Posted by: effanzulfiqar | November 1, 2016

Cangkul Kok Diimpor

Kebijakan impor beras, gandum, jagung, daging dan buah-buahan sudah merupakan cerita lama yang sampai hari ini masih terus berlangsung. Tapi kebijakan impor cangkul dari Cina merupakan hal yang sangat luar biasa konyolnya dan terkesan merendahkan martabat bangsa Indonesia. Bagaimana tidak Negeri ini bisa buat pesawat terbang dan kapal laut, masa buat cangkul saja tidak bisa dan harus impor dari Cina.

Sangat ironis memang ketika kabar impor cangkul tersebut menghiasi media massa, sepertinya Negeri ini sudah benar-benar tak jelas fokusnya kemana. Sebagaimana diketahui BUMN – PT. Perusahaan Perdagangan Indonesia ditunjuk pemerintah melalui Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri mengimpor cangkul untuk diperdagangkan di Indonesia.

Adapun alasan yang digunakan sebagai dasar kebijakan impor cangkul tersebut adalah karena maraknya peredaran cangkul illegal di pasaran dan produksi lokal tidak mencukupi kebutuhan petani. Dua alasan ini terkesan dibuat-buat. Seharusnya kalau ada cangkul illegal yang beredar tentunya menjadi tugas pemerintah untuk memberantasnya, bukan sebaliknya menjadikan dalih pembenaran untuk melakukan impor cangkul besar-besaran.

Dan sangat tidak benar dan logis alasan yang digunakan karena beredar cangkul illegal, kemudian membuka kran impor cangkul dari Cina, seolah Negeri ini tidak bisa lagi membuat cangkul. Pertanyaannya apakah sesuatu yang sangat sulit dan memerlukan modal dan sumber daya yang tinggi untuk membuat cangkul? Jelas tidak, karena membuat cangkul tidak memerlukan mereka yang berpendidikan S-3 lulusan luar negeri.

Kalau alasan yang menyebut produksi cangkul dalam negeri tidak mencukupi untuk kebutuhan petani. Bukankan menjadi tugas pemerintah untuk mengenjot produksi cangkul di sentra-sentra industri rakyat atau menunjuk BUMN untuk memproduksi cangkul yang sudah jelas tidak memerlukan teknologi tinggi, dan bahan bakunya juga tersedia.

Atau mungkin pemerintah tidak tahu atau pura-pura tidak tahu bahwa para pengrajin besi di sentaroro negeri sudah berpuluh tahun mengerjakan pembuatan cangkul di berbagai sentra industri kerajinan rakyat. Bahkan produksi mereka berlebih, masalah hanya karena tidak faham bagaimana pemasarannya. Ditambah dengan tidak adanya perhatian pemerintah untuk mengembangkan industri cangkul tersebut.

Sangat lucu bila yang dimpor cangkul buatan Cina yang sudah pasti hasil karya rakyat Cina sendiri. Kenapa bukan cangkul buatan anak negeri kita yang dikembangkan dengan memberikan permodalan dan keterampilan sehingga kualitas cangkul mereka bisa melebihi kualitas cangkul impor dari Cina. Seharusnya industri UKM yang memproduksi cangkul yang difasilitasi dan diproteksi bukan sebaliknya malah dimatikan dengan cara membuka kran impor cangkul dari Cina.

Terkesan pemerintah dengan kebijakan impor cangkul tersebut lebih mendorong perkembangan perekomian rakyat Cina dibandingkan dengan rakyatnya sendiri. Artinya kalau memang fokus dan konsisten terhadap upaya menggerakan perekomian rakyat mengapa bukan para pengrajin di sentra-sentra industri atau UKM yang didorong untuk membuat cangkul yang lebih berkualitas?

Sekali lagi dimana sulitnya membuat cangkul, bukan pekerjaan yang membutuhkan teknologi tinggi dan sumber daya manusia yang berkemampuan tinggi. Agak janggal rasanya, kita bisa buat pesawat terbang tapi buat cangkul yang berkulitas tidak bisa. Aneh dan rada-rada lucu kebijakan impor cangkul tersebut.

Setelah 71 tahun kita merdeka dan 88 tahun memperingati Sumpah Pemuda, masak Republik Indonesia yang kita sebut sebagai salah satu negara agraris terbesar harus impor cangkul dari Cina. Sudah terlalu parah bangsa ini kalaulah harus impor cangkul dari Cina.

Artinya bagaimana kita berbicara dalam konteks persaingan global untuk produksi hasil-hasil pertanian yang lebih luas pasarnya, kalau masalah sepele untuk kebutuhan alat-alat pertanian saja seperti cangkul masih impor dari Cina? Terkesan kebijakan impor cangkul yang dilakukan pemerintah merendahkan bangsa dalam lingkup pergaulan internasional.

Patut dicurigai kebijakan impor cangkul dari Cina hanya untuk menguntungkan segelintir orang. Kalau alasan hanya karena banyak beredar cangkul illegal, sekali lagi sangat tidak masuk akal. Di samping memang teknologi pembuatan cangkul bukan memerlukan teknologi tinggi, jadi tidak harus impor.

Cukuplah kita mengimpor beras, gandum, jagung, buah-buahan dan daging sekalipun sebenarnya potensi kita berlebih. Hanya karena kebijakan yang tidak fokus dan jelas sampai hari ini kita masih impor terus. Jadi tidak perlu lagi ditambah dengan impor cangkul yang sebenarnya bukan kebutuhan yang bersifat strategis dan bangsa ini cukup mampu kalau hanya membuat cangkul. Memalukan….!!!!

(Tulian ini sudah dimuat di harian WASPADA dengan judul yang sama, Kamis 3 November 2016)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: