Posted by: effanzulfiqar | February 7, 2014

Nasib Demokrat dan Matinya Partai Politik

Benar atau tidak hasil survei, Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang dirilis pada tanggal 2 Februari 2014, menyebutkan Pemilu 2014 merupakan akhir dari perjalanan kekuasaan Partai Demokrat sebagai the ruling party. Setelah memperoleh suara 21 persen pada Pemilu 2009 yang lalu, kini Demokrat terjun bebas, elektabilitasnya hanya tinggal 4,7 persen. Dukungan suara ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan perolehan suara Pemilu 2004 yang mencapai angka 7,45 persen.

Demikian juga elektabilitas peserta konvensi Demokrat hanya memperoleh dukungan rata-rata berada di bawah angka 5 persen, jauh lebih tinggi dukungan kepada calon-calon presiden di luar produk konvensi Demokrat, seperti Joko Widodo, Prabowo Subianto dan Jusuf Kala. Padahal sejak awalnya, diharapkan konvensi Partai Demokrat bisa berdampak positif bagi naiknya elektabilitas partai.

Begitu Demokrat dilanda konflik internal dan terungkapnya kasus korupsi yang melibatkan beberapa kadernya. Demokrat mengalami masa sulit yang memicu terjadinya turbulensi politik yang menurunkan elektabilitas partai. Hasil survei yang dilakukan beberapa lembaga survei satu tahun terakhir ini menempatkan Demokrat tidak lagi sebagai partai politik yang punya elektabilitas tinggi seperti Pemilu 2009 dan puncaknya hasil survei LSI menyebut Demokrat bakalan terancam lolos ke Senayan.

Bila bercermin kembali ke hasil Pemilu 2004, dengan perolehan suara Demokrat mencapai angka 21 persen. Ini terjadi murni karena dipengaruhi oleh figure dan ketokohan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Termasuk terpilihnya SBY untuk kedua kalinya sebagai Presiden. Kini, kalaupun SBY sebagai presiden dan merangkap sebagai Ketua Umum, pasca Anas Urbaningrum mundur karena menjadi tersangka kasus Hambalang. Ternyata tidak terlalu banyak menolong untuk mendongkrak kembali elektabilitas Demokrat.

Demokrat kini menghadapi permasalahan cukup serius bila terus merosot elektabilitasnya sampai Pemilu 9 April ini. Banyak pihak yang memprediksi Demokrat tidak bisa meloloskan wakilnya ke Senayan karena tidak mencapai ambang batas perlemen (parliamentary trashol) 3,5 persen suara nasional. Tapi menurut hemat saya, kalaupun terus terjadi penurunan elektabilitas, tidaklah serta merta partai berlambang mercy ini berubah dari hero ke zero – menjadi partai kecil. Partai ini akan tetap punya kursi di Senayan, kalaupun jumlah kursinya tidak sebanyak Pemilu 2009.

Survei LSI milik Denny JA ini juga menempatkan Partai Golkar dengan elektabilitas tertinggi 18,3 persen. Disusul PDIP 18,2 persen, Gerindra 8,7 persen, Hanura 4,0 persen, PKB 3,7 persen, PPP 3,6 persen dan PAN 3,3 persen. Di samping Partai Demokrat yang menurun tajam elektabilitasnya, partai politik lainnya yang terancam tak lolos ambang batas parlemen adalah PKS yang elektabilitas berada diangka 2,2 persen, Partai NasDem 2 persen, PBB 0,7 persen dan PKPI 0,5 persen.

Kita tidak tahu pasti apakah PBB dan PKPI bisa lolos ke Senayan, mengingat dua partai politik ini infrastruktur politik, penguasaan media dan sumber pendanaan sangat terbatas. Pertanyaanya apakah di sisa waktu yang tinggal dua bulan lagi sebelum hari pencoblosan kedua partai ini masih bisa berbenah – mendongkrak elektabilitas partainya?. Semua bisa saja berubah, dua partai politik yang dalam Pemilu 2009 tidak bisa masuk ke Senayan – siapa tahu ternyata dalam Pemilu 2014 mampu meraih suara signifikan dari para pemilih swing voters partai politik besar.

Sangat berbeda peluangnya dengan PKS yang punya modal soloditas organisasi dan milintasi kader yang cukup kuat hingga ke akar rumput. Sementara NasDem sendiri masih ditompang pendanaan dan akses media yang besar untuk membangun citranya sebagai partai restorasi. Sejatinya memang PKS dan NasDem masih punya peluang untuk mendongkrak elektabilitas partainya bila mau bekerja keras dan menggerakkan semua potensi yang dimilikinya.

Banyak partai politik memang yang meragukan hasil survei itu sebagaimaan halnya Demokrat dan PDIP. Bahkan kedua parpol tersebut mencurigai hasil survei yang dirilis LSI pesanan dari partai politik tertentu. Partai politik tertentu yang dimaksud adalah yang selama ini telah menjadikan LSI sebagai konsultan politiknya. LSI juga dituding bukan lembaga survei independen murni, tapi sebagai corong kepentingan partai politik pemilik modal besar yang ingin menaikkan elektabilitasnya.

Terlepas dari hasil survei LSI itu, publik kini sudah tidak percaya lagi kepada partai politik karena banyak kadernya terlibat dalam kasus korupsi begitu terpilih menjadi pejabat publik. Partai politik telah bermetamorfosis menjadi “bungkernya” para koruptor baik di pusat maupun di daerah. Bahkan ada kecurigaan dari publik bahwa dana-dana yang dikorupsikan untuk kepentingan partai politik menghadapi Pemilu 2014. Partai politik juga telah bertransformasi menjadi lembaga yang menyuburkan praktik politik transaksisional. Semua ini semakin memperkuat persepsi publik partai politik di negeri ini sudah tidak layak dipercaya lagi.

Kondisi yang demikian ini tentunya akan semakin memperparah apatisme masyarakat terhadap partai politik. Alhasil, yang muncul kemudian adalah stigma dari publik terhadap partai politik yang menyebut siapapun yang terpilih tidak akan memberikan pengaruh bagi perbaikan hidup dan kesejahteraan masyarakat. Tentunya hal ini akan semakin memicu semangat publik untuk bergolput ria dan cenderung akan lebih permisif terhadap terjadinya praktik politik uang. Golput dalam banyak kasus Pemilukada dan Pemilu legislatif terjadi didorong ketidak percayaan konstituen bahwa dengan ikut memilih akan terjadi perubahan signifikan dalam kehidupannya.

Di tengah ketidak percayaan publik terhadap partai politik karena banyak kadernya terlibat kasus korupsi. Boleh jadi golput sudah pasti akan menjadi pemenang dalam pemilu legislatif 2014 nanti bila publik sudah apatis melihat keberadaan partai politik sekarang ini. Artinya partai politik sedang berada di titik nadir menunggu kematiannya, karena ideologi memang sudah lama mati di tubuh partai politik sebagaimana dikatakan Daniel Bell sosiolog Harvard University. Kini partai politik lebih mementingkan kuasa dan uang dari pada mewujudkan kesejahteraan rakyat.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: