Posted by: effanzulfiqar | October 16, 2017

Habis Afi Muncul Dwi

Masih ingat Asa Firda Inayah (Afi) yang sempat menghentak jagad dunia maya dan dunia nyata karena dianggap sebagai gadis yang luar biasa cerdas dan kritis. Afi yang anggap punya kelebihan itu sudah diundang banyak pihak dan diwawancarai beberapa media nasional dan viral beritanya berbulan-bulan di media sosial. Bahkan Afi sempat berbicara di depan para profesor di salah satu kampus bergengsi di negeri ini.

Afi juga bertemu dengan sejumlah menteri yang begitu salut dengan kehebatannya. Ia juga diundang parpol untuk memberi ceramah soal kebhinekaan.  Tercetus juga usulan untuk menjadikan Afi sebagai Duta Pancasila oleh salah satu ketua parpol. Dan puncaknya Afi mendapatkan kehormatan diundang Presiden ke Istana Merdeka dalam peringatan hari Kelahiran Pancasila. Afi kemudian disanjung banyak pihak.

Prestasi hebatnya ia dianggap kritis, cerdas dan mengerti betul soal kemajemukan bangsa ini yang kerap menjadi polemik berkepanjangan, lewat tulisan berjudul “Belas Kasih Dalam Agama Kita” yang dimuat di Facebook miliknya. Sayangnya,  belakangan ketahuan ternyata tulisan tersebut hasil copy paste dari tulisan Mita Handayani. Afi bukan penulisnya tapi melakukan plagiarisme sebagaimana pengakuannya sendiri.

Popularitas Afi yang tiba-tiba mencuat dalam pentas nasional tidak terjadi begitu saja. Media massa berperan besar dalam memblow up dan mencitapkan framing yang luar biasa hebatnya terhadap sosok Afi yang dianggap cerdas dan kritis. Publikpun terlanjur dinina bobokan dengan kebohongan yang dikemas dengan sangat baik oleh beberapa media lewat pemberitaan dan tayangan yang terus menerus.

Kini Afi sudah hilang dari panggung nasional dan tidak pernah lagi terdegar beritanya. Setelah kasus Afi terkuak ke publik dengan kebohongan dan plagiarisme yang dilakukannya muncul pula nama Dwi Hartanto yang sudah terlanjur dilebeli media sebagai “the next Habibie”. Dwi disebut-sebut punya kecerdasan yang menyamai Habibie dengan bukti segudang prestasi spektakuler yang sudah mendunia yang telah diraihnya dibidang teknologi kedirgantaraan dan pertahanan.

Tapi ternyata semua hanya kebohongan yang dikemas sedemikian rupa dengan bantuan media dan upaya sengaja dari Dwi Hartanto sendiri mengklaim prestasinya dan menyajikan kebohongan demi kebohongan lewat akun face book yang dimilikinya lebih dari 2 tahun lamanya. Semua informasi yang terkait dengan prestasi hebatnya yang dimuat di face book miliknya hanya bohong belaka seperti pengakuannya.

Faktanya, Dwi Hartanto tidaklah sehebat yang selama ini terlanjur dilebelkan kepadanya sebagai orang jenius dengan prestasi hebat yang mendunia dan punya lima jenis hak paten. Pengakuan Dwi seperti yang dikutip dan diberitakan media merupakan akumulasi kebohongan yang diciptakannya dengan sangat rapi, padahal semuanya tak lebih dari ilusinya. Dwi selama dua tahun lebih sukses menyembunyikan kebohongan tersebut dengan sangat rapi tanpa tercium publik.

Fenomena Dwi hampir mirip dengan Afi. Keduanya terlajur diekpos berlebihan dan diframing secara terencana dan massif berbagai media sebagai orang-orang hebat punya talenta yang tidak dimiliki anak-anak muda seumuran mereka. Kini terkuak sudah kebohongan dan kepalsuan yang membalut kehebatan Dwi sebagaimana halnya Afi. Keduanya ternyata sama perilakunya. Apa yang terpublikasi selama ini sarat dengan kebohongan dan kepalsuan semata.

Afi melakukan plagiarisme dan Dwi mengumbar kebohongan demi kebohongan yang dalam bahasa psikologis disebut mythomania yakni  perilaku menyimpang dalam bentuk kebohongan patologis yang tidak dimaksudkan pelakunya untuk menipu atau mengelabui orang. Justru sebaliknya semata untuk membantu dirinya sendiri untuk mempercayai dan menyakini kebohongannya sendiri.

Keduanya  tanpa pernah merasa bersalah, setelah publik mengungkapkan perilaku buruk plagiarisme dan pengakuan bohong atas prestasi yang tak pernah diraih. Baru keduanya sadar dan buru-buru minta maaf, mengaku khilaf dan tidak berniat buruk dengan apa yang telah lakukan. Begitu mudahnya mereka minta maaf dan mengakuai kesalahannya setelah sempat menikmati kebohongan yang mereka ciptakan sendiri.

Sejatinya memang masyarakat kita sedang rindu akan  sosok anak-anak muda hebat dengan prestasi yang gemilang,  kritis, cerdas dan inovatif. Termasuk rindu akan orang-orang muda yang bisa dijadikan contoh teladan dalam menyemaikan nilai-nilai kebaikan serta kepeloporan dan memberikan inspirasi bagi jutaan kaum muda Indonesia lainnya untuk maju dengan prestasi masing-masing.

Tapi sayang seribu kali sayang, sekali lagi  media justru terkelabui oleh orang-orang muda yang begitu lihai memainkan peran dramaturgi mengutip sosiolog Amerika Erving Goffman. Dengan bantuan blow up dan framing media yang alpa melakukan klarifikasi dan cross cek kebenaran berita yang disugukan kepada publik. Maka, tiba-tiba jadilah mereka berdua orang-orang hebat dengan prestasi yang dianggap hebat pula.

Lucunya, mereka berdua juga terlena menikmati popularitasnya sendiri dan publik juga seperti terhipnotis oleh kelihaian mereka memperdaya publik dengan memproduksi kebohongan dan kepalsuan di tengah-tengah langkanya orang-orang muda yang bisa jadi teladan yang mengisnpirasi di negeri ini. Senyatanya memang publik juga menikmati itu semua sebagai sesuatu yang dianggap luar biasa.

Sejalan dengan nikmat popularitas yang diraih dengan cara instant tanpa harus banjir keringat dan air mata. Ternyata ada pihak lain yang menelusuri jejak rekam mereka untuk membuktikan benar tidaknya capaian prestasi dan talenta yang mereka miliki. Hasilnya membuat kita semua terpelongo karena terbukti tidak sebagaimana yang digambarkan selama ini oleh media dan masyarakat yang sudah terlanjur mempercayai mereka.

Apa mau dikata, itu sudah merupakan resiko ketika sesuatu prestasi yang didapat bukan melalui jalan yang benar – tapi lewat kebohongan dan kepalsuan yang dikemas dalam berbagai macam kedigjayaan. Akhir cerita dari apa yang telah disemai sudah pasti hanya menuai kehinaan berupa sanksi sosial yang jauh lebih menyakitkan dari pada menerima sanksi hukum positif dan Afi sudah menerima itu kini giliran Dwi juga akan merasakannya.

Sepenuhnya tidak bermaksud menyalahkan mereka berdua, apalagi menghukumnya. Karena sesungguhnya apa yang mereka lakukan boleh jadi belajar dari para senior-seniornya – para pemimpin kita yang sudah lebih dahulu mempraktikan pola-pola semacam itu untuk meraih kedudukan dan kekuasaan. Tentunya dengan bantuan plus dukungan  media secara terencana, tersturuktur, sistematis dan masif dengan cara memblouw up dan melakukan framing.

Dan ini  terbukti efektif dan ampuh menarik simpati publik sehingga tidak bisa membedakan mana hasil rekayasa plus kepalsuan dan mana yang tidak. Publik tiba-tiba menjadi buta dan menikmati sajian fatamorgana itu dengan suka cita. Fakta itu terjadi di depan kita hari ini dan mungkin di hari-hari berikutnya kita akan disajikan produksi dan reproduksi kebohongan dan kepalsuan yang sudah menjadi mainstream bagi media-media tertentu belakangan ini. Ternyata kita juga menikmati sajian itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: