Posted by: effanzulfiqar | November 23, 2013

Teror Harimau : Salah Siapa?

Berdasarkan data dari Sumatra Rainforest Institute (SRI), sudah sejak tahun 2006 telah terjadi terror dan pembunuhan oleh harimau Sumatera (Pantheratigris Sumatrae) terhadap manusia di Desa Ranto Panjang Kecamatan Muara Batang Gadis. Sampai dengan bulan Juni 2013 sudah jatuh korban diterkam harimau sebanyak 6 orang. Umumnya korban yang tewas diterkam harimua ketika sedang berada di kebun bekerja dan mandi di sungai.

Dari informasi dan kunjungan lapangan langsung yang dilakukan oleh tim SRI, diketahui bahwa harimau yang menerkan dua korban terakhir di Desa Ranto Panjang masih terus berkeliaran. Kondisi yang demikian jelas sangat menakutkan bagi masyarakat, mengingat sebagian besar masyarakat di lokasi harimau membunuh warga tersebut mayoritas bermata pencaharian sebagai petani karet.

Sepanjang masyarakat tidak berani ke kebun, sudah pasti mereka akan mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang selama ini sumber utama hanya dari berkebun dan menderas karet. Bila harimau masih terus berkeliaran di sekitar hutan tempat masyarakat menderas karet, selama itu mereka tidak akan bisa bekerja yang berarti kehidupan masyarakat akan semakin sulit.

Di satu sisi harus mempertahankan hidup dengan tetap bekerja di kebun tapi disisi lain mengalami ketakutan terhadap kemungkinan serangan harimau yang masih berkeliaran di sekitar hutan tempat mereka mencari nafkah. Sangat dilematis memang apa yang harus dihadapi oleh masyarakat dengan keberadaan harimau yang masih berkeliaran di lokasi tempat mereka bekarja sehari-harinya.

Sebagaimana diketahui harimau Sumatera adalah subspesies harimau yang habitat aslinya hanya ada di Pulau Sumatera yang meliputi wilayah Provinsi Jambi, Riau, Sumatera Barat, Sumatera Utara dan Aceh. Harimau Sumatera merupakan satu dari enam subspesies harimau yang masih bertahan hidup hingga saat ini dan termasuk dalam klasifikasi satwa kritis yang terancam punah (critically endangered) dalam daftar merah spesies terancam yang dirilis Lembaga Konservasi Dunia IUCN.

Harimau Sumatera adalah subspesies harimau terkecil. Harimau Sumatera mempunyai warna paling gelap di antara semua subspesies harimau lainnya, pola hitamnya berukuran lebar dan jaraknya rapat kadang kala dempet. Betina ketika melahirkan bulunya berubah warna menjadi hijau gelap.

Harimau Sumatera jantan memiliki panjang rata-rata 92 inci dari kepala ke buntut atau sekitar 250 cm panjang dari kepala hingga kaki dengan berat 300 pound atau sekitar 140 kg. Tinggi jantan dewasa mencapai 60 cm dan betina rata-rata memiliki panjang 198 cm dan berat sekitar 91 kg. Harimau Sumatera juga punya lebih banyak janggut serta surai terutama jantan dibandingkan subspesies harimau lainnya.

Ukurannya harimau Sumatera yang kecil dibandingkan dengan harimau lainnya ternyata lebih memudahkan baginya untuk menjelajahi hutan rimba. Di samping itu adanya terdapat selaput di sela-sela jarinya yang menjadikan mereka mampu berenang cepat, sehingga lebih memudahkan bagi harimau ini menyergap dan menyudutkan mangsanya ke air apalagi bila buruannya tidak bisa berenang cepat di air.

Harimau Sumatera merupakan satu-satunya dari subspecies harimau yang masih tersisa di Indonesia. Sementara sub species lainya, yakni harimau Jawa dan harimau Bali sudah punah terlebih dahulu. Populasi harimau Sumatera kini semakin menurun seiring makin maraknya perdagangan ilegal satwa liar dan deforestasi hutan yang terus berlangsung di wilayah Sumatera tanpa terkendali.

Diperkirakan, jumlah populasi harimau Sumatera kini tinggal tersisa 7 persen di masing-masing habitatnya yang terus terancam. Artinya populasi liar harimau sumatera diperkirakan hanya tinggal antara 400-500 ekor yang sebagian besar hidup di taman-taman nasional di Sumatera. Ironisnya, kuat dugaan harimau yang berada di lokasi taman nasional yang seharusnya dilindungi populasi juga terus berkurang karena terjadinya perburuan liar untuk mendapatkan kulit, taring dan dijual di pasar gelap.

Wilayah Provinsi Riau adalah rumah bagi sepertiga dari seluruh populasi harimau Sumatera yang ada. Sayangnya, sekalipun sudah dilindungi secara hukum, populasi harimau terus mengalami penurunan yang sangat cepat. Di Provinsi Riau, saat ini diperkirakan hanya tersisa 192 ekor harimau. Demikian juga wilayah Provinsi Jambi, Sumatera Barat, Sumatera Utara dan Aceh yang merupakan wilayah sebaran harimau Sumatera. Sebagaimana diketahui bahwa sebagian besar hutan di wilayah ini telah habis dikonversi menjadi lahan sawit dan hutan tamana industri.

Aktivitas pembalakan liar, pembukaan hutan untuk lahan pertanian, pembangunan jalan dan konversi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit dan hutan tanaman industri yang terus meluas. Semuanya menjadi faktor pemicu paling cepat rusaknya habitat harimau Sumatera yang merupakan ancaman terbesar terhadap populasi yang ada saat ini. Seperti dilansir WWF deforestasi dan perburuan menjadi penyebab harimau Sumatera makin langka dan seperti akan menuju kepunahan sebagaimana kedua sepupunya yaitu harimau Jawa dan harimau Bali yang sudah punah lebih dulu.

Kucing besar Sumatera sebenarnya punya resistensi yang sangat kuat di alam karena mampu hidup di semua kondisi hutan, baik hutan dataran rendah sampai hutan pegunungan, dan tinggal di banyak tempat yang tak terlindungi. Rusaknya habitat harimau Sumatera yang meliputi daerah sebaran seperti blok-blok hutan dataran rendah, lahan gambut dan hutan hujan pegunungan menjadi ancaman yang sangat serius bagi kelestarian harimau Sumatera.

Luas kawasan perburuan harimau Sumatera tidak diketahui dengan tepat, tetapi diperkirakan bahwa 4-5 ekor harimau Sumatera dewasa memerlukan kawasan jelajah seluas 100 kilometer di kawasan dataran rendah dengan jumlah hewan buruan yang optimal (tidak diburu oleh manusia). Kerusakan ekosistem dan habitat yang semakin sempit dan berkurang, menyebabkan harimau terpaksa memasuki wilayah-wilayah yang lebih dekat dengan kediaman manusia.

Ketika harimau tidak memiliki kawasan yang menjadi wilayah jelajahnya, pilihan hanya satu memasuki wilayah-wilayah yang menjadi tempat tinggal manusia sebagaimana yang terjadi di Desa Ranto Panjang Kecamatan Muara Batang Gadis dan banyak tempat lainnya di wilayah Sumatera. Yang terjadi kemudian adalah konflik antara manusia dengan harimau yang sudah pasti harimau jelas akan mengalami kematian pada saat terjadi konflik dengan manusia.

Faktor terjadinya penciutan luas sebaran wilayah perburuan harimau dan berkurangnya jumlah spesies mangsa seperti babi, rusa, unggas, kera dan ikan menjadi pendorong kuat turunnya harimau ke pemukiman masyarakat untuk mencari makanan. Kondisi yang demikian ini jelas akan memaksa harimau turun untuk memangsa hewan-hewan piaran seperti kambing, ayam dan hewan ternak lain yang mudah dimangsa harimau yang dimiliki masyarakat yang berdekatan dengan wilayah hutan yang menjadi wilayah jelajah harimau. Dan tidak jarang dalam perburuan sampai jauh ke wilayah pemukiman manusia, harimau tidak jarang bertemu dengan manusia dan kemudian memangsanya.

Padahal ada semacam kepercayaan lokal masyarakat di Sumatera bahwa harimau tidak akan mau menerkam manusia kalau tidak betul-betul karena terpaksa untuk memangsa manusia. Sebagaimana diketahui harimau Sumatera merupakan predator utama dalam rantai makanan. Dimana bila rantai makanan tadi tidak terjaga keseimbangannya yang berada di bawah pengendalian harimau. Mau tidak mau harimau akan mencari mangsa lain di luar yang menjadi mangsa utama dalam rantai makanan. Tentunya itu hanya ada di wilayah tempat tinggal manusia sendiri.

Kampanye Tahun Harimau 2010, sebagaimana yang disuarakan WWF-Indonesia secara aktif terus mendorong dimasukkannya enam lanskap prioritas harimau Sumatera kedalam Program Nasional Pemulihan Harimau Sumatra. Program nasional tersebut telah diadopsi sebagai program global oleh 13 negara sebaran harimau dalam International Tiger Forum di St. Petersburg – Russia Nov 2010.

Adapun yang diharapkan menjadi landskap prioritas perlindungan harimau Sumatera tersebut meliputi wilayah-wilayah sebaharan harimau di Ulu Masen, Kampar-Kerumutan, Bukit Tigapuluh, Kerinci Seblat, Bukit Balai Rejang Selatan sampai ke wilayah Bukit Barisan Selatan yang masuk dalam wilayah Provinsi Jambi, Riau, Sumatera Barat, Sumatera Utara dan Aceh.

Pemerhati fauna UGM Dr. Satyawan Pudyatmoko, menyebutkan untuk menghindari terjadinya kepunahan seperti harimau jawa dan harimau Bali, dia mengusulkan harimau Sumatera segera dilakukan upaya konservasi. Salah satunya dengan menambah lahan kawasan konservasi sebagai areal habitat populasi lestari. “Untuk bisa lestari dalam jangka 100 tahun minimum kawasan konservasi menampung 250 ekor harimau dengan luas minimum habitat 1 ekor per 100 kilometer persegi”.

Sementara ini, luas habitat kawasan konservasi saat ini hanya 58.321 kilometer persegi. Padahal luas habitat potensial mencapai 144 ribu kilometer persegi. “Sayangnya, hanya 29 % dari habitat harimau yang masuk dalam kawasan konservasi,” katanya. Penindakan tegas untuk menghentikan perburuan dan perdagangan harimau harus segera dilakukan di Sumatera.

Sangat diharapkan memang pemerintah pusat dan daerah bisa lebih memperjelas dan mempertegas dalam penerapan aturan pengelolaan kawasan hutan. Hal ini diperlukan untuk mencegah terjadinya pengelolaan sumber daya alam yang salah kaprah yang menyebabkan terjadinya konflik antara manusia dan harimau yang dalam jangka panjang dapat menyebabkan punahnya populasi harimau Sumatera.

Diyakini bahwa kerusakan hutan yang mengancam kelestarian harimau Sumatera paling masiv terjadi pasca pelaksanaan otonomi daerah. Pembukaan lahan besar-besar yang dilakukan banyak investor yang terkait dengan kepentingan peningkatan Pendapatan Asli Daerah telah menyebabkan maraknya pembukaan kawasan hutan untuk perkebunan kelapa sawit dan hutan tanaman industri yang selama ini menjadi habitat harimau Sumatera terus terjadi.

Pemerintah daerah sepertinya lebih mengejar peningkatan PAD dengan cara memberikan izin kepada investor untuk melakukan konversi besar-besar atas hutan yang selama ini menjadi rumah tinggal bagi harimau Sumatera. Termasuk pembukaan pertambangan emas yang sebagian masuk dalam wilayah Taman Nasional sebagaimana yang terjadi di Taman Nasional Muara Batang Gadis Kabupaten Mandailing Natal yang menjadi salah satu wilayah jelajah dan habitat asli harimau Sumatera.

Akhir, kata semua pihak terutama Pusat dan Pemerintah Daerah diharapkan bisa melakukan berbagai upaya bagi pelestarian harimau Sumatera, sehingga harimau Sumatera yang kini terancam punah tidak harus mengalami nasib yang sama seperti saudaranya harimau Jawa dan Bali yang kini hanya bisa dilihat dimuseum dalam bentuk pantung atau gambar relief.
(Tulisan ini dirangkum dari berbagai sumber sebagai bentuk keperdulian atas kampaye penyelamatan harimau Sumatera yang berada diambang kepunahan)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: