Posted by: effanzulfiqar | April 18, 2017

Antara Lulung, Ruhut dan Ahok

Nama mantan Ketua DPW PPP DKI Jakarta – Abraham Lunggana, yang lebih dikenal Haji Lulung sudah begitu terkenal. Perseteruannya dengan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang terjadi sejak tahun 2015 sampai kini semakin mendogkrak ketenaran Lulung menyaingi popularitas Ahok yang sagat kontroversial.

Perseteruannya dengan Ahok kini berbuah pahit, karena Lulung harus merasakan diceraikan partai yang sudah dibesarkannya selama ini. Sekalipun yang memecat Lulung PPP kubu Djan Faridz, orang yang dibelanya mati-matian. Sedangkan kubu Romahurmuzy sudah lama memecat Lulung, sejak ia menyeberang ke kubu Djan Faridz.

Pemecatan Lulung alasannya jelas, karena tidak mau mengikuti PPP Djan Faridz mendukung Ahok. Sebaliknya Lulung mendeklarasikan dukungannya ke Anies Baswedan – Sandiaga Uno pada putaran kedua. Sebelumnya di putaran pertama memberi dukungan pada Agus Harimurti Yudhoyono – Sylviana Murni mengikuti pilihan PPP versi Romahurmuziy.

Di putaran kedua, Lulung sepenuhnya memberikan dukungan kepada Anies-Sandi dengan alasan PPP merupakan partai berasaskan Islam. Sedangkan PPP versi Djan Faridz dan Romahurmuzy malah sebaliknya mendukung Ahok yang menistakan Agama Islam secara terbuka.

Dipecat bagi Lulung merupakan hal yang biasa saja, jauh lebih prinsipil menurutnya menyelamatkan PPP sebagai parpol yang berideologi Islam. Lulung menilai parpol berlambang Kabah ini tidak lagi menjalankan amanah ummat Islam. Padahal menurut Lulung ada satu juta lebih suara di DKI Jakarta memilh PPP dan itu menurutnya tidak pantas untuk dikhianati.

Lulung sudah dipecat dari PPP terkait dengan permasalahan pilihan yang tidak mengikuti garis partai. Kita belum tahu bagaimana nasib Lulung pasca pemecatan tersebut. Tapi bila melihat track recordnya selama ini di panggung politik lokal Jakarta. Lulung pasti diterima parpol lain dengan suka cita.

Nama lain yang juga harus mengalami nasib yang hampir sama karena melawan garis partainya dengan medukung Ahok sekalipun belum dipecat adalah Ruhut Sitompul. Ruhut sebagaimana diketahui selama ini menjadi bamper utama Partai Demokrat dan loyalis Ketua Umumnya – Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Sepak terjang Ruhut Sitompul yang pernah di Partai Golkar tidak bisa dilepaskan dari kebesaran dan keberadaan Partai Demokrat selama ini. Ia orang yang telah memberi banyak warna di Partai Demokrat dengan segala macam sikapnya yang kerap menimbulkan pro kontra di internal partai dan publik. Ruhut secara resmi sudah diberhentikan dari keanggotaannya di DPR, ia digantikan Abdul Wahab Dalimunthe.

Seperti dikatakannya Demokrat bukan partainya yang pertama tapi adalah yang terakhir dan ia tidak akan mundur sebagai anggota partai berlambang Mercy itu. Sekalipun katanya ia mendapat tawaran kiri kanan untuk menjadi kader partai lain tetap akan menolak dan akan selamanya bertahan menjadi kader Demokrat sejati.

Bagi Ruhut diberhentikan sebagai anggota DPR tidak terlalu penting, termasuk bila suatu ketika dipecat sebagai kader Partai Demokrat. Kalau dipecatpun dari Demokrat, katanya ia akan menjadi tokoh independen. Karena baginya jauh lebih penting mendukung dan memenangkan Ahok menjadi orang nomor satu di DKI Jakarta.

Berulang-ulang dalam setiap kesempatan Ruhut menyebut alasannya mundur adalah agar bisa total mendukung Ahok yang sejak putaran pertama tidak didukung Partai Demokrat. Bahkan kita ingat dulu pada saat Pilpres, Demokrat yang mendukung Prabowo. Ruhut sendiri malah memilih untuk mendukung Jokowi. Jadi sikapnya mendukung Ahok lebih pada alasan yang bersifat personil dan prinsipil semata.

Lulung dan Ruhut merupakan personifikasi dua sosok yang sangat paradoksal, dimana satu kontra dan satu lagi pro terhadap Ahok. Bagi mereka berdua dipecat bukan sesuatu yang menakutkan, tapi prinsip dan idealisme mereka jauh lebih penting dari segala-galanya. Konsistensi tidak mendukung dan mendukung orang yang seakidah (se-Agama) bagi mereka berdua adalah harga mati yang tak bisa ditawar dengan apapun.

Lulung menjadi simbolistik seorang Muslim yang konsisten berprinsip dan menjaga marwah agamanya sekalipun harus didepak. Konsistensi melawan orang yang tidak seaqidah, apalagi yang menistakan agaman adalah harga mati yang harus ditegakkan di tengah-tengahnya ramaimya ummat Islam bersikap munafik mendukung Ahok sekalipun agama melarangnya dengan tegas.

Di sisi lain Ruhut juga menjadi simbolistik umat Kristiani bagaimana berprinsip total mendukung orang yang seiman dengannya – meskipun harus dilengserkan dari DPR. Bagi Ruhut membela dan mendukung Ahok juga merupakan harga mati karena itu yang diperintahkan di mimbar Gereja. Kepatuhan kepada perintah Gereja merupakan kewajiban yang harus ditaati apapun resikonya.

Sebaliknya faktor Ahok menjadi penyebab terjadinya pemecetan terhadap Lulung dan pelengseran Ruhut dari Senayan. Ahok memang orang sangat fenomenal sejak pencalonannya menjadi orang nomor 1 di DKI. Awalnya berniat lewat jalur independen dengan dukungan 1 juta KTP, tapi tiba-tiba mengubah haluan dengan mencalon lewat partai politik.

Sempat dicemooah beberapa petinggi parpol termasuk PDI-P yang kini menjadi pendukung utama Ahok karena memilih jalur independen pada mulanya. Ahok kemudian menjilat ludahnya sendiri dan maju menjadi calon Gubernur dengan dukungan parpol penguasa dan lima parpol lainnya dan tidak lewat jalur independen lagi.

Ahok merasa hebat karena mendapat dukungan dari parpol penguasa utamanya dan beberapa parpol lainnya yang dulu disebutnya sebagai sarang maling dan rampok APBD. Ahok makin berani bermanuver yang kerap menimbulkan polemik panjang. Keberanian ini kemudian dibuktikannya dengan melakukan penistaan terhadap agama Islam terkait dengan ucapannya yang menafsirkan sendiri surat Al-Maidah ayat 51.

Pasca ucapan yang dilontarkannya di Kepulaun Seribu, Ahok memang menjadi orang yang sangat luar biasa – Ia seolah seperti “above of law”. Setelah tiga kali gelombang unjuk rasa jutaan ummat Muslim di seantero Nusantara baru Polisi menjadikan Ahok sebagai tersangka. Bahkan setelah menyandang status sebagai tersangka dan kemudian menjadi terdakwa – Mendagri sendiri tidak berani menonaktifkannya sebagai Gubernur dengan berbagai dalih.

Setelah melalui waktu sidang yang panjang, seharusnya tanggal 11 April adalah pembacaan tuntutan oleh JPU sesuai dengan jadwal. Ternyata pembacaan tutuntan dibatalkan menjadi tanggal 21 April selepas Pilkada 19 April. Alasannya tidak masuk akal, karena JPU belum selesai mengetik tuntutan. Kabar angin yang beredar penundaan pembacaan tuntutan, dikuatirkan elektabilitas Ahok jatuh. Maka pilihannya harus ditunda dengan berbagai macam alasan.

Seperti ada tangan-tangan tak terlihat menjadi sutradara di balik renteten peristiwa yang mengiring perjalanan Ahok sejak menjadi calon Gubernur. Entah siapa lagi yang akan menjadi korban karena faktor mendukung Ahok setelah Lulung dan Ruhut menjadi korbannya, ada juga Buni Yani yang kini menunggu agenda sidang.

Efek Ahok telah menimbulkan keterpecahan di dalam masyarakat, sesama saudara harus berkonflik karena pilihan yang berbeda. Ruang publik dan media sosial diwarnai sikap saling curiga, fitnah, caci maki, umpatan dan hoax yang luar biasa ramainya. Media massa juga terbelah menjadi alat propaganda, bahkan menebarkan kebohongan yang menyulut kebencian antara yang kontra dan pro.

PPP sendiri kini sudah berada di pintu perpecahan setelah sebelumnya terbelah menjadi dua kubu. Kini PPP sedang menghadapi masalah internal baru dengan eksodusnya beberapa pengurus dan kader PPP di beberapa daerah baik yang berasal dari kubu Djan Faridz maupun Romahurmuziy.

Pasca dukungan ke Ahok dua kubu yang selama ini berseteru berpeluang berdamai kembali setelah hampir dua tahun lebih berkonflik. Faktor Ahok telah memberi nilai positif bagi PPP untuk bersatu kembali, sekalipun harus menerima kenyataan pahit ditinggalkan pendukungnya di akar rumput. Ini akan mempengaruhi terhadap perolehan suara PPP di Pemilu 2018.

Hasil survey yang diliris Lingkaran Survey Indonesia, Median, Polmark Indonesia dan Indikator Politik Indonesia, menempatkan pasangan Anies – Sandi lebih unggul dari pasangan Ahok – Djarot. Tapi itu belum bisa dijadikan sebagai pegangan. Harus diingat yang dihadapi bukan Ahok dan Djarot secara personal tapi kekuatan oligarkhi para pemilik modal kuat yang punya kepentingan besar di Jakarta.

Bisa kita lihat kekuatan oligarkhi tersebut dalam wujud tangan-tangan yang tidak terlihat secara nyata sukses mengkooptasi lembaga legislatif, eksekutif bahkan judikatif yang katanya tidak boleh diintervensi kekuatan apapun termasuk penguasa tapi ternyata bisa dilumpuhkan.

Demikian juga dengan parpol, LSM, media massa, ormas dan ulama juga dipecah belah, diadu domba bahkan dikotak-kotakan degan sangat mudah oleh kekuatan oligarkhi. KPK yang dianggap lembaga yang paling tidak ramah dengan kasus korupsi ternyata jadi singa ompong ketika berhadapan dengan seorang Ahok.

Kita memang tidak tahu apakah tanggal 19 April ini akan bangkit kesadaran mereka yang mengaku Islam sebagaimana Lulung yang dengan tegas menunjukkan jati dirinya hanya mendukung pemimpin Muslim sekalipun harus menerima resiko pemecatan dari partainya. Ataukah sebaliknya mengaku Muslim tapi sama dengan Ruhut – mendukung secara total Ahok karena seiman dan Gereja memerintahkan untuk itu.

Bila Muslim yang ada di DKI tetap tidak solid dalam menyamakan pilihannya dan masih lebih banyak yang golput, maka siap-siaplah untuk lima tahun ke depan dalam genggaman kekuatan oligarkhi dan pemilik modal besar yag dalam jangka panjang akan berdampai buruk terhadap kehidupan rakyat dan bangsa ini secara Nasional.

Tanggal 19 April ini menjadi pembuktian, siapa sesungguhnya yang berjaya, apakah mereka yang Islamnya istiqomah seperti Lulung atau sebaliknya. Disadari memang kalaupun hasil beberapa lembaga survey mengunggulkan Anies – Sandi, itu belum bisa dijadikan pegangan pasangan ini yang akan menang. Belajar dari Pilkada DKI lima tahun lalu, hasil survey yang diunggullkan Fauziew Bawo, ternyata yang menang Jokowi – Ahok. Pertanyaannya apakah sejarah akan berulang kembali atau sebaliknya rakyat Jakarta lebih suka untuk memilih pemimpin yang baru?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: