Posted by: effanzulfiqar | February 27, 2014

Pertaruangan Dapil Sumut Menuju Senayan

Daerah pemilihan (dapil) Provinsi Sumut mendapat alokasi kursi sebanyak 30 yang dibagi dalam 3 dapil (masing-masing 10 kursi). Dapil Sumut I meliputi Kota Medan, Tebing Tinggi, Deli Serdang dan Serdang Bedagai. Dapil Sumut II Kabupaten Labuhan Batu, Labura, Labusel, Tapsel, Madina, Palas, Paluta, Nias, Nias Utara, Nisel, Tapteng, Taput, Humbahas, Tobasa, Samosir, Kota Padangsidimpuan, Sibolga dan Gunung Sitoli. Adapun dapil Sumut III terdiri dari Pakpak Bharat, Dairi, Karo, Binjai, Pematang Siantar, Simalungun, Batubara, Asahan dan Kota Tanjung Balai.

Sudah pasti persaingan para calon legislatif (caleg) untuk kursi DPR dari dapil Sumut akan berlangsung ketat dan sengit. Khusus dapil Sumut I, semua partai politik menempatkan para politisi nasional di nomor urut (norut) teratas. Caleg bernorut 1 dan 2 di dapil ini dominan merupakan figur yang selama ini berdomisili dan beraktivitas di Jakarta. Sementara tokoh-tokoh lokal, baik sebagai ketua partai aktif/mantan, anggota partai/kader, politisi dan ketua organisasi kemasyarakatan atau ketua lembaga aktif/mantan mendapatkan jatah norut 3 dan seterusnya.

Pertarungan Gengsi
Partai NasDem misalnya, menempatkan Prananda Paloh, anak Ketua Umum DPP Partai NasDem, Surya Paloh, pada norut 1 dan Iskandar pada norut 2. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) menempatkan Ngasup Karo Karo Sitepo pada norut 1. PKS kembali mengusung Menkominfo Tifatul Sembiring dan petahana Idris Luthfi. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) menempatkan petahana Irmadi Lubis pada norut 1 dan Sofyan Tan, yang pernah mencalon sebagai Walikota Kota Medan pada pemilukada 2010, pada norut 2.

Partai Golongan Karya (Golkar) mempercayakan Leo Nababan, Staf Khusus Menko Kesra, pada norut 1 dan Meutya Viada Hafid pada norut 2. Politisi dan tokoh lokal menempati norut 6 dstnya, seperti Rektor Universitas Nommensen Jongkers Tampubolon, mantan Ketua KPU Sumut Irham Buana Nasution dan politikus Golkar Hardi Mulyono. Di dapil I ini Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) menempatkan H. Raden M Syafii, bekas ketua Partai Bintang Reformasi, dan calon Wakil Gubernur Sumut pemilukada 2008, pada norut 1 dan untuk norut 2 Nora Benda Wasih Malau.

Partai Demokrat sendiri untuk dapil Sumut I justru menempatkan Ruhut Sitompul pada norut 1. Adapun Sutan Bathoegana, Sri Novida, Ramadhan Pohan dan Jafar Nainggolan berada di norut 2, tiga, 4 dan 5. Ruhut Sitompul pada pemilu 2009 berada di dapil Sumut III dan Ramadhan Pohan di dapil VII Jatim. Cukup mengejutkan penempatan politisi lokal Abdul Wahab Dalimunthe yang sebelumnya berada norut 1 pemilu 2009, dan kini mendapatkan norut 7. Tak jelas apa alasan Demokrat, padahal Abah Wahab – sapaan akrabnya satu-satunya caleg yang meraih suara melebihi bilangan pembagi pemilih (BPP) di Sumut, yakni123.753 suara.

Adapun partai besutan H. Amien Rais – Partai Amanat Nasional (PAN) menepatkan Mulfachri Harahap pada norut pertama yang dalam pemilu 2009 ditempati Ibrahim Sakty Batubara yang kini mencoba pindah ke tetangga sebelah menjadi Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD-RI). Norut 2 dari PAN ialah Doini Merza. Partai Persatuan Pembangunan (PPP) tetap menempatkan politisi kawakan PPP Hasrul Azwar pada norut 1 dan M. Hasan Husaeri di norut 2. Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) menempatkan petahana Nurdin Tampubolon di tempat teratas dan pada urutan kedua Effendi Syahputra inisiator Perindo Sumut. Partai Bulan Bintang (PBB) menempatkan Ketua DPW PBB Sumut, Masri Sitanggang pada norut 1. Partai Keadilan Persatuan Indonesia (PKPI) mendaftarkan mantan anggota DPD, Yopie Sangkot Batubara di norut 1.

Dapil Sumut I kerap disebut sebagai dapil neraka, mengingat di dapil ini akan terjadi pertarungan yang cukup keras di antara para caleg di internal partai sendiri atau antar partai politik. Karena dapil ini memiliki jumlah pemilih terbanyak dibandingkan dengan dapil II dan III, maka tidaklah berlebihan bila dapil ini dihuni oleh tokoh dan politisi nasional yang sudah punya jam terbang yang cukup lama di pentas politik lokal dan nasional. Di samping itu di dapil I, dari 10 alakosi kursi, ternyata ada 11 caleg yang merupakan petahana alias muka lama.

Tentunya persaingan yang terjadi di antara mereka cukup ketat di dapil ini karena terjadi perang – pertarungan gengsi atar para caleg dan partai politik. Pemilu 2009, 4 kursi disabet Partai Demokrat. Selebihnya Golkar, PDI-P, PKS, PPP, PAN dan Hanura masing-masing satu kursi. Pertanyaannya apakak kedigjayaan Demokrat akan berlanjut di dapil ini dan apakah Abah Wabah masih punya nilai jual untuk mendulang suara yang banyak?

Pertarungan Figur Lokal dan Pusat
Sama dengan dapil I, di dapil II juga terjadi persaingan yang cukup ketat di antara para caleg yang dipasang parati politik di norut 1 dan 2. Di antaranya memang masih bercokol wajah-wajah lama yang ikut mencalon kembali. Meskipun ada beberapa wajah baru yang dianggap punya kemampuan potensial untuk lolos ke Senayan ikut bertarung di dapil ini. Partai NasDem sendiri menempatkan Martin Manurung di norut 1 dan Sahat Silaban di norut 2. PKB mendudukan Marwan Dasopang di norut 1.

Partai Demokrat di dapil II pemilu 2009 yang berhasil meraih 3 kursi masih menempatkan wajah lama di norut 1, Jhoni Allen Marbun, Wakil Ketua Umum DPP Partai Demokrat di pemilu 2009 lalu berstatus peraih suara terbanyak dengan meraih 91.763 suara. Adapun di norut 2 Demokrat memasang Milton Pakpahan yang dalam pemilu 2009 terpilih dari dapil Papua. Saidi Butar-butar yang menggantikan Amrun Daulay berada di norut 4. Sedangkan Jonny Buyung Saragi yang terpilih dari dapil ini meskipun dulu menempati norut 6 dipindahkan partainya ke dapil III.

Sementara PKS masih menempatkan wajah lama Iskan Qolba Lubis di posisi norut 1 dan norut 2 diberikan kepada H. Najjamuddin Lubis. PDI-P juga masih tetap mempercayakan 2 petahana, Trimedya Panjaitan di urutan norut 1 dan norut 2 Yasona H Laoly. Partai Golkar kembali menempatkan di norut 1 Rambe Kamarul Zaman yang dalam pemilu 2004 terpilih, tapi pemilu 2009 tidak dicalonkan partainya. Pemilu 2009 yang menempati norut 1 adalah Chairuman Harahap dan norut 2 ditempati petahana Neil Iskandar Daulay yang dalam pemilu 2009 menempati norut 5.

Partai Gerindra memberikan kepercayaan penuh kepada Gus Irawan Pasaribu mendapatkan norut 1. Tentunya Partai Gerindra punya pertimbangan sendiri mengapa menempatkan Gus Irawan pada norut 1 sebagai ketua partai. Di samping itu Gus merupakan tokoh lokal yang dikenal secara nasional punya nama besar sebagai bankir yang cukup handal. Gus juga pernah mencalon sebagai Gubunur Sumut dalam pemilu 2013 dan punya suara signifikan di dapil II. Penempatan Gus di dapil II diharapkan bisa menjadi pendulang suara mengingat elektabilitasnya cukup tinggi di dapil yang meliputi 18 kabupaten/kota ini.

Adapun PAN menempatkan akademisi Saleh Partaonan Daulay pada norut 1 dan petahana Yahdil Abdi Harahap norut 2 yang sebelumnya menempati norut 1. PPP memberikan norut 1 kepada Akhmad Gojali Harahap dan politisi lokal yang sudah malang melintang di partai berlambang Ka’bah M. Ali Jabbar Napitupulu di norut 2. Sementara Partai Hanura menempatkan Armyn Gultom di norut 1 dan norut 2 H. Mulkan S. Nasution. M. Herry Lontung Siregar yang sebelumnya berada di norut 1 dan terpilih pemilu 2009 terlempar ke urutan 4. PBB menempatkan Doriangat Pakpahan norut 1 dan PKPI menempatkan Huala Siregar di norut 1.

Pemilu 2009 yang unggul di dapil ini adalah Demokrat dengan memperoleh 3 kursi. Golkar dan PDI-P masing-masing 2 kursi. Sisanya satu kursi diperoleh PKS, PAN dan Hanura. Kita tidak tahu pasti apakah Demokrat masih bisa unjuk gigi dalam pemilu 2014 ini. Atau akan terulang kembali pertarungan “klasik” antara PDI-P dan Golkar yang sudah terjadi sejak pemilu 1999 dan 2004. Bisa jadi muncul kekuatan baru – Gerindra, Hanura, NasDem, PKB, PBB dan PKPI sebagai pengeruk suara terbanyak. Yang pasti delapan dari total sepuluh anggota DPR wajah lama akan kembali bertarung untuk berhadapan dengan para caleg wajah-wajah baru dari tokoh lokal yang berlatar belakang ketua partai aktif, mantan bupati dan calon gubernur.

Pertarungan Melawan Partai Lama
Untuk dapil III rata-rata diisi oleh politisi lokal dan nasional yang bertempat tinggal di Jakarta untuk norut 1 dan 2. Sebagian merupakan caleg petahan ditambah dengan beberapa caleg yang pindah dari partai lama ke partai baru. Partai NasDem sebagai partai politik baru menempatkan H. M Ali Umri yang pernah menjabat Ketua Golkar Suut, mantan Walikota Binjai dan calon Gubernur Sumut pemilukada 2008 berada di posisi norut 1 dan Elman Saragih bekas redaktur Metro TV berada di posisi norut 2.

Adapun PKB menempatkan di norut 1 Akhmad Khambali. PKS masih mempercayai wajah lama untuk menempati urutan nomor 1 Ansory Siregar dan urutan nomor 2 Sigit Pramono Asri. PDI-P sendiri menempatkan mantan Panglima Daerah Militer I/Bukit Barisan dan calon Gubernur Sumut pemilukada 2008 H. Tritamtomo, S diurutan nomor 1 dan norut 2 diberikan kepada Sudiman Tarigan. Adapun Partai Golkar kembali menempatkan di norut 1 petahana Anthon Sihombing dan norut 2 H. Ahmad Doli Kurnia Tandjung. Partai Gerakan Indonesia Raya menempatkan vokalis DPR di norut 1 Martin Hutabarat dan norut 2 Irma Rahayu Nasution.

Partai Demokrat lebih mempercayai petahana Edy Ramly Sitanggang mendapatkan norut 1 dan Hinca I.P Pandjaitan di norut 2. Adapun Jonny Buyung Saragih yang dulunya mencaleg di dapi II berada di norut 5. Partai Amanat Nasional tetap memberikan norut 1 kepada petahana H. Nasril Bahar dan norut 2 ditempati mantan ketua DPW PAN Sumut H. Kamaluddin Harahap. Adapun PPP memberikan norut 1 kepada H. Fadly Nurzal, Ketua DPW PPP Sumut yang pernah mencalon sebagai wakil Gubernur Sumut pemilukada 2013 dan norut 2 diberikan kepada M. Lukman Hakim Hasibuan.

Partai Hanura menempatkan Syafril Nasution diurutan pertama dan H. Serta Ginting yang pernah menjadi anggota DPR RI dari Partai Golkar dan calon Wakil Gubernur Sumut saat kesempatan terakhir pemilihan di DPRD, di norut 2. Partai Bulan Bintang menempatkan Arifin Tarigan di posisi norut 1. Purnawirawan TNI ini pernah menduduki jabatan anggota DPR RI pada masa Orde Baru serta caleg Partai Hanura pemilu 2009. Sementara PKPI menempatkan Berlian Rumapea pada norut 1.

Bila dilihat dari komposisi caleg di dapil III ada tujuh caleg petahana yang ikut mencalon kembali. Adapun Maisyasyak Johon dari PPP dan Imran Muchtar dari Demokrat tidak lagi muncul namanya sebagai caleg di 3 dapil Sumut. Sementara Ruhut Sitompul yang dulu berada di dapil III pindah ke dapil I. Yang menarik apakah Ali Umri mantan Ketua DPW Golkar Sumut mampu membawa gerbong Partai NasDem meraup suara di dapil ini? Dalam pemilu 2009 Partai Demokrat sukses memperoleh 3 kursi dan Golkar mendapat 2 kursi. Sisanya dibagi masing-masing 1 kursi untuk PKS, PAN, PPP, PDI-P dan Gerindra. Lalu apakah Demokrat juga masih mampu meraih kursi yang sama di dapil III ? Atau sebaliknya Golkar, PKS, PAN, PPP, PDI-P dan Gerindra bisa menambah kursinya di dapil ini ? Bisa jadi NasDem, PKB, PBB dan PKPI yang sukses meraup suara?

Perubahan Peta Politik
Bila dianalis karakteristik pemilih di dapil I, II dan III jelas ada perbedaanya yang sangat mencolok. Sebagaimana kita ketahui dapil I ditempati oleh pemilih yang sangat heterogen yang mewakili ciri masyarakat perkotaan yang lebih terbuka dan moderat. Artinya pemilih tidak terlalu mempertimbangkan latar belakang agama, suku dan domisili caleg yang dipilihnya. Tentunya akan berbeda dengan dapi II dan III yang pemilihnya masih punya kecenderungan untuk memilih berdasarkan hubungan kekerabatan yang bersifat primordialistik.

Sudah pasti pemilukada tidaklah sama dengan pemilu legislatif. Belum tentu PKS yang berhasil mendudukan Gatot Pujanugroho sebagai Gubernur Sumut signifikan bagi kemenangan PKS di dapil Sumut I, II dan III. Atau memang peta politik akan berubah setelah sebelumnya pemilu 2009 Partai Demokrat berjaya menyabet 10 kursi dari 30 kursi di dapil Sumut. Atau akan kembali Golkar yang dominan sebagaimana yang ditunjukkan sejak pemilu orde baru dan pemilu 2004 di tengah banyaknya kadernya yang meloncat ke partai politik lain. Sementara PDI-P sukses mendulang suara dalam pemilu 1999 di dapil Sumut ini. Kita lihat saja hasil nanti tanggal 9 April ini…

(Tulisan ini pertama kali dimuat di Harian WASPADA Kamis 6 Maret 2014)


Responses

  1. Persaingan itu sah2 saja, namanya juga kompetisi

    • Sangat betul. Itulah hakikat demokrasi – yang penting harus tetap mengedepankan semangat fair play dan kepentingan konstituen…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: