Posted by: effanzulfiqar | October 24, 2013

Sengman, Bunda Putri dan Kemarahan SBY

Ketika era Presiden Abdurrahman Wahid publik pernah dikejutkan dengan munculnya nama Suwondo sang tukang pijat yang disebut-sebut sebagai orang berpengaruh di lingkar kekuasaan pemerintahan Gus Dur. Setelah era Presiden SBY muncul nama Artalyta Suryani yang malang melintang di balik kasus Syam¬sul Nursalim yang dianggap sebagai orang kuat yang bisa menerobos tembok penegakan hukum.

Kini muncul dua nama yang disebut-sebut punya hubungan dekat dengan Presiden SBY, dua nama itu adalah Sengman dan Bunda Putri. Dua nama itu menurut Ridwan Hakim putra Ketua Majelis Syuro PKS Hilmi Aminuddin dan bekas Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq (LHI) dalam sidang kasus suap kuota impor daging sapi di Kementerian Pertanian yang melibatkan LHI dan Ahmad Fathanah punya kedekatan dengan SBY.

Bahkan menurut LHI, Bunda Putri tahu banyak informasi mengenai kebijakan reshuffle kabinet. Luthfi Hasan juga menyebut Bunda Putri bertugas untuk mengkondisikan orang-orang pengambil keputusan agar sesuai dengan apa yang dia mau. Adapun Sengman disebut Ridwan sebagai utusan SBY. Lima hari setelah muncul peryataan Ridwan, Menteri Koordinator Polhukam Djoko Suyanto menyatakan Presiden mengenal Sengman sebagai seorang pengusaha.

Pernyataan LHI yang menyebut kedekatan Bunda Putri dengan SBY ini sebenarnya yang menyulut reaksi kemarahan SBY. Kalau menyangkut Sengman, SBY tidak merespon peryataan yang dituduhkan anak Ketua Majelis Syuro PKS itu. Tapi terkait dengan pernyataan LHI soal Bunda Putri, SBY langsung bereaksi keras dengan menyebut LHI berbohong dan hanya ingin mengalihkan isu semata.

Dengan nada tinggi raut muka keras SBY mengatakan peryataan LHI seribu persen bohong dan dua ribu persen bohong terkait dengan kebijakan perombakan kabinet dan pergantian menteri termasuk kedekatannya dengan Bunda Putri. SBY menyebut apa yang dilakukannya adalah untuk menghentikan polemik menyangkut dugaan kedekatannya dengan sosok Bunda Putri. Di samping itu SBY tidak ingin rakyat jadi bingung dan percaya berita tersebut.

Banyak pihak menyesalkan sikap reaktif yang ditunjukan SBY terhadap penyataan LHI. Seharusnya Presiden bisa lebih arif dan elegan dalam menanggapi hal tersebut dengan menempuh jalur hukum dengan melaporkan LHI ke kepolisian melakukan perbuatan tak menyenangkan atau pencemaran nama baik. Bukan dengan marah-marah di hadapan publik.

Dikuatirkan sikap marah SBY yang berlebihan akan bisa mempengaruhi jalannya proses persidangan dugaan suap daging sapi impor yang melibatkan LHI itu. Kalaupun SBY ingin merespon pernyataan yang disampaikan LHI cukup menyuruh salah satu menterinya atau juru bicaranya.

Kita memang bisa memahami sikap SBY yang begitu marahnya sebagai sesuatu yang sangat wajar dan manusiawi karena nama SBY disebut-sebut berapa kali dalam persidangan pengadilan tindak pidana korupsi dugaan suap daging sapi impor yang telah menyeruduk banyak nama.

Untuk menuntaskan polemik tersebut seharusnya majelis hakim sebaiknya memanggil Bunda Putri ke persidangan untuk dikonfrontasi, termasuk adiknya Wakil Presiden Boediono. Sehingga semua menjadi terang benderang dan publik akan mengetahui siapa sebenarnya yang menjadi pembohong sejati. LHI yang menyebut-nyebut nama SBY hal yang biasa saja karena sudah menjadi hal yang biasa siapa saja yang terlibat korupsi cenderung menyebutkan dan melibatkan banyak orang dan menjadi tugas majelis hakim untuk membuktikan hal tersebut.

Di samping dua nama yang dianggap misterius yang muncul, sebenarnya masih ada beberapa nama sengaja disamarkan, seperti Dipo, Pak Lurah, Haji Susu dan Widhi. Nama-nama yang disamarkan itu mengindikasikan mafia kartel impor daging itu nyata adanya. Perselingkuhan penguasa dan pebisnis dalam kasus suap impor daging sapi tersebut tidak hanya melibatkan para tersangka tapi melibatkan banyak orang.

Nama-nama yang disebut dalam kasus suap impor daging sudah pasti menimbulkan pertanyaan dan opini yang menguatkan dugaan dalam lingkaran kekua¬saan pemerintah ada kekuatan orang-orang bayangan. Mereka ini bergerak bagai hantu dan punya peran dan pengaruh besar sebagai penghubung antara berbagai pihak yang punya kepentingan politik dan bisnis.

Fenomena kekuatan banyangan seperti sosok Sengman dan Bunda Putri bukan hanya terjadi di pusat. Kekuatan dari orang-orang bayangan yang tidak terlihat tersebut ada di daerah. Dalam lingkar pemerintah daerah justru paling masiv dan sistematis keberadaannya pasca otonomi daerah. Pengaruh mereka yang secara struktural tidak ada kaitan dengan pemerintah daerah tersebut cukup kuat. Dalam banyak kasus pembentukan daerah otonom, kekuataan orang-orang banyangan ini menjadi sangat menentukan.

Mereka bergerak di balik layar untuk mengatur dan memenuhi kebutuhan orang dalam lingkaran kekuatan pemerintah pusat dan daerah. Orang-orang yang bermain di balik layar pemerintah daerah dipercaya dan punya pengaruh besar serta mampu mengintervensi kebijakan pemerintah daerah. Ia diberi mandat baik secara langsung maupun tidak langsung oleh para pemegang kuasa.

Disinyalir hampir dalam setiap event Pemilukada peran kekuatan bayangan ini bermain tanpa diketahui. Bahkan kuat dugaan kerusuhan dalam Pemilukada yang menjadi provokator adalah orang-orang bayangan yang jagoannya kalah. Orang-orang bayangan ini terlibat dalam melobi para pengusaha, mendanai dan mencari sumber-sumber pendanaan yang diperlukan bagi calon kepala daerah yang diusung.

Peran kekuatan orang-orang bayangan itu memang kerap diingkari, kalaupun keberadaan mereka jelas merupakan sebuah fakta sebagai bagian dari lingkaran kekuasaan dalam pemerintahan itu sendiri. Ketergantungan pemerintah di tingkat pusat dan lokal terhadap mereka merupakan manifestasi nyata adanya transaksi politik dan relasi bisnis. Hal ini terjadi karena kebijakan yang tidak transparan yang dalam praktiknya sering terjadi di ruang-ruang gelap.

Kemunculan kekuatan bayangan yang begitu kuat mempengaruhi kebijakan pemerintah di tingkat pusat dan lokal sama dengan apa yang disebut oleh oleh William Reno (1995) dan Barbara Harriss – White (2003) dengan fenomena shadow state dan informal economy. Fenomena shadow state dan informal economy ini biasanya melibatkan mereka yang secara struktural bukan berada dalam lingkaran pemerintahan tapi di luar pemerintahan tapi punya pengaruh kuat.

Jadi, tidak perlu heran dengan keberadaan orang-orang seperti Sengman, Ahmad Fathanah, Bunda Putri dan banyak lagi orang-orang yang belum terungkap namanya tapi sesungguhnya mereka memang ada dan bermain di lingkar kekuasaan pemerintahan di tingkat pusat dan lokal. Mereka punya pengaruh dan memiliki kedekatan personal dengan pemegang kuasa di eksekutif, legislative dan yudikatif.

Siapakah Bunda Puteri yang begitu misterius ini? Sudah pasti selama belum ditemukan sosok sebenarnya siapa Bunda Puteri, maka akan terus menjadi pertanyaan yang memuculkan opini publik siapa sebenarnya yang sedang “berbohong”. Apakah SBY ataukah LHI? Yang pasti, LHI peryataannya di bawah sumpah, sementara SBY tegas menyatakan seribu persen, bahkan dua ribu persen LHI berbohong.

Sementara publik hanya punya informasi sedikit sosok Bunda Putri. Selama belum terungkap siapa sebenarnya Bunda Putri, maka bagi publik ia menjadi sosok yang ada atau rekaan semata? Kita tunggu saja kelanjutan cerita halaman berikutnya, sambil terus membaca cerita Century dan Hambalang yang belum jelas ujung ceritanya sambil kita baca juga cerita Akil Mohctar yang tidak kalah serunya.

(Tulisan ini pertama kali dimuat di harian WASPADA, Senin 14 Oktober 2013)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: