Posted by: effanzulfiqar | September 27, 2017

Dilema Golkar di Pilgubsu 2018

Rapat Pimpinan Daerah (Rapimda) DPD Partai Golkar Sumut pada awalnya (16 Mei 2017) telah memutuskan secara bulat mendukung kadernya, Ngogesa Sitepu maju sebagai bakal calon gubernur di Pilgubsu 2018. Keputusan tersebut memang belum final karena keputusan Rapimda masih diproses di DPP Partai Golkar sesuai mekanisme partai.

Keputusan Rapimda menetapkan Ngogesa Sitepu sebagai calon Gubernur Sumut (Gubsu) menurut Sekretaris DPD Partai Golkar Sumut, Irham Buana saat penutupan Rapimda merupakan aspirasi dan pendapat  pimpinan DPD Partai Golkat Tingkat I dan II. Senada dengan Irham,   Ketua Harian DPP Partai Golkar Nurdin Halid menyebut kader Golkar Sumut harus punya keinginan kuat untuk jadi Gubsu. Menurutnya tidak ada alasan DPP Golkar untuk tidak memilih Ngogesa Sitepu.

Sedangakan Ngogesa Sitepu dengan rendah hati  mengatakan, meskipun dirinya sudah mendapat dukungan dari DPD Tingkat I dan II. Ia akan tetap mengikuti mekanisme penjaringan calon kepala daerah yang ada di Golkar. Dia berharap aspirasi kader Golkar Sumut bisa didengar pimpinan DPP Golkar dengan  merekomendasikannya untuk maju sebagai calon gubernur di Pilgubsu 2018.

Tiga bulan setelah hasil Rapimda disampaikan ke DPP  Partai Golkar, ternyata   DPP Partai Golkar mengusung pasangan Tengku Erry Nuradi-Ngogesa Sitepu sebagai calon gubernur dan wakil gubernur di Pilgubsu 2018. Sebagaimana ditetapkan DPP Partai Golkar dalam suratnya bertanggal  21 Agustus 2017 dengan No. R-452/GOLKAR/VII/2-17 yang ditandatangani Ketua DPP Partai Golkar Setya Novanto dan Sekjen Idrus Marham.

Dukungan DPP Partai Golkar tersebut kepada Erry seperti disebutkan Irham Buana karena tingkat elektabilitas dan popularitas sebagai petahana lebih tinggi dibandingkan dengan kader sendiri, Ngogesa. Kalaupun akhirnya Ngogesa mendapat jatah sebagai wakil calon Gubsu, Irham mengklaim, keputusan mendukung Erry -Ngogesa diterima dengan baik semua kader Golkar Sumut dan putusan DPP sudah objektif menurutnya. Disamping itu menurut Irham, Partai Golkar sadar tak ingin “kalah” lagi seperti di Pilgubsu sebelumnya (2008 dan 2013).

Surat DPP Partai Golkar tersebut menginstruksikan  juga kepada seluruh Ketua DPD Golkar di Sumut untuk menindak lanjutinya sesuai ketentuan organisasi. Pengurus diminta mendaftarkan pasangan calon Erry-Ngogesa ke KPU  sesuai jadwal. Putusan yang ditetapkan DPP Partai Golkar bersifat final dan mengikat bagi seluruh jajaran pengurus, fungsionaris, kader dan anggota Partai Golkar dan  bagi kader yang tidak melaksanakaan akan diberi sanksi organisasi.

Trauma Pilgubsu 2008 dan 2013

Kekalahan beruntun yang harus dirasakan Partai Golkar di Pilgubsu 2008 dan 2013 tentunya menjadi  mimpi buruk. Ini mungkin yang membuat DPP Partai Golkar merasa lebih realistis bila mengalihkan dukungan ke Erry sebagai calon Gubsu dari pada Ngogesa sekalipun kaderya sendiri. Tingkat elektabilitas Erry faktualnya memang jauh lebih tinggi sebagai incumbent dibandingkan dengan Ngogesa. Ini mungkin yang dimaksudkan Irham dengan keputusan yang objektif tersebut.

Erry juga sudah terlebih dahulu mendapat dukungan menjadi calon Gubsu dari  PKPI  dan PKB dengan jumlah kursi 6 ditambah dengan dukungan Partai Golkar yang memiliki 17 kursi dan Nasdem 5 kursi sudah lebih dari cukup dukungannya. Bahkan informasi yang berhembus belakangan,  Hanura dengan jumlah kursi 10 dan PDIP sebanyak 16 kursi  juga akan merapat dalam koalisi dukungan untuk“Paten”.

Bila kita kembali merunut ke belakang pada Pilkada 2008 Partai Golkar kalah melawan kadernya sendiri Syamsul Arifin yang tidak didukungnya. Karena DPP Partai Golkar pada waktu lebih menginginkan yang maju menjadi calon Gubsu adalah Ali Umri bukan Syamsul Arifin atau kader karatanya Abdul Wahab Dalimunthe yang belakangan menyeberang ke Partai Demokrat.

Syamsul Arifin dan Abdul Wahab Dalimunthe kemudian dipecat DPP Partai Golkar karena dianggap tidak taat pada kebijakan partai beringin tersebut. Syamsul Arifin jauh lebih beruntung setelah terpilih jadi Gubernur dengan wakilnya Gatot Pujo Nugroho dengan menompang perahu PKS dan PPP. Ia kemudian didaulat secara aklamasi menjadi Ketua DPP Partai Golkar priode 2009-2014 di Musda VIII menggantikan Ali Umri. Sementara Ali Umri yang hanya menempati posisi ketiga di Pilgubsu 2008, pasca Musda Partai Golkar ke VIII keluar dari Partai Golkar dan berlabuh di Partai Nasdem.

Keberuntungan sepertinya tidak berpihak kepada Syamsul Arifin, karena tahun 2010 ditetapkan KPK menjadi tersangka korupsi sewaktu menjabat Bupati Langkat. Sedangkan  jabatannya sebagai gubernur terpaksa dicopot setelah ia berstatus tersangka dan karier politiknya juga berakhir. Kalaupun dikabarkan di Pilgubsu 2018 ia masih mencoba kembali keberuntungannya sebagaimana di Pilgubsu 2009 menjadi kuda hitam dan menang.

Di Pigubsu 2013 Partai Golkar kembali mengadu untung dengan mengusung kadernya sendiri Chairuman Harahap yang berpasangan dengan kader PPP Fadly Nurzal Pohan.  Partai Golkar waktu itu merasa sangat yakin koalisinya dengan PPP akan menang setelah kalah telak di Pilgubsu 2008. Hasilnya sangat mengecewakan Partai Golkar, karena yang menang adalah Gatot Pujo Nugroho yang berpasangan dengan kader Partai Golkar sendiri,Tengku Erry Nuradi yang diusung koalisi PKS, Hanura PBR dan Parpol non kursi. Setelah menang dalam Pilgubsu Erry sebagai kader Golkar hengkang ke Partai Nasdem dan menjadi Ketuanya.

Dengan mengusung Erry yang dulu kadernya, merupakan pilihan yang sangat dilematis bagi Partai Golkar. Dua kali menelan pil pahit kalah di Pilgubsu merupakan mimpi buruk bagi partai berlambang beringin ini untuk tidah kalah lagi ketiga kalinya. Maka pilihan untuk menjadikan kadernya Ngogesa. hanya sebagai calon wakil  Gubsu dianggap DPP Partai Golkar sebagai pilihan paling rasional, meskipun memiliki  kursi terbanyak di DPRD dibandingkan Partai Nasdem.

Bila ingin menang di Pilgubsu 2018 hanya itu pilihan Partai Golkar memang, karena bila memaksakan diri head to head peluang menang sangat tipis bagi Ngogeso berhadapan dengan Erry. Partai Golkar sepertinya ingin lebih realistis dan tidak mau lagi untung-untungan sebagaimana dalam dua Pilgubsu sebelumnya.

Hal lain yang menjadi pertimbangan Partai Golkar sepertinya merelakan kadernya hanya menjadi calon wakil Gubsu karena sejak awal sudah berkomitmen mencalonkan kembali Joko Widodo di Pilpres 2019.  Tentunya harus konsisten mempertahankan koalisi yang dibangunnya bersama dengan partai politik pendukung pemerintah. Di samping berharap setidaknya bisa memajukan kadernya kembali untuk mendapatkan  kursi wakil Presiden di Pilpres 2019 nanti.

Golkar sebagaimana diketahui dua kali mengalami kekalahan dalam  Pilpres dengan dua calon presiden yang berbeda. Dalam Pilpres 2004 Wiranto yang berpasangan dengan Salahuddin Wahid yang didukung Partai Golkar kalah telak dari pasangan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kallah waktu itu. Demikian juga dalam Pilpres 2009 Jusuf Kalah yang berpasangan dengan Wiranto juga kembali kalah dari pasangan Susilo Bambang Yudhoyono dan Beodiono.

Tentunya Partai Golkar berharap sukses di Pilgubsu 2018 ini mempunyai arti penting bagi eksistensinya dalam mendukung kemenangan koalisi pedukung pemerintah di Pilpres 2019 nanti. Disamping sebagai upaya mempertahankan keberlajutan koalisi dukungan terhadap pemerintah Joko Widodo untuk menduduki jabatan kedua kalinya Presiden RI.

Kita tunggu saja, apakah semua partai politik koalisi pendukung pemerintah akan merapatkan barisan mendukung pasangan Erry-Ngogesa sebagaimana di Pilkada DKI Jakarta. Atau sebaliknya akan terjadi tarik menarik kepentingan di antara parpol pendukung pemerintah dalam Pilgubsu 2018 ?

(Tulisan ini sudah dimuat di Harian WASPADA – Medan Rabu, 30 Agustus 2017 dengan judul “Dilema (Realistis) Golkar Sumut”)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: