Posted by: effanzulfiqar | November 20, 2013

Inspirasi dari Kota Surabaya

Adalah Tri Rismaharini Walikota pertama perempuan yang memimpin Kota Surabaya sejak terhitung sejak 28 September 2010 sampai 2015. Ia kerap dipanggil dengan nama akrab Risma yang dulunya pernah menjabat sebagai Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Surabaya. Ia menang dalam Pemilukda Kota Surabaya tahun 2010, berpasangan dengan atasannya – mantan Walikota Surabaya sebelumnya, Bambang Dwi Hartono yang kini menjadi wakil walikota.

Perempuan berjilbab ini kerap dalam setiap pertemuan dengan masyarakat berulang kali mengatakan jabatannya sebagai walikota hanyalah titipan Allah semata dan ia tidak pernah memimpikan jabatan sebagai Walikota Surabaya. Karena ia menganggap jabatan yang diembannya sebagai walikota hanya sebatas amanah, maka baginya bekerja dengan iklas, fokus dan penuh tanggungjawab adalah keharusan.

Maka tidak berlebihan bila Pemerintah Kota Surabaya yang dipimpinya meraih dua penghargaan di tingkat Asia Pasifik dalam Future Goverment Awards 2013 di Thailand. Dari tujuh kategori yang diperlombahkan, dua ketegori penghargaan internasional itu berhasil diboyong ke Kota Surabaya, yaitu Data Center dan Data Inclusion. Kota Surabaya dinilai berhasil memanfaatkan teknologi informasi untuk pelayanan publik yang lebih baik.

Hebatnya Kota Surabaya lebih unggul dibanding beberapa Negara maju yang sudah lebih dalu memamfaatkan teknologi informasi, seperti Singapura, Australia, China, Hongkong dan India yang hanya meraih satu penghargaan dalam perlombaan tersebut. Padahal kota-kota tersebut sudah lebih dulu menerapkan teknologi informasi dalam pelayanan publik dibandingkan dengan Kota Surabaya.

Sebagaimana dikatakan Risma pemberian penghargaan bertaraf internasional tersebut sebagai pembuktian bahwa Kota Surabaya merupakan pemerintahan kota yang sudah mampu memamfaatkan teknologi dan informasi dalam pemerintahan untuk mensejahterakan dan melayani rakyatnya yang berjumlah lebih tiga juta orang. Artinya prestasi yang diperoleh Kota Surabaya mendapatkan apresiasi dan diakui di tingkat internasional sebagai salah satu kota yang mampu menggunakan teknologi informasi dalam peningkatan kualitas pelayanan publik.

Perempuan kelahiran 20 November 1961 ini juga pernah menjadi salah satunya nominasi wali kota terbaik di dunia yang bergender perempuan pada World Mayor Prize tahun 2010, yang digelar oleh The City Mayors Foundation. Risma menjadi kandidat wali kota terbaik dunia asal Indonesia bersama Wali Kota Solo Joko Widodo sebelum terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta dan Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo. Kalaupun belum terpilih setidaknya Risma sudah menunjukkan kehebatannya terpilih sebagai nominator perempuan penerima penghargaan Word Mayor Price.

Terpilihnya Risma sebagai nominator karena prestasi yang ditorehkan di Kota Sutabaya selama menjabat sebagai wali kota cukup banyak. Keberhasilannya menata Kota Surabaya menjadi kota bersih berhias taman seperti pemugaran Taman Bungkul di tengah kota menjadi bukti nyata dari kerja kerasnya. Termasuk pembangunan pedestrian bagi pejalan kaki sepanjang jalan Basuki Rahmat, Tunjungan, Blauran dan Sudirman yang bagi banyak pemerintah kota dianggap tidak terlalu penting sebagai salah satu hak bagi para pejalan kaki yang harus disediakan.

Penghargaan di bidang kebersihan kota – Adipura sudah diterima Kota Surabaya sejak digulirkan tahun 1980-an, demikian juga penghargaan tertinggi Adipura Kencana. Tidak hanya penghargaan Adipura Kencana saja yang diterima Kota Surabaya, tetapi termasuk menyabet lima piala Adiwiyata untuk sekolah cinta lingkungan dan satu sekolah meraih Adiwiyata Mandiri. Piala Kalpataru juga sudah diboyong ke Kota Surabaya.

Yang lebih menarik dari profil Walikota Surabaya ini sejak menjadi walikota ia tidak mau mendapat pengawalan (voorijder). Ia lebih senang mengenderai sepeda motor saat melakukan kunjungan ke beberapa tempat. Karena, kebiasaanya naik sepeda motor, ia pernah diusir tukang pakir. Hal ini terjadi karena tukang pakir tidak mengenal Risma yang memarkir sepeda motor di tempat parkir khusus walikota dan memakai helm.

Selama menjadi walikota Surabaya ia tidak pernah merasa risih dan canggung kalaupun harus bersama memimpin Kota Subaya dengan mantan atasannya Bambang Dwi Hartono. Wanita lulusan ITS ini bahkan terkesan sangat percaya diri. Justru Bambang yang kadang menjadi serba salah dan ewu pakewuh dengan posisinya sebagai bawahan Risma. Mereka berdua cukup harmonis dalam tiga tahun perjalanan sebagai walikota dan wakil walikota Surabaya.

Harmonisasi, kebersamaan dan saling pengertian di antara keduanya menjadi faktor keberhasilan penyelenggaraan otonomi daerah yang bersifat nyata, luas dan bertanggungjawab. Maka tidak berlebihan kalau kemudian Kota Surabaya banyak memperoleh penghargaan di tingkat nasional dan internasional. Menjadi salah satu daerah otonom percontohan dan tempat studi banding beberapa kota di Indonesia dan luar negeri.

Sementara di beberapa daerah justru sebaliknya yang terjadi – kepala daerah dan wakilnya tidak harmonis padahal sama-sama terpilih lewat Pemilukada. Kebersamaan hanya bisa berjalan tiga tahun setelah itu terjadi ketidak harmonisan dan konflik yang berkepanjangan. Kondisi yang demikian sudah pasti menjadi kendala pelaksanaan otonomi, karena kepala daerah dan wakilnya lebih banyak tersedot energinya untuk berkonflik dari pada fokus terhadap peningkatan kualitas pelayanan publik.

Kebiasaan Risma lainya kerap mencopot “tanda jabatan” yang semestinya disematkan di dada sebelah kanan. Lambang Negara bergambar burung garuda itu lebih sering tidak pakenya dalam beberapa acara resmi. Gara-gara tidak memakai tanda jabatan itu ketika memasuki Istana Negara, ia pernah dilarang masuk oleh Paspampres. Risma meniru kebiasaan mencopot tanda jabatan itu dari mantan Wakil Presiden – HM Jusuf Kalla yang juga dikaguminya, yang jarang mengenakan tanda jabatan ketika menjadi wakil presiden.

Perempuan yang dicalonkan PDIP dalam Pemilukada 2010 juga terkenal sebagai sosok yang tegas dan tak kenal kompromi dalam menjalankan kebijakan yang diambilnya. Terkait dengan sikapnya yang demikian itu ia pernah coba dilengserkan DPRD Kota Surabaya hanya karena Risma dianggap melanggar peraturan Mendagri. Enam dari dari tujuh fraksi DPRD, termasuk PDIP yang mengusungnya, mendukung keputusan pelengseran tersebut. Hanya fraksi PKS waktu itu yang menolak dengan alasan belum cukup kuat bukti pelanggaran.

Kalaupun kemudian Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi menilai alasan pemakzulan Risma terlalu mengada-ada. Belakangan diketahui bahwa keinginin DPRD untuk memberhentikan Risma lebih banyak termotivasi karena keputusannya menolak pembangunan tol tengah Kota Surabaya dan ia lebih memilih meneruskan proyek frontage road dan MERR-IIC (Middle East Ring Road) yang akan menghubungkan area industri Rungkut hingga ke Jembatan Suramadu via area timur Surabaya. Sementara keinginan DPRD sendiri tidak demikian halnya.

Risma telah menunjukkan prestasinya membangun Kota Surabaya dan mesejahterakan rakyatnya yang berjumlah tiga juta lebih. Di tengah-tengah kerisauhkan kita terhadap carut marutnya hasil Pemilukada dan tidak adanya jaminan terpilihnya kepala daerah yang berkualitas dan fokus bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Ternyata masih ada sosok seperti Risma yang benar-benar mengabdikan dirinya untuk membangun dan mensejahterakan rakyatnya sesuai janji kampayenya. Ia tak tergoda sedikitpun untuk menumpuk harta kekayaan seperti yang dilakukan banyak kepala daerah yang kini menjadi tersangka dan sebagian sudah menginap di hotel “prodeo”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: