Posted by: effanzulfiqar | January 29, 2014

Cerita Anas di Halaman Berikutnya

Jumat 22 Februari 2013 Anas Urbaningrum (AU) resmi ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam kasus dugaan korupsi proyek Hambalang dan satu tahun kemudian dihari yang sama, Jumat 10 Februari 2014 ia baru resmi ditahan KPK. Dalam sejarah pemberantasan korupsi yang di tangani KPK baru AU yang paling lama menyandang status tersangka, hampir satu tahun sebelum kemudian resmi di tahan KPK.

Begitu ditetapkan KPK untuk ditahan, AU berbicara dengan gaya komunikasi politik semiotika yang sudah menjadi ciri khasnya yang menyebut “terima kasih” kepada SBY dan KPK. Bahkan diakhir kalimat ia menyebutkan penahannya sebagai kado tahun baru. Publik menafsirkan kata terima kasih dari AU semacam sindirin kepada SBY dan KPU. AU sepertinya lebih melihat kasus hukum yang sedang dihadapinya sarat rekayasa dan bermuatan politis.

Pasca penahanan KPK terhadap AU, sudah pasti dalam beberapa bulan ke depan ruang publik akan disugukan banyak cerita seputar kasus yang dituduhkan kepadanya. Sebagaimana pernah dikatakan AU cerita ini akan terus bersambung, karena seperti katanya masih ada halaman-halaman berikutnya yang akan dibukanya. Sudah pasti kalau terbuka halaman berikutnya bisa jadi akan menimbulkan turbulensi politik yang dasyat terutama bagi Partai Demokrat yang terus merosot elektabilitasnya.

Kita tidak tahu persis apa yang dimaksudkan AU dengan halaman-halaman berikutnya ketika ia mengatakan itu saat menyampaikan pengunduran dirinya sebagai Ketua Partai Demokrat, karena ia menggunakan bahasa yang sangat simbolik. Tapi semua orang faham betul ketika ia mengucapkan itu, sepertinya ia sedang “mengancam” akan membuka semua kunci “kotak pendora” yang melibatkat siapa saja yang terkait dengan kasus Hambalang yang selama ini terkunci rapat di halaman-halaman berikutnya.

Apakah IbasYudhoyono ikut menerima aliran dana Hambalang, tentunya AU yang lebih tahu menyangkut hal itu. Spekulasi keterlibatan Ibas menerima aliran dana Hambalang 3,6 milyar sebenarnya sudah menyeruak ke publik ketika Nazaruddin menyebut pertama kali tahun 2011. Ibas sendiri sudah membantah menerima uang panas itu dan menyebut tudingan itu tidak benar dan tidak berdasar dan yakin 1.000 persen tidak menerimanya.

Apapun yang disampaikan Anas yang akan membuka halaman-halaman berikutnya, pertanyaannya apakah ia punya keberanian melakukannya seperti Nazaruddin? Diperlukan keberanian luar biasa untuk mengungkap isi halaman-halaman berikutnya, bila AU tidak mau menjadi korban untuk digantung sendirian di Monas. Sebagaimana Nazaruddin, AU harus berani bersuara lebih keras menyebut siapa saja yang menerima aliran dana Hambalang.

Pasca penahanan AU sangat diharapkan ia bisa lebih berfikir konstruktif dan rasional serta tetap berhati-hati dengan semua langkah yang diambilnya sehingga tidak menjadi blunder bagi dirinya sendiri. Artinya, semua pernyataan yang disampaikan AU dan loyalisnya terkait dengan kasus hukum yang sedang membelitnya dapat menarik simpati publik sebagai orang yang teraniaya. Bukan sebaliknya menuai anti pati, karena semua pembelaan yang disampaikan AU ke publik selama ini soal keterlibatannya ternyata benar diakhir cerita.

Sekaitan dengan keinginan kita semua mendukung pemberantasan korupsi yang sudah begitu akut di negeri ini, sudah pasti publik sangat mendukung sikap AU bila mau buka-bukaan untuk menyebut siapa saja yang terlibat kasus Hambalang, sebagaimana yang ditantang beberapa petinggi Partai Demokrat untuk membuka siapa saja yang terlibat. Hanya itu barangkali yang pilihan pahit yang harus dilakukan AU bila tidak ingin menjadi tumbal.

Publik sangat menyakini Anas yang begitu santun jelas tidak akan mau jadi korban sendirian. AU diyakini akan mengeluarkan jurus pamungkas terakhitnya yakni : tiji tibeh, mati siji mati kabeh – mati satu mati semua. Kita lihat saja apakah Anas memang punya keberanian seperti Nazaruddin. Kita berharap Anas tidak hanya asal bicara, apalagi melemparkan penyataan bahwa penetapannya sabagai tersangka dan penahanannya sarat rekayasa dan berbau politis untuk membangun citra dirinya sebagai orang yang teraniaya.

Sebagaimana Susno Duadji dulu yang pada awalnya begitu bersemangat akan membongkar kasus korupsi dalam tubuh Mabes Polri. Faktanya nol besar. Semoga AU tidak demikian halnya. Yang pasti, apapun yang terjadi antara AU dengan Partai Demokrat plus SBY sama sekali tidak ada untungnya bagi rakyat Indonesia. Bila semua yang mereka lakukan hanya mengedepankan dendam, kebencian dan interest pribadi bukan penegakan hukum. Sudah pasti akhirnya hanya akan melahirkan kegaduhan politik yang makin terasa sumpek. Kita tunggu AU mau membuka halaman berikutnya untuk kita baca bersama-sama.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: