Posted by: effanzulfiqar | November 16, 2016

Muhammadiyah dan Gerakan Kembali Bertani (Catatan Untuk Milad ke 104)

Dalam rapat kerja nasional, Majelis Pemberdayaan Masyarakat Pimpinan Pusat (MPM–PP) Muhammadiyah di Sleman, Yogyakarta selama tiga hari, tanggal 11-13 Maret 2016 beberapa bulan yang lalu. Telah dicanangkan “Gerakan Kembali Bertani dan Penanaman Singkong Kingkong”. Acara ini dirangkai dengan melakukan penanaman singkong jenis kingkong secara simbolis di Desa Jelol, Beji, Patuk Gunung Kidul, Yogyakarta.

Sebagaimana diketahui bahwa MPM PP Muhammadiyah merupakan majelis yang bersentuhan langsung dengan kaum mustadl’afin di basis-basis Muhamadiyah. MPM dalam aktivitas kerjanya didukung banyak pakar sebagai konsultan di bidang pertanian, peternakan, perikanan, tanah, dllnya. Para konsultan inilah yang mendampingi MPM untuk berbuat lebih banyak dalam pemberdayaan umat dan warga Muhammadiyah khususnya.

Kiprah dan peran MPM di semua tingkatan sangat penting artinya dalam memutus rantai kemiskinan. Harus diingat bahwa warga Muhammadiyah bukanlah semuanya memiliki status ekonomi yang mapan. Dan mayoritas dari mereka adalah petani sederhana yang masih memerlukan bimbingan, pendampingan dan fasilitasi sehingga mereka bisa keluar dari kemiskinan yang menjerat.

Muhammadiyah bila dilihat dari perkembangannya kini, semestinya tidak lagi semata hanya fokus di bidang pendidikan dan aktivitas sosial lainnya. Kalau boleh dikatakan gerakan di kedua bidang ini sudah cukup baik perkembangan dan kemajuannya. Faktualnya Muhammadiyah dapat dikatakan yang terbesar assetnya di Indonesia dikedua bidang ini dibandingan dengan organisasi kemasyarakatan lainnya.

Mengingat Muhammadiyah memiliki banyak Perguruan Tinggi (PT) dengan Fakultas Pertanian dan Peternakan seharusnya sudah bisa lebih memfokuskan diri untuk ikut serta menggelorakan agenda gerakan bertani kembali sebagaimana yang telah dicanangkan MPM-PP Muhammadiyah. Hemat saya gerakan ini sangat penting artinya bagi upaya peningkatakan kesejahteraan warga Muhammadiyah sendiri.

Dalam hal ini kita berharap MPM Muhammadiyah di semua tingkatan dapat melibatkan PT yang memiliki Fakultas Pertanian dan Peternakan dalam gerakan bertani kembali tersebut. Sehingga PT Muhammadiyah tidak lagi hanya sebatas berwacana dan berteori di dalam kampus. Tapi bagaimana melahirkan inovasi-inovasi baru yang memberi mamfaat kepada umat dan warga Muhammadiyah khususnya.

Terkait dengan peran PT Muhammadiyah mempunyai peran strategis bukan hanya sebagai lembaga pendidikan semata. Tetapi juga lembaga penelitian dan pengabdian masyarakat. Yang sudah pasti bisa ikut berperan dalam meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap pertanian melalui gerakan kembali bertani tentunya berkerja sama dengan MPM Muhammadiyah di semua tingkatan.

Hemat saya banyak konstribusi yang bisa diberikan PT Muhammadiyah terkait dengan gerakan kembali bertani tersebut. Diantaranya bisa memberikan konsultasi tentang penerapan teknologi pertanian dan peternakan di lapangan yang bersifat tepat guna. Demikian juga dengan memberikan pelatihan teknologi pertanian dan peteranakan yang bersifat praktis. Termasuk ikut serta memberikan pendampingan dalam penerapan teknologi pertanian dan peternakan.

Senada dengan gerakan yang dipelopori oleh MPM Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Hal yang sama juga sudah pernah dilontarkan Ketua Jaringan Saudagar Muhammadiyah (JSM) Bambang Wijanarko akan arti penting peran aktif Muhammadiyah di sektor pertanian. Menurut Bambang, potensi ekonomi pertanian Indonesia sangat luas, namun karena tiadanya kebijakan yang terintegrasi dari hulu dan hilir menjadikan manajemen pertanian di Indonesia berantakan

Menurutnya, JSM yang merupakan kumpulan para pengusaha Muhammadiyah akan terjun langsung dalam pembangunan pertanian, diantaranya adalah dengan strategi membangun kampung-kampung Agro Muhammadiyah (AgroMu) secara integratif baik penyediaan pupuk, obat-obatan, bibit yang berkualitas dan pemasaran. Bahkan lebih jauh Bambang menginginkan JSM mampu memberikan sumbangsih dan sekaligus garda terdepan dalam pembangunan pertanian di negeri ini.

Sekaitan dengan hal tersebut sudah sepatutnya dalam peringatan Milad 104 tahun Muhammadiyah yang akan diperingati tanggal 18 November ini. Muhammadiyah bisa menguatkan komitmennya untuk lebih berorientasi kepada kegiatan-kegiatan pemberdayaan ummat lewat gerakan bertani kembali melalui pendekatan yang mengintegrasikan bidang pertanian dan peternakan.

Untuk itu sangat diperlukan adanya komitmen dan kerjasama, kolaborasi, dan sinergi yang serius yang melibatkan MPM di setiap wilayah, daerah sampai ke ranting dengan PT Muhammadiyah yang memiliki Fakultas Pertanian dan Peternakan dan pihak-pihak lain yang berada di luar Muhammadiyah sendiri yang memiliki komitmen dan keperdulian terhadap pemberdayaan masyarakat di bidang pertanian dan peternakan.

Sebagaimana diketahui bahwa kebutuhan dasar utama manusia salah satunya adalah pangan. Tentunya berjihad di bidang pangan menjadi sesuatu yang sangat prinsipil dan penting bagi keberdaan organisasi Muhammdiyah yang mengusung gerakan yang berkemajuan dan mencerahkan. Artinya, berkemajuan dan mencerahkan dalam gerakan kembali bertani mulai dari tingkat lokal, regional dan nasional.

Bagaimana tidak Muhammadiyah bila mampu melakukan gerakan bertani kembali secara masal di lingkungan warga Muhammadiyah sendiri ini akan memperkuat ketanahan pangan yang sedang dalam kondisi memprihatinkan di tengah derasnya serbuan impor beras dan komoditas pertanian lainnya.

Sampai hari ini masalah ketahanan pangan tetap merupakan isu krusial di Negeri ini. Kondisi ini semakin diperparah dengan terjadinya peralihan fungsi tanah-tanah pertanian menjadi lokasi bisnis dan industri. Di samping semakin berkurangnya pekerja di sektor pertanian karena dianggap tidak menjanjikan kehidupan yag lebih baik dengan bekerja sebagai petani.

Bila kondisi ini terus berlanjut, tidak mustahil dalam 10 tahun ke depan bencana ketahanan pangan akan menjadi sebuah kenyataan pahit yang dihadapi rakyat Indonesia. Untuk itu peran Muhammadiyah menjadi sangat penting sebagaimana yang telah dicanangkan MPM-PP Muhammadiyah untuk mengelorakan dan membudayakan gerakan bertani kembali.

Tidak ada salahnya bila Muhammadiyah mampu menjadi pendorong, inisiator dan pelaku dalam gerakan bertani kembali. Demikian juga dalam merubah mind set masyarakat yang salah selama ini. Karena sudah terlanjur menilai pekerjaan sebagai petani dan bertani sebagai pekerjaan yang dianggap rendah dan tidak menjanjikan apa-apa bila dibandingan dengan sektor pekerjaan lainnya.

Bahkan menjadi petani dan bertani selalu dikonotasikan sebagai pekerjaan masyarakat marginal pedesaan yang identik dengan kemiskinan dan serba kekurangan. Padahal tidak demikian halnya bila pekerjaan tersebut benar-benar ditekuni dan dilakukan secara profesional dan modern.

Pola pemikiran yang salah dalam menilai pekerjaan petani ini juga sudah semestinya bisa dirubah dan itu bisa dilakukan Muhammadiyah bila gerakan bertani kembali mampu digelorakan dalam lingkup organisasi Muhammadiyah sendiri pada awalnya, sebelum berubah menjadi gerakan nasional yang berkemajuan dan mencerahkan.

Sebagai catatan tambahan, di beberapa MPM Pimpinan Daerah Muhammadiyah sudah melakukan launching gerakan kembali bertani. Gerakan ini disambut dengan sangat antusias oleh warga Muhammadiyah sendiri. Pertanyaaannya bagaimana dengan kita di Sumatera Utara yang mempunyai lahan pertanian yang cukup luas dan berpotensi untuk menjadikan daerah ini sebagai lumbung pertanian.

Hal lain, MPM-PP Muhammadiyah sendiri sudah menyatakan komitmen untuk mendampingi, membantu dan memfasilitasi gerakan bertani kembali yang diprakarsai oleh MPM Muhammadiyah di daerah. Disadari atau tidak gerakkan bertani kembali yang dicanangkan MPM-PP Muhammadiyah merupakan bentuk gerakan berkemajuan yang mencerahkan bagi seluruh umat dan Muhammadiyah secara khsus.

Untuk itu mari kita lebih serius dalam bertani, karena pekerjaan ini termasuk ibadah dan mulia nilainya. Di samping nantinya keberhasilan kepeloporan Muhammadiyah sendiri dalam mewujudkan ketahanan pangan akan menjadi catatan sejarah tersendiri setelah sukses dalam bidang pendidikan dan aktivitas sosial lainnya. Kita memang tetap berharap Pemerintah dalam hal ini bisa merubah orientasi kebijakan di bidang pertanian dengan kebijakan yang lebih berpihak kepada para petani.

Tentunya salah satu cara yang positif adalah dengan menutup kebijakan impor produk pertanian dengan ikut mendukung kebijakan pembangunan pertanian dengan memasyarakatkan gerakan kembali bertani sebagaimana yang telah dicanangkan MPM-PP Muhammadiyah. Selamat Milad Muhammadiyah ke 104. Maju dan jayalah untuk selamanya…

(Tulisan ini sudah dimuat di harian WASPADA, Jumat 18 Nopember 2016 dengan judul yang sama)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: