Posted by: effanzulfiqar | November 9, 2013

Politik Klenik Caleg

Kerap kita dengar untuk meraih “jabatan” harus punya modal 3D, yakni dekat, duit dan dukun. “Dekat”, bermakna siapa saja yang ingin menduduki jabatan harus memiliki kedekatan dengan sumbu kekuasaan. Tapi bermodalkan “dekat” saja tidak menjadi jaminan, karena mesti ada “duit” banyak dan ini paling menentukan. Adapun D terakhir yang tidak kalah pentingnya, selain dekat dan duit adalah, “dukun”.

Terkait dengan dukun, adalah Dr. KH Desembrian Rosyady S.Ag, SH, SE, MM, MBA, yang mengaku punya kelebihan menjadikan seseorang sukses dalam panggung politik. Ia dengan berani mengiklankan dan menawarkan jasa secara terbuka ke public. Ia menawarkan jasa konsultasi terutama kepada para calon anggota legislatif (caleg), calon kepala daerah, bahkan calon presiden bila ingin menang.

Desemberian Rosyadi yang akrab dipangil Ustad Rosyadi memberi jaminan 99% orang yang akan dibantunya bisa sukses mendapat kursi kekuasaan, kalaupun itu katanya tetap harus dengan izin Tuhan Yang Maha Kuasa. Sedangkan tarif jasa konsultasi untuk caleg tingkat kabupaten/kota Rp 100 juta, provinsi Rp 200 juta dan untuk DPR Rp 300 juta. Ia mengaku, mereka yang datang minta bantuannya terbukti sukses.

Barangkali beda antara Desemberian dan dukun-dukun politik lainnya, Ia secara terbuka berani mengiklankan dirinya punya kemampuan untuk membantu siapa saja yang ingin menang dalam pentas politik ke publik. Sementara dukun-dukun politik lain yang selama ini ikut meramaikan panggung politik di tingkat nasional dan lokal tidak pernah berani menyebut jati dirinya ke publik secara terbuka.

Permadi, SH salah satu politisi senior menyebut caleg tidak sedikit menggunkana jasa para dukun dan paranormal. Pegakuan sama dikatakan Ki Joko Bodo. Ia kerap mendapatkan klien caleg yang meminta jasa agar bisa menang. Mereka yang datang menemui Ki Joko Bodo ada caleg baru pertama mencalon dan termasuk caleg incumbent. Sejak Pemilu 2009 katanya ia sudah banyak didatangi para caleg agar bisa terpilih.

Disamping meminta bantuan agar terpilih, Ki Joko Bodo kerap juga diminta nasehat untuk mendapatkan daerah pemilihan dan nomor urut tertentu. Bahkan bila terpilih bisa ditempatkan di komisi tertentu. Tarif yang ditetapkan Ki Joko Bodo untuk meloloskan caleg berkisar Rp 1 miliar – Rp 10 miliar. Ki Joko menjamin kliennya akan mendapat hasil maksimal dalam Pemilu 2014 nanti.

Setelah membayar sejumlah uang, caleg biasanya diminta menjalankan proses ritual. Ada yang diharuskan mandi kembang, diberikan jimat berupa keris, batu akik sampai dengan Al Quran. Bahkan menurut Ki Joko Bodo dengan meminta bantuannya, caleg tak perlu lagi capek-capek untuk berkampanye. Katanya : “Enggak usah repot-repot turun ke dapil, langsung jadi. Wong yang mereka mau itu kok, bisa lolos tanpa pakai susah”.

Apa yang ditawarkan Desemberian, dan yang diceritakan Permadi dan pengakuan Ki Joko Bodo perihal caleg yang minta jasa bantuan dari dukun dan paranormal serta menjalani berbagai ritual yang berbau mistis dan klenik agar terpilih nantinya sah-sah sah saja. Tidak ada yang aneh sepanjang itu dianggap caleg bisa memberi efek menang. Aroma keterlibatan dukun dan para normal bukan cerita baru. Kabarnya, dukun politik laris manis menjelang pemilu.

Mungkin ada yang sempat menonton acara TV ONE, pagi tanggal 6/11/2013, dengan judul : “Ziarah Politik”. Kita bisa melihat bagaimana para caleg ramai-ramai mendatangi makam-makam keramat. Bahkan krew TV ONE menemukan puluhan gambar caleg yang diletakkan di atas makam dan di berada makam yang dikeramatkan. Yang oleh TV ONE menyebutnya dengan “Ritual Klenik Para Caleg”. Hebat bukan?

Penerapan sistem proposional terbuka dalam Pemilu Legislatif semakin membuka peluang dan harapan baru bagi para caleg untuk bisa terpilih. Kalaupun memberi keuntungan bagi para caleg dengan mekanisme itu, juga membuka peluang terjadinya “pertarungan” antar caleg bukan hanya antara partai berbeda bendera, bahkan pertarungan “diam-diam” antara teman satu partai dalam satu daerah pemilihan.

Tingginya kontestasi di antara para caleg dari partai yang sama atau beda partai politik telah mendorong mereka untuk melakukan segala cara sepanjang itu dianggap bisa mendukung kemenangan dalam perebuatan suara konstituen. Upaya meningkatkan popularitas dan elektabilitas para caleg tidak lagi sebatas hanya lewat media masa, selebaran, baliho, spanduk, pengobatan gratis, sunatan masal dan bagi-bagi sembako. Tapi juga melakukan hal-hal yang berbau mistis, klenik dan irasional.

Apa yang dilakukan oleh para caleg tersebut barang kali, dianggap mereka sebagai pilihan terbaik menurut mereka yang tak punya cukup rasa percaya diri bisa duduk menjadi anggota legislatif baik di pusat maupun di daerah tanpa harus bersusah payah mendekati konstituen dan mengeluarkan anggaran yang tidak sedikit jumlahnya.

Prilaku caleg yang masih sangat percaya dengan dunia klenik itu tidak bisa dilepaskan dari kultur masyarakat Indonesia yang masih sangat kental dengan hal-hal yang berbau mistis. Kultur berbau mistis yang demikian kuatnya sedikit banyaknya mempengaruhi caleg ditambah adanya keinginan kuat untuk menang walaupun menempuh cara-cara yang tidak rasional.

Hal ini terjadi karena kondisi sebagian caleg yang tidak punya rasa percaya diri dan dangkalnya rasa keimanan. Maka tidak heran kalau kemudian caleg terjerembab melakukan hal-hal yang hal-hal irasional – berbau dan mistis dan klenik. Bila seperti ini yang terjadi dalam hiruk pikuk politik kita. Maka di negeri ini akan hadir para pemimpin yang lebih mengedepankan irasional ketimbang rasional.

Logika politik para caleg yang melihat politik mengandung serba ketidak pastian dan susah diprediksi arahnya, akhirnya mendorong mereka untuk melakukan segala cara demi meraih kursi sebagai orang terhormat. Artinya, segala cara dan usaha dianggap sah-sah saja untuk dilakukan meskipun terkadang apa yang dilakukan melawan akal sehat. Jadi tidak berlebihan bila kemudian ajaran agama pun diabaikan demi tujuan politik.

Padahal Rasulullah SAW bersabda : “Siapa saja yang mendatangi seorang peramal (dukun dan sejenisnya), lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh malam” (HR Muslim). Dan itu tidak menjadi penting lagi ketika syawat kekuasaan membunuh naluri keagamaan caleg yang menjadikan kuasa dan harta sebagai Tuhan layaknya Fir’aun dan Qorun sebagaimana pernah disebutkan Ali Syariati sosiolog berkebangsaan Iran.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: