ini transparansi Timsel untuk menyampaikan ke publik hasil seleksi menjadi sangat penting artinya untuk mengurangi kecurigaan adanya kekuatan “uang dan kongkalikong” dalam proses seleksi sebagaimana yang terjadi pada priode sebelumnya. Bila hal ini tidak dilakukan maka kepercayaan masyarakat terhadap lembaga penyelenggaran pemilu ini secara kelembagaan dan personal akan meluncur kembali ke titik nadir.

Akhir kata, keberhasilan Timsel menseleksi 10 calon anggota KPU kabupaten/kota untuk dipilih KPU menjadi 5 orang merupakan salah satu kunci sukses penyelenggaran pemilu tahun 2014. Carut marut penyelenggaraan Pemilu 2009 dan banyak masalah dalam Pemilukada, tidak hanya bermuara dari “ketidakbecusan” secara kelembagaan KPU. Tetapi juga karena tidak adanya kemandirian, profesionalitas dan rendahnya kompetensi dan integritas komisioner KPU disemua tingkatan karena tidak berkualitasnya proses seleksi yang dilakukan. Kita berharap jangan sampai orang-orang titipan partai, penguasa/elit lokal dan para pencari kerja yang punya hubungan dengan Timsel yang lolos. Bila orang-orang seperti ini yang terpilih sudah pasti akan gampang terlibat manipulasi hasil pemilu nantinya.

KPU provinsi juga harus mampu meyakinkan masyarakat bahwa penyelenggara pemilu yang terpilih nantinya dari hasil seleksi Timsel merupakan orang-orang yang bisa dipercaya dan memiliki indepedensi, kompetensi, integritas dan kinerja lebih baik dari komisioner sebelumnya. Kunci dari demokrasi yang sehat sebagai sebuah sistem adalah ketika partisipasi publik makin tinggi. Kepercayaan publik yang makin menurun akan berbanding lurus dengan rendahnya partisipasi publik. Bila ini yang terjadi, sudah pasti demokrasi tidak bermakna apa-apa lagi, selain melahirkan kegaduhan dan banyak masalah karena sudah kehilangan “raison d’etre-nya”. Atau itu yang kita inginkan?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories