Posted by: effanzulfiqar | December 6, 2013

Menyoalnya Buruknya Rekruitmen Caleg

Pelaksanaan kampanye Pemilu Legislatif anggota DPR, DPD dan DPRD provinsi/kabupaten/kota, secara nasional akan dilaksanakan pada 11 Januari hingga 5 April 2014 mendatang. Dimana pelaksanaan kampanye pada periode tersebut meliputi kegiatan pertemuan terbatas, tatap muka, penyebaran bahan kampanye dan pemasangan alat peraga sesuai dengan zonasisasi yang telah ditetapkan Komisi Pemilihan Umum.

Belum dilaksanakan kampanye dan pencoblosan sudah banyak tingkah laku aneh-aneh yang dilakukan para caleg. Bukannya melakukan sosialisasi dan menyampaikan visi-misi kepada konstituen agar nantinya dikenal dan bisa terpilih menjadi caleg, malah melakukan berbagai tindakan yang berbau kriminal, seperti mengkonsumsi narkoba, berjudi, memukul bocah dan menganiaya perempuan.

Yang paling menghebohkan tertangkapnya salah satu caleg yang menjadi dalang perampokan nasabah bank. Hebatnya Indra Kusumah sang caleg ini menjadi otak dari kawanan perampokan dan ia terus terang mengaku uang hasil perampokan akan digunakan sebagai biaya kampaye karena tidak cukup uang pribadinya. Katanya, ia membutuhkan 100 juta untuk biaya menyiapkan alat peraga kampaye seperti baliho, dan dibagi-bagi kepada konstituen nantinya.
Buruknya rekruitmen

Adanya caleg yang terlibat dalam tindak krimanal tersebut sebenarnya berawal dari buruknya pola rekruitmen yang dilakukan di internal parpol. Sebagaimana diketahui setiap parpol melakukan penjaringan dan rekruitmen baik dari kalangan kader sendiri maupun dari eksternal parpol. Ada yang melakukan penjaringan caleg secara tertutup dan ada juga parpol yang melakukan terbuka dengan memasang iklan di media massa.

Banyak sebenarnya yang ingin menjadi caleg tapi sepertinya tidak yakin akan mampu memberi warna kalau hanya satu dua orang caleg yang punya komitmen memperjuangkan aspirasi rakyat. Di tambah dengan modal yang pas-pas jelas makin kecil peluangnya untuk menjadi caleg dan dilirik parpol, kalaupun punya integritas dan jejak rekam yang baik.

Akhirnya yang mendaftar jadi caleg hanya para pencari “status” untuk menjadi orang terhormat yang kebetulan pula punya banyak uangnya. Meskipun tak punya kualitas, kapasitas dan dengan jejak rekam buruk. Bagi parpol itu tidak lagi menjadi penting sebagai dasar pertimbangan rekruitmen caleg, karena yang lebih dipentingkan adalah uangnya.

Bila uang yang menjadi faktor penentu rekruitmen dan keterpilihan sebagai caleg oleh parpol. Maka sudah pasti hanya mereka yang punya modal besar yang bisa ikut mencaleg dan faktanya memang demikian dan parpol sendiri juga lebih memprioritaskan caleg yang punya uang.

Kondisi yang demikian juga itu menjadi salah satu penyebab ramainya caleg “kutu loncat” yang memang rata-rata punya banyak uang. Hebatnya para caleg kutu loncat ini mendapat nomor bagus dibandingkan dengan kader karatan parpol sendiri yang memang tidak punya uang.
Buruknya citra dewan

Selama ini parpol terkesan lebih sibuk menjalankan fungsi politiknya ketika mendekati pemilu saja. Setelah selesai pemilu tidak ada lagi kegiatan parpol. Artinya selama empat tahun parpol hanya tidur dan lebih fokus pada hal-hal yang bersifat seremonial belaka bukan merealisasikan agenda-agenda politik yang terkait dengan pengkaderan, pendidikan politik, penguatan jaringan dan pelayanan terhadap konstituen setelah selesai pemilu.

Implikasinya adalah semakin rendahnya kualitas anggota dewan karena parpol selama ini tidak pernah berniat memperbaiki mekanisme penjaringan di internalnya, termasuk melakukan pendidikan politik dan penyiapan caleg jauh hari sebelum proses pencalegan dimulai. Parpol lebih senang melakukan perburuan caleg setiap menjelang pemilu dengan model penjaringan tertutup tanpa anda patisipasi konstituen.

Hasilnya, caleg yang diusung parpol hanya yang punya uang dan punya jejak rekam yang buruk. Disisi lain, mekanisme penetapan caleg di internal parpol masih sangat berbau oligarkis dan nepotis. Dimana garansi untuk menjadi caleg lebih banyak ditentukan hubungan pertalian darah dan kedekatan dengan ketua parpol. Terbukti memang model penjaringan seperti ini tidak melahirkan legislator yang memiliki kualitas, kapasitas dan integritas.

Kita bisa lihat apa yang terjadi dengan legislator di pusat dan daerah yang merupakan dampak buruk model rekruitmen yang diterapakan selama ini dalam internal parpol. Faktanya banyak dari anggota dewan yang terhormat akhirnya harus berurusan dengan hukum karena terlibat kasus korupsi, narkoba dan judi. Atau berperilaku buruk yang tidak pantas dilakukan dengan predikat sebagai orang-orang terhormat yang menjadi wakilnya rakyat.

Yang pasti terkait dengan banyaknya kader partai yang terjerat hukum karena kasus korupsi diduga kuat karena cost politik yang harus ditanggung untuk menjadi anggota dewan terlalu mahal. Di samping itu kuat dugaan korupsi yang dilakukan banyak anggota dewan adalah untuk mempersiapkan dana parpol untuk pemilu dan biaya untuk maju menjadi anggota legislatif priode berikutnya.

Publik sudah tahu betul tidak ada makan siang yang gratis di negeri ini. Logikanya, untuk menjadi caleg, bupati, walikota dan gubernur harus bayar ke parpol dan konstituen. Konsekuensinya, selama menjadi anggota dewan dan kepala daerah yang harus dilakukan adalah memburu uang meskipun lewat jalan yang tak halal – yah…korupsi.

Pramono Anung Wakil Ketua DPR Fraksi PDI-P, jujur mengaku tidak lagi merasa bangga menjadi anggota dewan, karena citra DPR sudah sedemikian buruk dan ia tidak mencalonkan diri lagi menjadi anggota dewan. Sementara Wakil Ketua MPR RI, Hajriyanto Y Thohari menyebut, rusaknya citra dewan karena perilaku anggota DPR itu sendiri. Kalau tidak memperbaiki kualitas, maka citra DPR menurutnya tidak akan berubah.

Ironisnya, mimpi akan berubahnya wajah dewan dengan citra yang lebih baik masih jauh dari harapan publik. Jujur saja bila bercermin dari nama-nama caleg yang terdaftar dalam DCT priode 2014-2019 ternyata 90% anggota dewan di pusat dan daerah masih wajah lama yang direkrut parpol tanpa partisipasi publik.

Parahnya lagi DCT caleg yang diusung parpol marak dengan fenomena caleg kutu loncat terutama di daerah. Tentunya kita tidak bisa berharap banyak dari para caleg seperti itu akan mampu mendongkrak kembali citra dewan yang sudah terpuruk.


Responses

  1. mantap lah blog bapak ini. bsa gak pak asmi nyontoh tulisan bapak untuk tugas yang bapak kasih dipakultas fisip mngenai otonomi daerah. tidak dicopy pak cm ngambil bahan dr tulisan bapak tp dgn gaya bahasaku sndiri.

    • Boleh saja tapi jangan dicopy paste..hehehe..buat inspirasi dan motivasi menulis silakan…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: