Posted by: effanzulfiqar | March 8, 2014

Nasib Parpol Islam di Pileg 2014

Hasil survei Lembaga Survey Indonesia (LSI) 2012, menunjukkan penurunan yang sangat tajam terhadap perolehan dukungan suara partai politik (parpol) Islam. Total suaranya jika digabung keseluruhan hanya sebesar 21,1%. Survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) tahun 2013 juga menyebutkan dukungan terhadap parpol Islam terus mengalami penurunan seperti PKB hanya 5,6%, PPP 4,1%, PKS 2,7% dan PAN 1,5%. Sekedar catatan PKB dan PAN tidak berasaskan Islam tetapi berbasis massa Islam. Hanya PKS, PPP dan PBB yang berasaskan Islam.

Lembaga Survei Nasional (LSN) dalam surveinya tahun 2013, menempatkan Partai Golkar dengan dukungan 18,1%, PDI Perjuangan 14,4%, Partai Gerindra 12,5%, Partai Demokrat 5,9%, Partai Hanura 5,6%, dan Partai NasDem 5,1%. Parpol berasas Islam PKS hanya 4,4%, dan PPP 2,2%. Parpol berbasis massa Islam PKB 2,8% dan PAN 2,3%. Hasil Survei Pol-Tracking Institute 2013 total elektabilitas parpol Islam tak lebih dari 15% , yakni : PKB 4,6%; PPP 3,4%; PKS 2,9%; PAN 2%; dan PBB 0,7%. Artinya tidak mencapai angka 3,5% ambang batas parlemen yang disyaratkan undang-undang.

Merosotnya dukungan terhadap porpol Islam yang direpresentasikan parpol PPP, PKS, PKB, PAN, PBB dan PBR dalam Pemilu 1999, 2004 dan 2009. Baru untuk pertama kalinya terjadi, setelah pernah berjaya pada pemilu pertama tahun 1955. Artinya sejak Pemilu 1955 eksistensi partai politik Islam terus terdegradasi dari pemilu ke pemilu.

Pemilu 1955, Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), Partai Nahdlatul Ulama (NU), Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) dan Partai Pergerakan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) meraih 43,7%. Di masa orde baru keberadaan parpol Islam yang dilebur menjadi PPP sudah tidak punya kekuatan hanya menjadi pelengkap, karena Golkar menjadi singlem majority. Pemerintah orde baru yang berkuasa pada waktu itu sengaja melakukan intervensi dan membonsai PPP dan PDI sehingga hanya menjadi penggembira selama pemilu di masa orde baru.

Pemilu 1999 setelah orde baru, perolehan 17 parpol Islam menurun tajam menjadi 36,8%. Pemilu 2004, dari tujuh parpol Islam suaranya naik 38,1%. Pemilu 2009, total suara parpol Islam kembali turun menjadi 25,1%. Bahkan di Pemilu 2009 PBB, PBR dan PPNUI tidak berhasil lolos parliamentary threshold kecuali PPP, PAN, PKB dan hanya PKS yang mengalami kenaikan suara secara signifikan.

Kini muncul kekuatiran parpol Islam berpeluang tak masuk lima besar pada Pemilu 2014 bila berangkat dari hasil survei – kalah suara dari parpol berhaluan nasionalis – pluralis . Yang lebih dikuatirkan adalah bila sempat parpol berbasis massa Islam tersebut tidak mampu mencapai angka ambang batas parlemen nasional yakni 3,5%. Maka sudah pasti tidak punya wakil lagi ummat Islam yang mayoritas jumlah di DPR.

Penyebab merosotnya dukungan terhadap parpol Islam karena makin rendahnya komitmen dan konstribusi partai mengakomodasi kepentingan ummat Islam. Di samping tidak adanya tokoh/figur partai popular berskala nasional yang menjadi ketua partai. Tokoh/figur yang menjadi ketua parpol Islam sekarang kalah popular dengan ketua parpol nasionalis. Inilah juga menjadi penyebab menurunya apresiasi ummat Islam.

Harus diakui tokoh sekaliber Gus Dur dan Amien Rais sudah tidak ada lagi. Sementara ketua parpol seperti Hatta Rajasa – PAN, Suryadarma Ali – PPP, Muhaimin Iskandar – PKB dan Lutfi Hasan/Annis Matta – PKS tidak terlalu dikenal publik. Sikap politik mereka yang cenderung akomodatif dan berorientasi kepada pemerintah juga menjadi faktor yang mengurangi simpati publik terhadap mereka.

Sangat jauh berbeda dengan Gus Dur dan Amien Rais yang mau berseberangan dengan pemerintah waktu menjadi ketua partai. Mereka berdua juga bisa bertindak sebagai solidarity maker dan vote getter untuk menarik simpatik publik, bukan hanya ummat Islam. Setelah mereka tidak ada lagi, tak satupun muncul tokoh atau figure di parpol Islam yang mampu menarik simpati publik untuk kebesaran partai.

Yang terjadi kini adalah pragmatism belaka. Parpol berlebel Islam cenderung hanya mencari posisi aman tidak berani lagi bersebarangan dengan pemerintah apalagi mengkritik kebijakan yang bertentangan dengan kepentingan masyarakat yang mayoritas Muslim. Parpol yang membawa bendera Islam hanya menjadikan Islam sebagai “simbol” tapi gagal dalam mentranformasikan dan mengimplementasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan berpolitiknya secara nyata.

Ditambah dengan perilaku beberapa kadernya juga termasuk penyebab merosotnya dukungan terhadap parpol Islam. Adalah sesuatu yang dianggap masyarakat sangat tidak terpuji bila kadernya melakukan tindakan tidak terpuji – korupsi, tapi selalu berteriak mengatas namakan Islam. Padahal yang yang harus ditujukan setiap kader parpol Islam substantif dari Islam itu sendiri bersih – tidak korupsi. Sudah pasti perilaku buruk kader partai berimbas kepada citra parpol Islam itu sendiri.

Senyatanya dalam 10 tahun terakhir ini partai-partai yang mengaku berasas dan berbasis massa Islam tersebut tidak mampu secara cerdas mentransformasikan dan mengimplementasikan identitas ideologi ke Islamanya dalam program-program nyata yang dibutuhkan masyarakat terutama di lapis bawah. Kondisi yang demikian ini menyebabkan persepsi publik yang terbangun – tidak ada perbedaan sama sekali antara partai nasional/pluralis dengan parpol yang berasas dan berbasis Islam.

Mahfud MD lebih pesimis lagi memandang keberadaan parpol Islam. Ia menyebut parpol Islam sudah tidak ada lagi di Indonesia. Kalaupun menurutnya ada parpol yang mengaku berideologi Islam, katanya perilakunya dianggap sudah tak berbeda dengan parpol yang tak menjadikan Islam sebagai ideologi. Mahfud juga mengatakan parpol Islam itu sebenarnya tidak ada, apalagi parpol yang benar-benar Islam.

Karena menurutnya parpol yang tidak Islam pun sebenarnya memperjuangkan Islam, sementara yang Islam pun sama dengan yang disebut parpol yang tidak Islam, sama-sama koruptornya (juga) ada katanya. Hal ini menyebabkan elektabilitas parpol Islam terus terpuruk dalam beragam survei, karena perilaku parpol Islam sudah condong ke arah ideologi yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Bahkan Azyumardi Azra menyatakan tidak optimistis dengan masa depan parpol Islam dalam Pemilu 2014. Saya tidak optimistis dengan masa depan partai Islam. Sekarang ada PPP dan PKS, tidak menunjukkan tanda menjanjikan untuk peningkatan suara. PKB meskipun lolos juga tidak menjanjikan. Sementara PAN terkendala komunikasi antarpimpinan partai dengan tokoh Muhamadiyah.

Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang pernah merilis survei mengenai kondisi terkini serta prediksi masa depan partai dan tokoh Islam di Indonesia, berkesimpulan bahwa popularitas partai dan tokoh Islam di kancah perpolitikan nasional kian suram. Partai politik Islam hanya akan jadi komplementer di 2014, jadi pelengkap saja dibandingkan dengan pemilu 1999, 2004 dan 2009. Bagaimana mungkin tokoh parpol Islam kalah dengan Jokowi dan Prabowo elektabilitasnya.

Tidak ada pilihan bagi parpol Islam bila ingin menunjukkan eksistensinya selain berkoalisi dengan parpol tengah atau yang berideologi Pancasila bila ingin bicara dalam pemilu Presiden 2014 ini. Sementara untuk pemilu legislatif (pileg) sepertinya parpol Islam sudah tidak punya peluang lagi untuk melakukan koalisi. Sepertinya kecenderungan lebih kuat diatara parpol Islam adalah bersaing dengan mengedepankan kepentingan masing-masing dari pada menyatukun visi dan misinya bagi kepentingan ummat Islam.

Koalisi yang selama ini digagas parpol Islam hanya sebatas wacana tanpa hasil nyata. Sebelumnya terdengar kabar sejumlah tokoh parpol Islam kerap berkumpul dalam sebuah forum diskusi. Forum itu pada awalnya diharapkan menjadi cikal bakal terbentuknya koalisi Poros Tengah Jilid II. Tapi sampai hari ini tidak pernah terdengar lagi bagaimana kelanjutan forum diskusi itu.

Sekalipun makin merosotnya dukungan terhadap parpol Islam yang berimplikasi terhadap peluang untuk menang dalam Pemilu 2014. Parpol Islam akan tetap eksis, minimal menjadi partai menengah. Alasannya parpol Islam tetap mempunyai pemilih yang loyal, terutama di wilayah pedesaan meskipun jumlahnya tidak terlalu signifikan dan itu salah satu faktor yang penyebab tetap bertahannya parpol yang berasas dan berbasis Islam.

Yang pasti parpol Islam belum pasti memperoleh angka di bawah 5%, sekalipun banyak hasil survei yang dipublikasikan menyebut demikian. Bahkan apa yang pernah dirilis oleh survei LSI yang menyebutkan parpol Islam dalam Pemilu 2014 hanya sebagai pelengkap di pileg 2014 – sangat berlebihan rasanya. Kita lihat saja hasilnya nanti. Apakah parpol Islam berubah menjadi parpol gurem atau sebaliknya menjadi parpol yang punya kekuatan besar – menang dalam pileg 2014 ini. Semoga!.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: